
Lucy masuk ke dalam apartemen yang sudah di belikan oleh Andre untuknya. Ia mengemasi barang-barang bawaannya dan menyusun baju-baju di lemari. Apartemen yang di beli oleh Andre tidak terlalu besar namun tidak juga kecil, ukuran ini cukup untuknya seorang diri dengan pemandangan yang cantik di luar jendela.
"Dia membelikan ini itu kepada ku tanpa berfikir panjang, tapi kamar ini sangat cantik. Bagaimana jadinya jika aku tidak bisa lepas dari ketergantungan ini." Gumam Lucy sambil merebahkan badannya di atas tempat tidur.
Ia berinisiatif untuk pergi mandi dan membersihkan diri, mengingat ia sudah lama tidak dapat menikmati berendam air hangat. Lucy bergegas bangkit untuk pergi berendam ke kamar mandi.
______________
Andre tiba di apartemennya dan melepas baju hangatnya. Hari sudah masuk ke musim dingin, salju mulai turun sedikit demi sedikit memenuhi kota Paris. Sebentar lagi natal, dan akan banyak perayaan yang terjadi di kota ini.
Andre membuka ponselnya, yang ternyata banyak sekali panggilan dari Tiara. Namun entah mengapa hatinya sedikit enggan untuk menjawab panggilan wanita yang pernah menolaknya itu.
"Aku harus membiasakan diri tanpa mu lagi Raa, aku akan mundur dalam pertandingan hati ini. Aku harap kau akan bahagia tanpa ada gangguan dari ku lagi. Maaf karena sudah membuat mu kecewa akan tingkah laku ku selama ini, tapi aku hanya berusaha mendapatkan simpatik mu Raa." Gumam Andre sambil melihat-lihat foto Tiara dan dirinya di Hp.
Andre meletakan ponselnya dan mengabaikan semua pesan dan telepon dari cinta pertamanya itu. Ia mencoba untuk melupakan Tiara yang sudah menjadi milik orang lain. Walau dalam hatinya ia sangat ingin mendengar suara Tiara ia menguatkan diri untuk tidak lagi membuka perasaanya.
Andre mencoba memejamkan mata dan beristirahat, mengingat ia kekurangan tidur saat mengurus wanita yang sama sekali ia tidak kenal. Andre hanyut dalam alam mimpi bawah sadarnya dan melupakan semua kesusahan yang ada di dunia nyata ini.
_________________
Hari sudah gelap, Andre tersentak dari tidurnya dan melihat jam yang ada di ponselnya. Sudah pukul 19.00 dan dia baru bangun dari tidurnya, mungkin dia benar-benar kelelahan beberapa hari ini. Andre bangkit dari tidurnya dan pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
Setelah selesai, Andre mengenakan pakaian santainya dan baju hangatnya. Ia berencana untuk keluar malam ini, walau masih belum tau kemana tujuan awalnya. Ia sedikit bosan berada sendirian di apartemennya yang cukup besar ini.
Andre menghidupkan mobilnya dan menjalankannya, salju sudah semakin lebat dan memenuhi seluruh jalanan Paris. Lampu-lampu dan pohon natal banyak menghiasi sudut kota Paris malam ini. Tiba-tiba ia berhenti ke sebuah toko kue dan membeli kue coklat. Setelah membayarnya ia kembali masuk ke dalam mobil sambil memandangi kue yang sudah di belinya itu.
"Ahh bodohnya, kau pun masih belum terbiasa untuk melepaskan wanita itu. Sadarlah Andre, dia bukan milik mu. Kau harus mencoba melepaskannya, untuk apa kau membelikan kue kesukaannya ini?" Gumamnya pada diri sendiri.
__ADS_1
Andre menghidupkan mobilnya dan berjalan menuju apartemen Lucy. Setelah tiba, ia membawa kue itu ikut bersama dengannya untuk menemui Lucy.
Tok... Tok... Tok....
Andre mengetuk pintu apartemen milik Lucy, namun tidak ada jawaban dari dalam. Andre mencoba sekali lagi dan akhirnya pintu terbuka. Lucy berdiri di hadapan Andre dengan rambut yang masih basah. Andre mendorongnya masuk membuat Lucy hampir saja terjatuh namun sempat di tarik oleh Andre.
Kini posisi tubuh Lucy sangat dekat dengan Andre, bisa di bilang Andre hampir memeluk tubuh mungil Lucy yang sedikit takut kalau dia akan terjatuh.
"Apa kau bodoh? Kau keluar dengan rambut masih basah seperti ini. Kau akan terkena flu." Ucap Andre marah.
