S.H.E (Wanita Yang Kubeli)

S.H.E (Wanita Yang Kubeli)
#77


__ADS_3

"Sudahlah ayo kita pilih mau menaiki permainan yang mana." ajak Luna mengalihkan pembicaraan.


"Iya, tujuan kita datang kesini kan untuk bersenang-senang bukan mendebatkan masalah ini." ucap Leon.


Tiba-tiba Leon menggandeng tangan Luna dan pergi meninggalkan Lucy dan yang lain, hal itu membuat semua mata tertuju pada genggaman antara Luna dan Leon. Terlebih lagi mereka berdua meninggalkan teman-teman yang lain seakan berada di dunia mereka berdua.


"Lucy, apa kau melihat itu? Luna bergandengan tangan dengan laki-laki itu. Setau ku dia tidak sedang dekat dengan laki-laki." ucap Rosy heran.


"Hmm setahuku mereka berteman sedari kecil, dan itu hal yang wajar menurut ku." ucap Lucy memberitahu.


"Owh begitu, tapi kenapa dia tidak mengenalkannya kepada kita?" tanya Rosy lagi.


"Aku sudah kenal dengan pria itu, dia juga sahabat Andre dan sering membantu Andre." ucap Lucy.


"Haah....? Jadi cuma aku yang tidak kenal dengan laki-laki itu? Kalian sangat kejam, cuma aku yang tidak memiliki pasangan di sini." ucap Rosy cemberut.


"Aku tidak akan meninggalkan mu, ayo kita menyusul Luna." ajak Lucy.


Andre hanya mengikuti langkah Lucy dari belakang, bisa-bisanya dia melupakan kekasihnya dan berjalan bergandengan dengan sahabatnya tanpa memperdulikan perasaannya.


"Kenapa jalan mu lambat sekali? Ayo cepat kalau tidak kita akan ketinggalan." ucap Lucy kepada Andre.


Andre hanya diam tidak menjawab ucapan Lucy dan tetap mempertahankan langkahnya yang lambat membuat Lucy geram dan menariknya. Kini Lucy berada di tengah-tengah antara Rosy dan Andre, ia menggenggam tangan kekasih dan temannya itu.


"Kau tidak mengajak sahabat mu itu?" tanya Andre kepada Lucy.


"Sahabat? Sahabat ku yang mana?" tanya Lucy bingung.


"Owh sepertinya kau sudah lupa jika mempunyai sahabat selain Luna dan Rosy." ucap Andre.


"Aaa yang kamu maksud itu adalah Carlo? Aku sudah mengajak dia sebelumnya, tapi dia menolak untuk ikut. Padahal aku sudah mengatakan kau juga ikut dalam perjalanan ini." ucap Lucy.

__ADS_1


"Apa hubungannya dengan ku? Aku sama sekali tidak mengerti." ucap Andre.


"Ya itu karena dia suka padamu, Apa hal seperti itu saja kamu tidak mengerti?" tanya Lucy kesal.


"Aku tidak tau kalau ada orang lain yang menyukaiku selain kau, jadi aku tidak memperhatikannya." ucap Andre.


Lucy hanya diam mendengar ucapan dari Andre dan melanjutkan langkahnya menyusul Luna.


"Kenapa kalian lama sekali? Aku sudah beli tiketnya, ayo kita naik itu." ucap Leon menunjuk rollercoaster.


"APA...? Aku tidak mau naik itu." teriak Andre.


Teriakan Andre membuat semua orang tercengang, bagaimana mungkin seorang yang terkenal dingin seperti Andre tidak berani menaiki wahana permainan rollercoaster.


"Apa kamu takut naik itu? Kalau kamu takut kamu tidak perlu naik, biar menunggu kami di sini." ucap Lucy dengan wajah cemas.


"Hah... Percuma saja jabatan mu yang seorang bos besar namun nyali mu sangat kecil dan ciut dengan permainan seperti ini." ucap Leon mengejek.


"Kalau begitu ayo kita buktikan." ucap Leon.


"Aku menunggu di sini saja, menjaga-jaga kalau-kalau nanti salah satu dari kalian mengalami mual hebat dan butuh bantuan ku." ucap Andre beralasan.


Mau tak mau akhirnya Andre ikut menaiki wahana permainan rollercoaster bersama dengan yang lain. Ia ingin membuktikan jika apa yang di katakan oleh Leon tentang dirinya adalah kesalahan besar. Terlebih lagi ini menyangkut harga dirinya di depan Lucy.


"Kalau kamu tidak mau menaikinya tidak apa-apa, aku tidak mau nanti terjadi sesuatu pada mu." ucap Lucy menahan Andre.


