
Andre mengantar Lucy pulang ke apartemennya dan sekalian mampir ke sana, Lucy yang sedari tadi diam mulai mencoba membuka suara untuk berbicara pada Andre. Namun sebelumnya ia membuatkan Andre secangkir kopi dan meletakan cemilan di atas meja sambil menghidupkan TV.
"Apa pekerjaan mu menumpuk hari ini?" tanya Lucy basa-basi.
Andre menatap wajah Lucy dengan pandangan serius membuat Lucy sedikit gugup di pandangi oleh pria tampan yang berstatus kekasihnya itu.
"Apa kau cemburu pada ku?" tanya Andre tiba-tiba.
"K-kenapa kamu menanyakan itu kepada ku? Aku hanya menanyakan pekerjaan mu saja tadi, tidak ada hubungannya dengan cemburu." ucap Lucy gugup.
Wajah Andre tiba-tiba mendekat ke arah Lucy, semakin lama semakin mendekat membuat jantung Lucy berdegup kencang dan ia pun memejamkan matanya. Tiba-tiba sebuah kecupan ringan mendarat di kening Lucy yang tertutup poni tipis.
"Apa kau berharap lebih dari ku?" tanya Andre menggoda.
"Berhenti menggoda ku, aku benar-benar kesal melihat mu hari ini mas." ucap Lucy yang mulai menunjukan wajah cemburunya.
"Berhenti berpikir yang tidak-tidak, kau tau betul bagaimana aku. Aku tidak mungkin menggoda sahabat mu itu, di perusahaan itu bahkan banyak yang jauh lebih cantik di bandingkan dirinya jika aku mau." ucap Andre santai.
Mendengar ucapan yang keluar dari mulut Andre Lucy semakin kesal, bagaimana mungkin Andre bisa berbicara seperti itu kepadanya dengan mudah dan tanpa beban sedikit pun.
"K-Kau benar-benar kejam, bisa-bisanya..." ucap Lucy terputus karena kesal.
"Aku berbicara yang sebenarnya, tapi buktinya aku hanya memandang mu. Dan juga itu alasan kenapa aku membawa mu ke ruangan ku." ucap Andre.
"Aku benar-benar lelah mempunyai kekasih yang tampan dan sekaligus seorang bos besar." ucap Lucy frustasi.
Andre tertawa mendengar ucapan Lucy, ia yakin kini Lucy semakin menyadari jika di sekelilingnya sangat banyak wanita yang mengagumi kekasihnya ini.
"Maka dari itu, kau harus ekstra hati-hati untuk menjaga kekasih mu ini. Aku tidak bisa menyalahkan mereka yang menggoda ku hampir setiap hari." ucap Andre menyeringai.
Lucy mendekatkan tubuhnya ke Andre membuat Andre tersudut di ujung sofa, ia naik ke atas pangkuan Andre sambil memegang ke dua pipi Andre.
__ADS_1
"Mas, kamu harus lebih berhati-hati dalam melangkah jika tidak ingin sesuatu terjadi di antara kamu atau wanita yang menggoda mu itu." ucap Lucy mengancam.
"Apa kau kini berani mengancam ku?" tanya Andre penasaran.
"Ini bukan hanya sebuah ancaman, tapi ini juga peringatan bahwa kau hanya milikku seorang." ucap Lucy.
Andre tertawa terbahak-bahak mendengar ucapan Lucy dan mendorong tubuh kekasihnya itu dengan lembut. Ia meletakan tubuh Lucy tepat di sampingnya dan menatapnya dengan penuh kasih sayang.
"Kau tidak perlu melakukan apapun karena tanpa kau sadar aku sudah melakukan semuanya untuk mu. Kau cukup diam dan nikmati kehidupan mu, berteman dengan orang-orang yang tepat dan gunakan otak kecil mu ini untuk memilah mana yang baik dan yang bukan." ucap Andre menasehati.
"Maksud mu? Kamu tau kalau Carlo berniat mendekati mu?" tanya Lucy penasaran.
"Sudah ku bilang, bukan hanya dia yabg punya inisiatif seperti itu kepadaku. Jadi, tidak perlu kau bertindak terlalu jauh, aku tidak ingin membahayakan dirimu ok." ucap Andre menasehati.
