
Boris melangkahkan kakinya menuju kantor tempat Lucy bekerja. Ia telah menunggu Lucy selama dua hari di apartemen Lucy namun tidak ada tanda-tanda jikalau Lucy pulang ke apartemen itu. Ia pun berfikir jika Lucy sengaja menghindarinya dan meyakini jika Lucy telah mengadu akan kehadirannya pada kekasihnya itu dan membuatnya susah. Boris benar-benar murka melihat tingkah laku anak semata wayangnya yang tidak tau balas budi menurutnya itu.
Setelah tiba di kantor, ia dengan langkah marah memasuki kantor itu. Sontak saja hal itu membuat semua orang yang melihat merasa heran dan memanggil scurity untuk menegurnya.
"Selamat pagi pak, apa ada yang bisa kami bantu?" tanya scurity itu sopan.
"Aku ke sini ingin bertemu dengan Lucy, panggilkan dia sekarang untuk ku." ucap Boris sambil berteriak-teriak.
"Lucy? Ada keperluan apa anda ingin bertemu dengannya? Apa anda sudah memiliki janji terlebih dahulu dengannya untuk bertemu di sini?" tanya scurity itu lagi.
"Aku ayahnya, apa aku harus membuat janji untuk bertemu dengan putriku?" bentak Boris kesal.
"Baiklah, bisakah anda menurunkan nada suara anda? Saya akan panggilkan Lucy untuk anda, silahkan anda tunggu di sana." ucap scurity sambil menunjuk sebuah sofa.
"Aku tidak mau menunggu, aku ingin bertemu dengannya langsung. Aku akan ikut dengan mu untuk menemui putri ku dan keruang kerja putri ku." ucap Boris menolak.
"Maaf pak, anda tidak bisa ikut masuk ke dalam ruangan karyawan. Anda bisa menunggu di sini." ucap scurity itu memperingatkan.
Namun bukan Boris namanya jika tidak membuat keributan besar dan kekacauan. Karena keributan yang terjadi di lobby kantor yang di buat oleh ayahnya Lucy, scurity langsung menelepon Lucy untuk turun ke bawah menemui ayahnya yang membuat keributan.
"Siapa yang menelepon mu?" tanya Andre penasaran.
"Ayah ada di bawah dan membuat keributan besar di lobby, scurity barusan menelepon ku agar turun ke bawah untuk menemui ayah." ucap Lucy panik.
"Ayah mu? Di kantor ini?" tanya Andre tak percaya.
"Sudahlah, aku akan turun dulu untuk melihatnya. Aku benar-benar takut jika ayah membuat kekacauan yang lebih parah nantinya." ucap Lucy panik dan berjalan keluar dari ruangan Andre.
__ADS_1
Melihat akan hal itu Andre pun tanpa pikir panjang ikut menemani kekasihnya itu untuk menemui ayahnya Lucy. Ia tak menyangka jika Boris berniat membuat keributan di kantornya.
"Aku akan ikut dengan mu." ucap Andre masuk ke dalam lift bersamaan dengan Lucy yang tampak cemas.
"Aku bisa mengatasi ini sendiri, aku tidak ingin membuat mu dalan kesulitan nantinya." ucap Lucy panik.
"Sudahlah, tidak ada yang bisa mengancam ku." ucap Andre santai dan mencoba menenangkan Lucy yang tampak panik.
Lucy hanya diam dan tidak menanggapi ucapan Andre, saat ini ia benar-benar tidak ingin berdebat dengan lelaki yang ada di depannya itu. Fikirannya di penuhi dengan masalah yang di buat ayah. Tak lama kemudian mereka tiba di lobby kantor dan melihat Boris mengamuk tak menentu di sana. Ia membuat keributan dan membuat kekacauan, sehingga pandangan karyawan tertuju padanya. Lucy pun segera menghampirinya dengan sedikit berlari.
"Ayah.... Ayah, kenapa ayah ada di sini dan membuat keributan di tempat ku bekerja?" tanya Lucy dengan nada kesal.
Plaaakkk.....
Sebuah tamparan mendarat di pipi Lucy dan sontak membuat semua orang terkejut termasuk Andre.
"Aku tidak bisa pulang ke rumah karena aku lembur di kantor dan harus menyelesaikan pekerjaan ku ya. Aku tidak ada niat sama sekali untuk menghindari mu " ucap Lucy sambil memegang pipinya yang masih nyeri.
"Kau pikir aku akan percaya dengan ucapan mu itu? Kau benar-benar anak yang tidak tau cara berterima kasih. Beginikah balasan mu kepada ayah mu yang sudah membesarkan mu? Kau mencampakkan ku setelah mengencani seorang CEO dan hidup mewah. Kau tak lebih dari seorang j*lang." umpat lelaki itu murka.