Lucy tau persis dari mimik wajah Andre yang nampak cemas dan mencoba menutupi rasa takutnya. Lucy pun menggenggam tangan Andre dengan sedikit bergelayut di bahunya manja.


"Ayolah kita cari permainan yang lain saja." ucap Lucy membujuk Andre.


"Aku tidak mau, harga diri ku di pertaruhkan di arena permainan seperti ini. Aku tidak akan mengalah dengan cemoohan Leon." ucap Andre melepas tangan Lucy dan menyusul Leon dan yang lain.

__ADS_1


Lucy hanya bisa menggelengkan kepalanya dan mengikuti kekasihnya dari belakang. Ia benar-benar khawatir kalau-kalau terjadi sesuatu nantinya kepada Andre.


Mereka berlima menaiki wahana rollercoaster, Andre dan Lucy duduk berdampingan dan begitu juga Leon dengan Luna.


"Teganya kalian, kalian semua berpasang-pasangan sedangkan aku tidak? Kalian benar-benar kejam." protes Rosy.


"Ahh baiklah kalau begitu biar aku menemani Rosy duduk di sampingnya." ucap Lucy mulai berdiri.


Namun dengan sigap Andre menahan Lucy dan membuatnya terduduk lagi sambil menatap tajam ke arah Rosy. Melihat tatapan mata Andre, nyali Rosy pun menjadi ciut dan segera duduk di belakang mereka.


"Lucy tidak usah, biar kau duduk berdua dengan tuan Andre saja. Siapa tau nanti aku bisa duduk dengan seorang laki-laki di sebelahku dan bisa berkenalan dengannya." ucap Rosy panik.


Lucy hanya tersenyum kecut kearah Rosy, ia benar-benar merasa bersalah dengan sikap Andre yang melarangnya untuk duduk berdua dengan temannya itu. Kini mereka semua sudah duduk di dalam rollercoaster, dan bersiap-siap akan meluncur. Crew wahana sudah memberikan aba-aba kepada mereka, dan di awali gerakan pelan rollercoaster berjalan maju menaiki tanjakan yang curam. Mata Andre terbelalak lebar, ia seperti menahan napasnya dan mencengkram erat sabuk pengaman yang melingkar di dadanya. Setelah tiba di atas rollercoaster pun meluncur ke bawah dengan kecepatan kilat, hal itu sontak membuat Andre terkejut dan menjerit sekencang-kencangnya. Dia sama sekali tidak perduli dengan Lucy yang ada di sampingnya, saat ini yang ia pikirkan hanya diri sendiri.


"AAAAAARRRRRGGGHHH...... TUHAAAANN AMPUNI DOSA-DOSA KU, LINDUNGI NYAWA KU, AKU BELUM MENIKAH, AKU MASIH INGIN MERASAKAN RESEPSI PERNIKAHAN AAAAAARRRRRGGGHHH." teriak Andre dengan sangat kencang.


Lucy melihat ke arah Andre dan mencoba menenangkannya, namun hal yang di lakukan oleh Lucy hanya sia-sia. Di sisi lain Leon yang menantang Andre untuk menaiki wahana rollercoaster nampak pucat pasi dan tidak mengeluarkan suara sedikitpun. Tak lama kemudian rollercoaster berhenti dan semua penumpang turun, Andre di bantu oleh Lucy berjalan dengan kaki yang masih bergetar hebat.


"Ahh aku tidak merasakan kaki ku." ucap Andre yang di papah oleh Lucy.


"Tenanglah kita sudah turun, atur napas mu sebaik mungkin." ucap Lucy yang terbungkus karena memapah tubuh Andre ang lumayan berat.


Andre mendengarkan saran Lucy dan mencoba berdiri tegak sambil memegang kedua bahu Lucy, dengan serius ia mencoba mengendalikan perasaannya dan mengatur napasnya.


"Hei apa kau tidak mau turun dari sana?" tanya Luna kepada Leon yang masih membeku di kursi rollercoaster.


Leon menoleh ke arah Luna dengan wajah yang pucat pasi dan tubuh bergetar hebat. Di bantu oleh Luna ia mencoba turun dari wahana itu dan berjalan menjauh. Dengan langkah cepat Leon menjauhi wahana itu.


"Hei kau tidak mau menunggu ku? Aku sudah membantu mu turun dan kini kau meninggalkan ku. Pelankan langkah kaki mu itu." teriak Luna kesal.


Namun Leon tidak menghiraukan ucapan Luna dan tetap berjalan meninggalkan Luna sendiri.

__ADS_1


__ADS_2