"Tapi mau bagaimanapun Carlo tetaplah sahabat ku, kami selalu berbagi bersama sejak dulu. Aku benar-benar tidak menyangka jika dia menargetkan diri mu untuk mendapatkan perhatian dari mu mas." ucap Lucy dengan mimik kecewa.
"Sudah ku katakan bukan, kau masih bisa berteman dengannya dan menganggapnya seperti biasa tapi kau harus lebih berhati-hati mulai sekarang." ucap Andre.
"Rasa cemburu mu sangat kuat ternyata, bisa-bisa semua orang yang datang mendekati ku nantinya akan terkena imbasnya." ucap Andre meledek.
"Bagaimana tidak, orang-orang yang berdiri di samping mu rata-rata mereka yang memiliki kemampuan dan berlatarbelakang dari keluarga yang baik juga. Aku tidak ada apa-apanya di bandingkan dengan mereka." ucap Lucy menunduk lesu.
"Cukup tempatkan diri mu di mana kau seharusnya berada dan nikmati hidup mu, jangan memikirkan orang lain yang tidak dapat kau jangkau. Jadi, kau harus membuktikan kepada mereka jika kau lebih layak berada di sisi ku." ucap Andre.
Andre memeluk tubuh Lucy dengan mesra dan mencoba meyakinkan kekasihnya yang tidak percaya diri itu. Ia yakin lambat laun Lucy akan terbiasa dan lebih dapat melihat posisinya sekarang.
"Baiklah kalau begitu aku pulang dulu, kau harus istirahat lebih cepat." ucap Andre melepaskan pelukannya.
"Apa kamu sudah akan pulang? Aku bahkan belum memasarkan makan malam untuk mu." ucap Lucy.
"Aku akan membelinya saat jalan pulang nanti, apa kau juga mau? Aku akan mengirimkannya lewat kurir nanti." ucap Andre berdiri dari duduknya.
__ADS_1
"Baiklah kalau begitu, kamu hati-hati di jalan dan hubungi aku jika sudah sampai ok." ucap Lucy.
Lucy mengantar Andre ke depan pintu, dengan sedikit ragu ia melepaskan genggamannya di lengan Andre dan membiarkan Andre pulang.
"Ahh sial, aku masih merindukan mu." rengek Lucy.
Andre tersenyum lembut ke arah Lucy sambil menggosok kepala kekasihnya lalu mengecupnya lembut.
"Aku akan memesan tiket bioskop dan taman bermain untuk Minggu besok, bagaimana menurut mu?" tanya Andre.
"Benarkah? Apa kita akan pergi ke sana?" tanya Lucy tak percaya.
"Tentu, kau bisa mengajak teman-teman mu juga jika kau mau." ucap Andre lagi.
"Benarkah? Aku benar-benar senang sekarang. Kau harus berjanji dan tidak akan membatalkannya ok." ucap Lucy kegirangan.
Andre mengangguk mengiyakan ucapan Lucy.
"Baiklah kalau begitu aku pulang dulu, kau mau makan apa? Biar nanti aku belikan." ucap Andre
"Terserahlah, yang penting enak dan banyak." ucap Lucy sambil menyeringai.
"Aku benar-benar memelihara seekor kucing gembul ternyata." ucap Andre kembali menggosok-gosok kepala Lucy.
Lucy menepis tangan Andre dari atas kepalanya dengan wajah cemberut.
"Rambut ku akan rusak jika kamu terus-menerus mengacak-acaknya." ucap Lucy.
Andre menghentikan dan menarik tangannya, ia tersenyum dan berjalan mundur sambil menatap wajah kekasihnya itu yang semakin lama semakin menjauh. Lucy yang masih berdiri di depan pintu tersenyum lebar sambil melambaikan tangannya ke arah Andre.
Saat di lobby Andre tidak sengaja berpapasan dengan Boris yang tak lain adalah ayah dari Lucy, ia menghentikan langkahnya dan kini berdiri tepat di hadapan Boris. Boris yang tidak menyadari jika anak muda yang menghalangi jalannya itu adalah Andre menjadi marah.
__ADS_1
"Apa matamu buta? Kau menghalangi jalan tu." ucap Boris yang belum mendapat wajah Andre.