S.H.E (Wanita Yang Kubeli)

S.H.E (Wanita Yang Kubeli)
#45


__ADS_3

Andre dan Lucy pulang ke apartemen dengan pakaian yang basah. Setelah membersihkan diri dan mengganti pakaian, Lucy pergi ke dapur melihat apa yang bisa di masak. Karena habis basah-basahan tadi kini keduanya merasa lapar.


"Kau mencari apa?" tanya Andre yang masih mengeringkan rambut dengan handuk.


"Aku mencari sesuatu yang bisa di masak. Sepertinya di kulkas mu tidak ada stok makanan yang bisa di masak." ucap Lucy yang masih mencari-cari.


"Bagaimana kalau kita makan di luar saja, itu lebih mudah di bandingkan g kau harus masak." usul Andre.


"Aku malas untuk ke luar lagi, dan juga terlalu lelah untuk bepergian. Lagian mobil mu kan sedang di cucian mobil." ucap Lucy duduk di kursi meja makan.


Andre hanya diam an melihat sekeliling rumahnya. Ia pun bingung harus melakukan apa, otaknya kini tidak dapat bekerja karena lapar dan juga lelah. Tak lama kemudian Lucy bangkit dari kursinya dan berjalan keluar.


"Mau kemana? Kau bilang sudah lelah untuk keluar." tanya Andre.


"Apa kamu mau kita mati kelaparan? Aku akan ke minimarket di bawah dan membeli beberapa mie instan." ucap Lucy santai.


"Kenapa harus mie instan? Itu tidak baik untuk kesehatan." ucap Andre mencoba menghentikan.


"Itu jika kamu makan secara terus-menerus, sudahlah pokoknya aku mau beli mie instan. Kamu mau ikut?" tanya Lucy.


"Aku akan meletakan ini dulu, tunggu aku." ucap Andre sambil menunjukan handuk.


Dengan langkah malas Andre mengikuti Lucy dari belakang. Ia sedikit kurang menyukai mie instan sejak kecil, bahkan Andre lebih suka makan ubi rebus di banding dengan makan mie instan itu. Tak lama berjalan mereka memasuki minimarket dan mengambil beberapa barang yang akan di beli.


Dengan kelihaian Lucy ia membeli beberapa mie instan, telur dan kornet. Sedangkan Andre memilih beberapa roti dan selai untuk di makannya.


"Apa yang ingin kau buat? Apakah kau dapat menghabiskan mie instan sebanyak ini?" tanya Andre melihat mie instan yang di pilih Lucy.


"Ini bukan untuk di masak semua, kita bisa memasak ini lain kali di saat darurat." Jelas Lucy.


Andre hanya diam mendengar ucapan wanitanya itu, ia tidak ingin berdebat dengan Lucy saat itu karena takut menyia-nyiakan energinya yang tinggal sedikit.


Setelah berbelanja, Lucy langsung melancarkan aksinya untuk memasak mie instan spesial. Sedangkan Andre menunggunya sambil membuat roti isi selai.


"Apa kamu tidak ingin makan mie ini nanti bersama ku?" tanya Lucy melihat Andre yang sedang mengunyah.

__ADS_1


"Aku akan makan itu nanti, sekarang perut ku benar-benar lapar dan berdemo." ucap Andre yang menikmati makannya.


"Bagaimana jika nanti kau sudah kenyang karena roti ini? Aku akan menyitanya." ucap Lucy merampas roti di hadapan Andre.


"Tapi...." Andre hanya diam tak dapat melanjutkan ucapannya melihat tatapan Lucy yang marah.


Andre mengambil minum dan langsung meminumnya sambil memandangi Lucy yang kini sangat fokus memasak. Ia benar-benar cantik saat sedan fokus pada sesuatu. Andre berjalan mendekati Lucy yang kini asik memasak mie instannya dan memeluknya dari belakang.


"Ahh,, apa yang kamu lakukan." teriak Lucy tiba-tiba.


"Tidak ada, aku hanya memelukmu. Kau tampak menggemaskan saat memasak." ucap Andre.


Wajah Lucy langsung memerah mendengar ucapan Andre. Ia benar-benar salah tingkah dan berdebar kencang dan membuatnya kurang fokus. Lucy langsung melepaskan pelukan Andre dan meninggalkannya.


"Hei kau mau kemana?" tanya Andre.


