
Lucy bersiap-siap untuk pulang dari kantor, karena sudah sore dan juga memang sudah waktunya pulang. Ia membereskan berkas-berkas file yang belum selesai ia kerjakan dan akan di lanjutkan besok. Ia memeriksa ponselnya dan ternyata belum juga ada kabar dari Andre, ia pun pergi meninggalkan kantor. Lucy berjalan menuju halte untuk menunggu angkutan umum yang menuju rumahnya, namun saat sedang menunggu tiba-tiba ada a sebuah mobil hitam yang ia kenal berhenti di hadapannya. Mobil itu menurunkan kaca jendelanya dan nampak sosok pria di dalam mobil itu yang ternyata tak lain salah Andre. Lucy menatap Andre dengan pandangan menusuk tajam.
"Ada apa? Ayo masuk biar aku antar pulang sekalian." ucap Andre dari dalam mobil.
"Bukankah kau sangat sibuk? Selesaikan saja pekerjaan mu." ucap Lucy ketus.
Andre yang merasa bingung hanya menatap Lucy dari luar, entah apa yang terjadi pada kekasihnya itu yang tiba-tiba marah kepadanya. Andre turun dari mobil dan berjalan mendekat kearah Lucy, ia kini menarik lengan Lucy yang masih cemberut.
"Ayolah, jika mood mu sedang kacau kau bisa menceritakannya padaku di dalam mobil. Aku sudah menyelesaikan semua pekerjaan ku." ucap Andre lembut.
Lucy menatap Andre dengan perasaan yang masih kesal, namun akan susah jika ia tidak ikut masuk ke dalam mobil Andre segera karena sebentar lagi akan ada angkutan umum yang datang di halte itu.
Lucy menuruti ucapan Andre dan masuk ke dalam mobil dan di susul dengan Andre. Mereka pergi meninggalkan halte dengan keheningan tanpa ada yang mau memulai percakapan. Melihat hal ini tidak seperti biasanya Andre pun mencoba untuk membuka percakapan.
"Kita pergi makan dulu ya sebelum pulang." ucap Andre.
"Nggak usah, lagian kamu juga pasti udah makan." ucap Lucy singkat.
"Ayolah Lucy, ada apa sebenarnya? Kau terlihat sangat kesal, apa ada yang terjadi saat aku tidak di kantor?" tanya Andre membujuk.
"Entahlah aku malas untuk membahasnya." ucap Lucy ketus.
Andre mencoba diam tidak menanggapi ucapan kekasihnya itu, takut-takut nanti jika ia terus memancing pertanyaan pada Lucy malah menjadi bumerang kekesalan Lucy.
"Apa dia benar-benar tidak tau dengan kesalahannya? Aku benar-benar kesal, dai bahkan tidak ada inisiatif untuk membujuk ku yang kesal ini." batin Lucy sambil cemberut
Andre membawa Lucy mampir ke toko kue tempat langganan mereka, ia berharap setelah Andre membawa Lucy untuk makan-makanan manis akan meredakan amarahnya. Lucy ikut turun dan di susul dengan Andre, setiba di dalam toko kue Andre memesan beberapa kue kesukaan Lucy dan juga minuman hangat.
Andre duduk di hadapan Lucy sambil menatap wajahnya yang masih cemberut.
"Apa yang terjadi padanya? Apa jangan-jangan dia sedang datang bulan dan membuat moodnya turun. Ahh aku tidak mengerti apa-apa akan masalah ini." batin Andre.
__ADS_1
"Baiklah, apa kau merasa kurang enak badan?" tanya Andre.
"Tidak, aku baik-baik saja." ucap Lucy singkat.
"Lucy, taukah kau bahwa aku bukanlah seorang peramal yang bisa membaca pikiran seseorang? Aku tidak akan mengetahui apa masalah mu jika kau tidak menceritakannya pada ku." ucap Andre serius.
Melihat Andre yang sudah memasang wajah serius Lucy sedikit meluluhkan hatinya yang dari tadi membatu. Di sisi lain ia masih merasa takut untuk kehilangan Andre karena masih mencintainya.
"Kau seharian ini kemana? Kau bahkan tidak membalas pesan ku." ucap Lucy pelan.
Andre menghabiskan napasnya, ia tak menyangka yang di permasalahkan oleh Lucy ternyata hanya masalah sepele seperti ini.
"Kau sudah tau bukan aku pergi meeting dan menyelesaikan pekerjaan ku. Aku bahkan tidak sempat untuk membuka ponsel, apa lagi menghubungi mu. Dan aku bahkan belum makan dari siang karena sibuk." ucap Andre.
"Tapi bukankah kau tadi ada pertemuan makan siang dengan klien mu juga?" Tanya Lucy penasaran.
"Kami tida sempat makan siang karena dia juga ada urusan mendesak, jadi dia meminta ku untuk membahas pekerjaan di bandara, dan kau tau jam siang akan sangat macet menuju jalan ke arah bandara." ucap Andre menjelaskan.
