S.H.E (Wanita Yang Kubeli)

S.H.E (Wanita Yang Kubeli)
#107


__ADS_3

Lucy membaringkan tubuhnya di atas kasur sambil mencoba memejamkan matanya, kata-kata Leon dan Luna terngiang-ngiang di benaknya dan selalu melintas. Ia belum mengganti pakaiannya dan juga membasuh wajahnya, ini tidak seperti biasanya yang dia lakukan. Nampak di wajahnya rasa lelah menggerogoti tubuhnya hari ini, bukan karena pekerjaan melainkan karena pikirannya akan hubungannya dengan Andre.


"Ahh ini tidak baik, lebih baik aku mandi dan menenangkan pikiran ku. Besok setelah Andre masuk kerja aku akan membahas masalah ini." gumam Lucy.


Ia bangkit dari tidurnya dan segera bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Cara seperti ini benar-benar ampuh bagi Lucy untuk menghilangkan sedikit penat di tubuhnya dan merilekskan pikirannya. Setelah selesai mandi ia segera mengeringkan rambut dan mengenakan baju tidurnya. Ia naik ke atas kasur dan melihat-lihat ponsel, dari pesan-pesan yang ia kirim sedari siang tadi belum ada satupun yang di balas oleh Andre. Sepertinya Andre benar-benar menikmati berlibur bersama keluarga dan calon istrinya itu. Lucy menutup ponselnya dan meletakannya di atas bufet yang ada di samping tempat tidurnya.


Ia berniat untuk tidur dan melupakan masalahnya hari ini, namun tiba-tiba matanya tertuju ke sebuah buku yang sudah cukup lama tidak ia sentuh maupun ia buka. Buku itu tak lain adalah sebuah Alkitab, ia meraih Alkitab itu dan membacanya dengan seksama. Cukup lama ia membaca Alkitab dan lagi-lagi ia di sadarkan dengan sebuah kalimat yang membuat hatinya tertusuk


Korintus 6:14-15

__ADS_1


"Kamu boleh mencintainya tapi jangan ambil dia dari Tuhannya"


Air mata Lucy berderai hebat setelah membaca itu, ia benar-benar merasakan sesak di dadanya dan sulit baginya untuk menerima itu semua. Ia menangis sampai-sampai kelelahan dan tertidur pulas sambil memeluk Alkitab di tangannya.


____________________


Andre, ibu dan adiknya telah tiba di rumah, dengan semangat ibu Andre mencari-cari Ratih untuk memperlihatkan apa saja yang sudah ia beli untuk dirinya dan juga untuk calon menantunya itu. Ia benar-benar tak sabar untuk bercerita panjang lebar dengan gadis muda itu.


Mendengar hal itu Ratih langsung keluar dari kamarnya dan mendekati ibu Andre yang sudah di penuhi oleh tumpukan paper bag belanjaan. Wajah Ratih sumringah melihat belanjaan yang di beli oleh ibunya.

__ADS_1


"Wah ibu benar-benar menikmati liburan kali ini, sampai-sampai ibu berbelanja sendiri tanpa ku." ucap Ratih yang kini duduk di hadapan ibu Andre.


"Aku juga membelikan beberapa barang untuk mu, kau bisa melihatnya dan memilihnya sendiri. Ambil saja yang kau suka, aku yakin selera kita tidak akan jauh berbeda." ucap ibu Andre yakin.


Dengan cepat Ratih membuka-buka paper bag belanjaan ibu Andre dan mengacak-acak semuanya. Tak heran yang di beli oleh ibu Andre hampir semuanya adalah barang-barang bermerek dan yang pastinya mahal.


"Wah, sepertinya ibu habis merampok Andre habis-habisan ya. Semua yang ibu beli tidak ada barang yang murah." ucap Ratih takjub.


"Aku harus memuaskan diri ku sebelum anak ku itu menjadi suami mu, kalau sudah punya istri mana bisa membelikan ibu barang-barang seperti ini sesuka hatinya. Dan aku pun sebagai ibu mertua tidak akan berani mengganggu keuangan rumah tangga anak ku." jelas ibu Andre sambil tersenyum.

__ADS_1


"Ahh ibu benar-benar calon mertua yang baik dan sangat pengertian." ucap Ratih memuji.


"Sudah, ayo kita lanjutkan membukanya. Aku juga ingin lihat apa saja yang sudah ku beli tadi." ucap ibu Andre bersemangat.


__ADS_2