"Aku tidak akan bisa memasak jika kau menggoda ku seperti itu." ucap Lucy merajuk.


"Baiklah-baiklah, aku akan meninggalkan mu sediri di sini dan menyelesaikan pekerjaan ku." ucap Andre mengalah.


______________________


Lucy bangun pagi-pagi sekali dan bersiap-siap hendak pergi ke suatu tempat. Andre yang melihatnya langsung merasa penasaran dan bertanya-tanya di dalam hati.


"Kenapa dia berpakaian serapi itu hari ini? Apa dia ada janji dengan lelaki lain di luar sana?" batin Andre.


"Aku akan pergi dengan Carlo hari ini, kau tidak keberatan bukan?" tanya Lucy.


"Tumben kau pergi dengan teman mu tanpa memberitahu ku sebelumnya?" tanya Andre penasaran.


"Rencana kemarin aku akan memberitahumu, namun karena kejadian itu aku jadi lupa." jelas Lucy.


"Baiklah, apa kau ingin aku mengantar mu untuk bertemu dengannya?" tanya Andre lagi.


"Tidak usah, aku akan berangkat sendiri. Aku sudah menyiapkan sarapan untuk mu di meja makan dan juga kopi mu. Jangan lupa memakannya sebelum dingin." ucap Lucy mengingatkan.

__ADS_1


Andre hanya mengangguk mendengar ucapan Lucy. Ia tidak dapat memaksa kekasihnya itu dan mengekangnya terus karena Lucy juga berhak bertemu dengan teman-temannya.


"Hubungi aku jika kau butuh sesuatu." ucap Andre.


"Baiklah, aku pergi ok." ucap Lucy berpamitan dan mencium kening Andre.


Lucy pun pergi meninggalkan Andre yang masih duduk terdiam. Lucy berangkat menggunakan taksi dan menuju sebuah toko buku. Entah apa yang ia lakukan di sana, namun ia seperti menikmati semua buku yang ada di hadapannya.


"Hai, kenapa kau mengajak ku bertemu di sini?" tanya seorang wanita yang tak lain adalah Carlo.


"Kau sudah datang? Aku sedang memilih beberapa buku. Aku penasaran dan mencoba mencari jawabannya di buku." ucap Lucy.


"Kau penasaran akan hal apa? Tidak seperti biasanya kau penasaran sampai mencari tau seperti ini." tanya Carlo penasaran.


"Ayo duduk di sana, aku akan berdiskusi dengan mu." ajak Lucy.


Mereka menuju sebuah meja yang sudah di siapkan di toko buku itu dan duduk di sana sambil membawa beberapa buku untuk di baca.


"Jadi, apa yang ingin kau diskusikan dengan ku?" tanya Carlo penasaran.


"Aku, aku penasaran dengan ini." ucap Lucy menunjukan sebuah buku.


Carlo melihat sebuah buku yang menjelaskan tentang Islam dan melihat aneh kepada sahabatnya itu.


"Kau di paksa pacar mu itu untuk masuk muslim?" tanya Carlo penasaran.


"Tidak, sama sekali tidak. Aku pernah membuka kitab suci mereka dan entah mengapa tiba-tiba aku merasa tertarik akan ini semua." ucap Lucy tertunduk.


"Owh, mungkin kau harus bertanya langsung kepadanya Lucy. Siapa tau dia akan menjelaskannya dengan baik kepada mu." usul Carlo.


"Apa kau yakin? Aku takut nanti dia berfikir aneh kepada ku." ucap Lucy.


"Hei, bagaimana bisa kau menemukan jawabannya jika tidak bertanya pada dia yang sudah dari kecil di didik dengan ajaran itu. Ya apa salahnya jika sekedar bertanya." ucap Carlo.


Lucy terdiam mendengar ucapan Carlo. Apa yang di katakan sahabatnya ada benarnya, dari pada ia mencari-cari sendiri dan tidak dapat menyimpulkannya lebih baik ia bertanya ke Andre secara langsung.

__ADS_1


Lucy dan Carlo meninggalkan toko buku dan membeli beberapa buku untuk ia baca di rumah sebelum ia menanyakannya ke Andre. Rasa penasarannya kini semakin kuat dan tak sabar untuk bertanya secara langsung dengan Andre semua pertanyaan yang kini ada di dalam benaknya.


__ADS_2