"Saya baru selesai mandi tuan, dan tidak tau kalau yang datang itu adalah tuan. Saya akan mengeringkan rambut terlebih dahulu." Ucap Lucy beranjak dari sisi Andre.
Andre berjalan masuk menuju meja makan yang ada di apartemen mungil milik Lucy.
"Biar aku bantu kau mengeringkan itu." Ucap Andre melihat Lucy yang mencoba mengeringkan rambut sendiri.
Namun Andre tidak menghiraukan ucapan Lucy dan mengambil paksa mesin pengering rambutnya. Lucy benar-benar merasa canggung dengan apa yang di lakukan Andre kepadanya. Tak jarang jemari Andre menyentuh kulit lehernya yang membuat detak jantungnya semakin kuat berdebar tak menentu.
"Tuan, saya akan menyelesaikannya. Tuan bisa istirahat dan duduk di sana, sebentar lagi ini akan selesai." Ucap Lucy gugup sambil mengambil paksa pengering rambutnya.
Andre terdiam dan menuruti apa yang di ucapkan Lucy, mungkin Andre memahami Lucy yang canggung dengan apa yang dia lakukan kepada Lucy.
"Ahh, jika terlalu lama ia membantu ku mengeringkan rambut. Bisa-bisa jantung ku tidak dapat berdetak normal lagi, aku benar-benar bisa gila." Batin Lucy.
Tak lama Lucy mengeringkan rambutnya ia duduk di hadapan Andre yang masih sibuk memainkan ponselnya.
"Bukalah, aku membelinya saat melihat itu di jalan. Aku tidak tau apa kau suka atau tidak." Ucap Andre sambil menunjuk kotak berisikan kue cokelat yang tadi di belinya.
__ADS_1
Lucy menuruti ucapan Andre tanpa banyak berkomentar. Ia membuka kotak kue dan melihat isinya. Kue itu benar-benar cantik dan pastinya sangat enak. Lucy berdiri untuk mengambil beberapa piring, namun belum sempat ia berdiri Andre menahannya dan membuatnya terduduk kembali.
"Tidak perlu mengambil piring atau sendok, kau bisa langsung memakannya di sini. Dan potong dengan itu." Ucap Andre sambil menunjuk pisau kue yang ada di pinggir kotaknya.
"Tapi, aku mengambilkan piring agar tuan juga dapat menikmatinya." Ucap Lucy polos.
"Makanlah sendiri, aku tidak terlalu suka dengan makanan manis seperti ini" ucap Andre kembali fokus kepada ponselnya.
Lucy memotong kue dan memakannya, rasa kue ini benar-benar sangat nikmat. Selama ini ia tidak pernah mencoba untuk makan seperti ini. Jangan kan untuk membelinya, mencicipinya pun ia tak akan mampu.
Lucy memakan kue itu dengan tenang tanpa ada suara sedikit pun keluar dari mulutnya. Andre yang melihat akan hal itu merasa sedikit aneh, karena tidak biasanya anak ini diam dan menikmati makannya. Melihat itu, Andre menghentikan melihat layar ponselnya dan menatap Lucy penasaran.
"Apa kue ini sangat enak? Kau sampai tidak bersuara memakannya" Tanya Andre serius.
"Iya tuan.... Kue ini sangat enak dan manis." Ucap Lucy sambil tersenyum ceria.
"Baiklah, makanlah dan nikmati itu semua." Ucap Andre lagi.
"Aku.... Merasakan benar-benar menjadi seorang manusia setelah bertemu dengan tuan. Selama ini tidak ada yang memandang ku seperti ini, terima kasih tuan." Cerita Lucy.
Andre terdiam mendengar ucapan Lucy barusan. Ia tak menyangka jika anak ini benar-benar mengalami kehidupan yang sangat susah.
"Makanlah perlahan, jika kau suka aku akan membelikannya saat kau memintanya lagi nanti. Dan ingat kau harus bisa memikirkan diri sendiri kedepannya, akan sangat susah bagi ku jika kau selalu membuat masalah nantinya" Ucap Andre sambil mengelus kepala Lucy dengan lembut.
Lucy tersenyum dan melanjutkan makannya. Dan lagi-lagi, sentuhan tangan Andre membuat jantungnya berdebar kuat.
"Jangan terlalu baik kepada ku tuan, aku takut jika tak dapat melepaskan mu nantinya. Dan terlalu berharap lebih akan apa yang telah kau berikan." Batin Lucy.
__ADS_1