"Ayah, aku tidak sama sekali berniat seperti itu. Hanya saja aku benar-benar tidak tau kalau ayah ke apartemen ku kemarin. Dan lagi aku minta jangan menganggap ku wanita seperti itu, aku tidak pernah menjual diri demi menjadi seseorang yang berada." ucap Lucy mencoba menjelaskan.
Mendengar ucapan Lucy, Boris kembali murka dan berniat menamparnya sekali lagi. Namun belum sempat tamparan itu mendarat di wajah Lucy, Andre dengan sigap memelintir lengan Boris dan membuatnya kesulitan untuk bergerak.
"Apa kau ingin kehilangan tangan mu ini? Berani sekali kau ingin memukulnya di hadapan ku." ucap Andre marah.
Melihat reaksi Andre, Boris menyadari jika itu adalah pacar dari anaknya dan seorang CEO perusahaan itu.
__ADS_1
"Jadi, kau adalah pacar dari anak ku?" tanya Boris sambil menahan sakit di lengannya.
Andre melepaskan lengan Boris dan memandangnya dengan tajam.
"Jika kau sudah tau, lebih baik kau menjauhinya sekarang. Jika tidak, aku tidak akan menjamin keselamatan mu." ucap Andre pelan kepada Boris.
"Aku hanya ingin melihat putri ku, kau benar-benar tidak punya hati jika memisahkan aku dengannya. Kau bahkan menghasutnya untuk membenci ku " ucap Boris dengan nada tinggi.
Ucapan Boris sontak membuat seluruh karyawan yang mendengar terkejut dan memandang rendah Andre yang seorang CEO di perusahaan itu. Bagaimana mungkin bos besar mereka sangat kejam kepada orang tua itu, pikir mereka.
"Aku bahkan bisa melakukan hal yang lebih kejam jika kau berani mengusik kehidupan wanita ku. Kau pikir dengan cara mu ini aku akan mengalah pada mu dan menyerahkannya begitu saja?" tanya Andre menyudutkan.
"Mau bagaimanapun aku tetaplah ayah kandung Lucy. Dan kau hanya sebatas pacar, kau tidak bisa memaksa ku untuk menjauhi anak ku sendiri." ucap Boris sambil tersenyum sinis.
"Terserah apa yang kau inginkan, namun anak mu sudah memiliki hak untuk meninggalkan mu atau tidak. Apa kau lupa? dia bukanlah anak kecil lagi sekarang, setelah apa yang telah kau perbuat padanya bagaimana mungkin ia akan memilih untuk tinggal dengan mu." ucap Andre santai dan berjalan mendekati Lucy.
Andre menatap mata Lucy dengan penuh kasih sayang dan rasa percaya. Ia yakin jika wanita yang ia beli dari club' malam ini sudah dewasa dan dapat berfikir untuk kebaikannya.
"Aku yakin, apapun keputusan mu kau sudah memikirkannya dan kau tidak akan salah dalam memilih jalan hidup." ucap Andre sambil meletakan kedua tangannya di pundak Lucy.
Mendengar akan hal itu, hati Lucy yang sedikit gundah menjadi tenang dan yakin dengan apa yang akan di putuskan nya.
"Ayah, aku tidak ingin hidup dengan ayah lagi. Aku tidak ingin menderita lagi, aku tidak ingin menjadi pelampiasan amarah ayah bahkan tidak ingin menjadi tambang uang ayah lagi. Aku ingin menjalani hidup ku ayah, aku ingin bebas dari jeratan ayah selama ini." ucap Lucy.
"Ternyata kau benar-benar sudah di hasut oleh lelaki ini dan meninggalkan ku saat kau sudah kaya. Apa kau tidak ingat siapa yang membesarkan mu selama ini?" bentak ayah Lucy marah.
"Bukan, bukan kau yang menghidupi ku selama ini. Melainkan ibu dan nenek di desa, selama ini kau hanya menghabiskan seluruh hidup dan uang mu untuk wanita-wanita liar itu dan berjudi. Sedangkan ibu dan nenek mati-matian menghidupi ku dan menyekolahkan ku di desa. Kau tau, ku pikir benar selama ini kau yang mengirimkan uang untuk kehidupan kami di desa, namun setelah aku mengetahuinya aku benar-benar merasa sangat sedih. Terlebih lagi kau dengan kejam menjual ku ke sebuah club' malam demi menutupi hutang mu itu." ucap Lucy sambil berteriak dan menangis
__ADS_1
Lucy benar-benar merasa sedih dengan apa yang telah ayahnya perbuat. Ia tidak habis pikir, bagaimana mungkin seorang ayah begitu tega melakukan ini semua terhadap putrinya. Bahkan hewan buas pun sangat melindungi anak-anaknya dengan segenap jiwa.