S.H.E (Wanita Yang Kubeli)

S.H.E (Wanita Yang Kubeli)
#89


__ADS_3

Tak lama mereka saling berbincang ibu Andre dan Ratih tiba dengan membawa beberapa bahan belanjaan di tangannya. Sepertinya mereka pergi ke supermarket dekat apartemen tempat tinggal Andre dan membeli bahan-bahan makanan.


"Untuk apa ibu membeli ini semua?" tanya Andre sambil mengambil barang belanjaan ibunya.


"Aku sudah berkali-kali katakan padamu jika aku tidak suka makanan daerah ini, aku akan memasak sesuatu untuk makan malam." ucap ibu Andre.


"Kita bisa makan di restoran Asia jika memang ibu tidak menyukai makanan di sini. Kenapa harus repot-repot memasak segala." ucap Andre.


"Sudahlah, kau mana mengerti tentang masakan. Apa yang terjadi di kantor? Apa semua baik-baik saja?" tanya ibunya.


"Semua baik-baik saja, hanya beberapa dokumen harus ku tandatangani secara langsung." ucap Andre menjelaskan.


"Baiklah, biar aku dan Ratih kebelakang untuk membuat beberapa kue atau cemilan. Aku tidak kenyang makan siang tadi." ucap ibu Andre.


"Bu apa ibu tidak capek? Ibu baru saja tiba di sini dan sudah ingin memasak? Lucy sudah membawakan kita semua biskuit buatannya, ibu cobalah terlebih dahulu." ucap Andre mengajak ibunya duduk.


Ibu Andre menuruti ucapan anaknya itu, ia tidak ingin memperlihatkan ketidaksukaannya terhadap Lucy kepada Andre.


"Aku akan membuatkan teh." ucap Lucy berdiri.


Lucy bergegas kebelakang dan membuatkan teh untuk ibu kekasihnya itu, ia juga tidak lupa membuatkan untuk Ratih. Setelah selesai, Lucy kembali dengan memegang kedua cangkir di tangannya dan meletakan teh di atas meja.


"Bu cobalah biskuit ini, ini Lucy sendiri yang membuatnya." ucap Andre sambil memakan biskuit buatan Lucy.

__ADS_1


"Apakah seenak itu?" tanya ibunya.


Andre hanya mengangguk sambil mempersilahkan ibunya mencicipi biskuit buatan Lucy. Ibu Andre memakan biskuit tersebut, dan tidak dapat di pungkiri jika apa yang ada di dalam mulutnya itu benar-benar terasa nikmat.


"Sepertinya kau sangat pandai membuat biskuit, ini enak." ucap ibu Andre memuji.


"Terimakasih, jika nyonya suka saya akan membuatkannya lagi nanti." ucap Lucy merasa senang.


"Jika hanya biskuit, saya juga bisa membuatnya." celetuk Ratih.


"Jika kau pandai, kenapa tidak membuatnya untuk bekal makanan kalian di jalan?" tanya Andre ketus.


"Membuat biskuit hanya dasar dari memasak, siapa saja pasti bisa membuatnya." ucap ibu Andre mencoba membela Ratih.


"Apa mereka sudah pergi ke kamar semua?" tanya Andre yang keluar dari kamarnya untuk mengganti pakaian.


"Ya, sepertinya perjalanan kesini menyita semua energi mereka. Aku akan membereskan ini terlebih dahulu." ucap Lucy membereskan cangkir teh dan toples biskuit.


"Biarkan saja, kau juga harus istirahat. Kau terlalu banyak mengalami tekanan hari ini." ucap Andre sambil menarik tangan kekasihnya.


Lucy duduk di sebelah Andre dan bersandar di dada Andre, dengan lembut Andre merangkul kekasihnya itu dan mengusap rambut Lucy yang terurai lembut.


"Apa kau baik-baik saja?" tanya Andre.

__ADS_1


"Tidak, Aku sangat tidak baik-baik saja." ucap Lucy.


"Apa ibuku menyusahkan mu hari ini? Apa yang dia katakan kepada mu saat aku tidak di rumah?" tanya Andre lagi.


"Ya, dia benar-benar sangat menyusahkan ku dan mengintimidasi ku secara sepihak. Aku benar-benar frustasi jika mengingat kejadian siang ini." ucap Lucy.


"Baiklah, aku akan berbicara nanti dengannya agar ibu bisa jauh lebih baik kepada mu." ucap Andre mencoba menenangkan.


"Tidak, tidak perlu melakukan itu. Aku sendiri yang akan mencoba membuat hati ibu mu luluh dan menerima ku." ucap Lucy.


"Apa kau yakin? Ibuku bukan orang yang mudah untuk di ambil hatinya." ucap Andre tak percaya.


"Ya mungkin butuh waktu, tapi aku yakin beliau akan menyukaiku cepat atau lambat. Dia harus melihat kemampuan ku yang tidak pernah ku tunjukan ke siapapun." ucap Lucy sambil tersenyum lebar.


"Kau berani bersaing dengan Ratih?" tanya Andre.


"Apa kau mengharapkan untuk dapat menikah dan bersanding dengan Ratih?" tanya Lucy balik.


"Tidak, aku bahkan tidak ingin menatap wajahnya yang seperti dokter bedah itu." ucap Andre.


"Bagus kalau begitu, aku sama sekali tidak takut untuk bersaing dengannya. Karena mau bagaimanapun kau akan mendukung ku dan aku harus siap berhadapan dengan siapa pun sebagai pendamping seorang CEO." ucap Lucy penuh dengan keyakinan.


Andre benar-benar dibuat tertawa mendengar ucapan Lucy yang sangat percaya diri, namun di dalam lubuk hatinya yang paling dalam Andre sangat bersyukur karena kini Lucy sudah semakin dewasa dan dapat mengandalkan perasaannya dengan baik.

__ADS_1


__ADS_2