S.H.E (Wanita Yang Kubeli)

S.H.E (Wanita Yang Kubeli)
#11


__ADS_3

Andre duduk termenung menatap keluar jendela kantornya, pikirannya masih melayang ke masa dimana ia dan Tiara tumbuh bersama dan menghabiskan waktu lebih banyak.


"Bagaimana bisa takdir mempermainkan perasaan ku seperti ini? Aku sudah menjaga semuanya dan berjuang habis-habisan agar dapat bersanding layak dengan Tiara." gumam Andre.


Ia benar-benar merasa kesal akan dirinya yang tidak dapat mempertahankan Tiara di sisinya. Kini Tiara sudah menikah dan hidup bahagia, sedangkan dia masih memikirkan hal yang seharusnya tidak ia pikirkan.


Tok.... Tok.... Tok....


"Selamat siang tuan, saya mau mengantar dokumen yang harus di tandatangani." ucap Luna dengan sedikit mengintip.


Andre mengalihkan pandangannya ke arah sumber suara dan menyuruh Luna masuk.


"Ada berapa banyak yang harus ku kerjakan hari ini?" tanya Andre.


"Tidak banyak, hanya ada beberapa dokumen yang harus di tandatangani setelah itu semua jadwal anda hari ini kosong." ucap Luna sambil melihat jadwal Andre.

__ADS_1


"Baiklah kalau begitu aku akan meminta izin pulang cepat hari ini, dan tolong hubungi Leon untukku." ucap Andre.


"Baik, apa anda akan pergi dengan Leon lagi setelah ini?" tanya Luna.


Andre menatap Luna, ini pertama kalinya ia bertanya sesuatu di luar pekerjaan.


"Ah maaf, saya tidak bermaksud lancang." ucap Luna.


"Luna, aku sudah mengenalmu saat kita bersama-sama kuliah. Dan kau juga memiliki saham di perusahaan ini, kenapa kau selalu memanggil ku tuan? Tidak bisakah kamu memanggil nama ku saja? Seperti kau memanggil Leon?" tanya Andre.


"Tapi dalam dunia pekerjaan tidaklah etis bagi ku untuk memanggil anda hanya dengan sebutan nama saja, walaupun saya juga pemegang saham tapi ini adalah perusahaan anda " ucap Luna mencoba menjelaskan.


"Tenang saja, saat di luar kantor anda adalah teman saya dan di dalam kantor anda atasan saya." ucap Luna tersenyum.


"Kau terlalu serius menganggap status seseorang, baiklah jika itu keputusan mu." ucap Andre.

__ADS_1


Luna keluar dari ruangan Andre sambil membawa dokumen yang sudah di tandatangani oleh Andre. Jujur di dalam lubuk hatinya, ia sangat ingin untuk selalu berada di sisi Andre. Hanya dengan menjadi sekretaris Andre ia dapat selalu berdekatan dengan Andre, karena dengan sikap Andre yang sulit terbuka dengan semua wanita ia memutuskan untuk bekerja di perusahaan Andre dan juga sekaligus menjadi pemegang saham kedua setelah Andre. Cintanya yang bertepuk sebelah tangan dengan Andre membuatnya sedikit tertekan namun Luna tidak dapat melakukan apa-apa karena Andre yang masih sulit untuk membuka hati kepada wanita semenjak cinta pertamanya menikah dengan laki-laki lain.


"Ah sudahlah, kau harus fokus pada pekerjaan mu saat ini. Setidaknya Andre selalu ada di samping mu walau hanya menganggap ku sekedar teman." gumam Luna.


Luna mengambil gagang telepon dan menekan nomor telepon Leon, seperti yang di perintahkan oleh Andre ia diminta untuk menghubungi Leon.


"Hay, tumben kau menghubungi ku duluan." ucap Leon bersemangat.


"Jangan berpikir terlalu jauh, aku menghubungi mu karena tuan Andre yang memintanya." ucap Luna.


"Benarkah? Ada apa dia meminta mu untuk menghubungi ku?" tanya Leon penasaran.


"Dia meminta mu datang ke sini, seperti ya dia masih terpuruk dengan kegagalan cinta pertamanya itu." ucap Luna menebak.


"Ahh lagi? Aku benar-benar tidak bisa mengerti jalan pikiran laki-laki itu." ucap Leon.

__ADS_1


"Entahlah, aku hanya menyampaikan pesannya saja." ucap Luna.


"Baiklah kalau begitu aku akan kesana sekarang." ucap Leon sambil menutup telepon.


__ADS_2