"Iya, untungnya masih sempat. Jika tidak, aku akan rugi besar kali ini." ucap Andre.
Lucy memandang wajah Andre yang nampak lelah, sangat tersirat di wajah kekasihnya itu jika hari ini ia bekerja dengan berat. Kini Lucy merasa bersalah dan mengutuk dirinya sendiri yang tidak bisa mengerti dengan keadaan kekasihnya itu. Bagaimana bisa ia kini menjadi seseorang yang sangat egois dan tidak mengerti dengan status kekasihnya yang seorang bos besar.
Carlo masih menunggu kabar dari Lucy namun belum ada tanda-tanda dia akan menghubunginya. Ambisi Carlo untuk mendapatkan kehidupan yang layak namun dengan cara yang salah kini merasuki seluruh pembuluh darahnya yang mengalir sekujur tubuh.
"Ahh sial, wanita itu sepertinya mengulur-ulur waktu untuk menanyakan masalah ini kepada Andre. Jika dia tidak secepatnya memberitahu kepada Andre, akan lama aku untuk mendapatkan kehidupan yang serba mewah dan menjadi pendamping Andre. Sepertinya aku harus memikirkan cara lain." gumam Carlo sambil menatap ponselnya.
Carlo benar-benar telah berambisi untuk menggantikan posisi Lucy di samping Andre, tanpa ia sadari jika hal itu akan membuat persahabatannya yang selama ini ia bangun dengan Lucy akan kandas bahkan menjadi terpecah belah.
Carlo mengambil tasnya dan berjalan menyusuri malam, nampak beberapa orang sudah bersiap-siap di dalam restoran untuk melakukan makan malam bersama keluarga maupun pasangan mereka. Carlo menatap semua itu dengan pandangan iri, karena sampai saat ini jangankan untuk makan di sebuah restoran mewah dengan pasangan untuk makan layak pun dia masih tergolong harus berhemat semaksimal mungkin.
Carlo melanjutkan perjalanannya menuju rumah kontrakannya, perutnya yang mulai lapar membuatnya harus segera tiba di rumah agar dapat memasak dan mengisi perutnya yang sudah keroncongan. Carlo mempercepat langkahnya tanpa melihat sekelilingnya lagi.
__ADS_1
"Carlo......" teriak seorang wanita.
Langkah Carlo terhenti dan melihat kearah sosok yang memanggilnya itu. Ternyata yang memanggilnya adalah Lucy dan dia kini bersama dengan Andre di sampingnya.
"Owh, hai Lucy. Kenapa kau bisa ada di sini?" tanya Carlo terlihat senang.
"Andre membawaku untuk makan cake di sini, kau baru pulang kerja?" tanya Lucy sambil tersenyum.
"Iya aku baru saja pulang kerja." ucap Carlo singkat.
Carlo menatap Lucy dan Andre secara bergantian, ia merasa sangat iri dengan Lucy yang bisa melakukan apapun saat bersama Andre. Termasuk saat ini, entah apa yang telah Lucy lakukan sehingga membuat Andre selalu menuruti ucapan Lucy.
"Kau sudah makan? Bagaimana jika makan malam bersama dengan kami?" ajak Lucy.
"Kau masih ingin makan?" tanya Andre tiba-tiba.
"Iya, aku masih lapar. Bagaimana jika kita makan malam bersama? Ku rasa Carlo juga belum makan malam." usul Lucy.
Carlo terdiam mendengar ucapan Lucy, ia merasa sepertinya Lucy sedang merendahkan harga dirinya di depan Andre. Seakan-akan dia tidak mampu untuk membeli makan malam sendiri, Carlo benar-benar muak dengan sikap sok polos yang dimiliki Lucy.
"Ahh tidak usah, aku bisa makan di rumah." ucap Carlo.
"Tidak apa, kau pasti sangat capek karena baru pulang kerja. Jadi kita makan malam dulu OK." ucap Lucy sambil memegang tangan Carlo.
"Baiklah jika kau memaksa." ucap Carlo.
Lucy dan Andre berjalan bersama menuju mobil dan di ikuti dengan Carlo di belakang. Andre mendekatkan tubuhnya ke arah kekasihnya itu dan berusaha berbicara agar tidak terdengar oleh orang lain.
"Apa kau yakin ingin makan lagi? Kau sudah makan banyak kue tadi. Lagi pula dia sepertinya keberatan kau ajak makan malam bersama." bisik Andre.
"Mas, dia masih sangat harus berhemat demi kehidupannya. Aku yakin setiba di rumahnya belum tentu dia makan malam dengan layak. Dia sahabat terbaik ku, tolong bantu dia kali ini saja ya." bujuk Lucy.
__ADS_1
Andre menghembuskan napas beratnya, ia benar-benar tak mengerti persahabatan antara wanita. Sepertinya kekasihnya itu bisa berbagi apa saja dengan sahabatnya itu tanpa berpikir panjang.