
Mereka menikmati makan siang bersama, sambil berbincang-bincang mereka saling berbagi cerita satu sama lain.
"Jadi bagaimana hari pertama mu bekerja di sini?" tanya lucy kepada Carlo.
"Awalnya aku sedikit gugup, tapi teman-teman yang lain mengajari ku dengan baik." ucap Carlo.
"Syukurlah, aku juga seperti itu saat awal mulai bekerja. Dan untungnya Rosy selalu membantu ku menyelesaikan tugas." ucap Lucy.
"Semua orang pasti mengalami hal yang sama saat mereka baru memulai pekerjaannya. Karena itu adalah hal pertama yang kita lakukan dalam hidup ini." ucap Luna.
"Aku setuju dengan ucapan Luna, tapi bukankah kau terlahir dari keluarga pebisnis. Ku rasa itu akan jauh lebih mudah di banding kami yang hanya berlatar belakang orang biasa." ucap Rosy.
"Wah sepertinya aku tidak mengenal nona Luna selama ini, aku bahkan baru tau dia dari keluarga seperti itu." ucap Lucy memuji.
"Latar belakang keluarga juga tidak menjamin apapun." ucap Luna.
"Aku benar-benar terkesima dengan sikap nona Luna." ucap Rosy.
"Sudahlah, yang jelas kita di sini sama-sama sedang meniti karir sebaik mungkin." ucap Luna.
Saat sedang asik mengobrol pandangan mereka kini tertuju pada lelaki yang baru saja memasuki kantin, itu adalah sosok Andre dan Leon yang berjalan memasuki kantin. Luna dan Lucy tercengang melihat akan hal itu. Entah sejak kapan Andre mau datang ke kantin kantor dan makan di sini.
"Nona Lucy, apa kau membuat pak Andre kesal hari ini? Ini pertama kalinya aku melihat pak Andre makan di kantin kantor seperti ini." ucap Luna sambil berbisik.
"Iya aku juga belum pernah melihat bos besar makan di kantin selama aku bekerja di gedung ini, aku bahkan biasanya hanya dapat melihatnya di parkiran mobil dan lobby." ucap Rosy menambahkan.
Lucy terdiam mendengar ucapan Luna dan Rosy, ia pun heran mengapa Andre makan siang di kantin kantor. Lucy berpura-pura tidak melihatnya dan melanjutkan makannya. Lucy melihat ke layar ponselnya untuk memastikan Andre tidak menghubunginya dan membuatnya merasa tak enak di kantin.
__ADS_1
"Aku hanya memastikan kau makan dengan benar dan tidak kelaparan saat pulang dari kantor." sebuah pesan tiba-tiba masuk ke ponsel Lucy.
"Kau tiba-tiba makan di kantin dan membuat seluruh penghuni kantin terkejut, bagaimana aku bisa tenang." balas Lucy.
Andre hanya tersenyum melihat balasan pesan dari kekasihnya itu, ia tau jika Lucy sedikit khawatir karena ia makan siang di kantin kantor.
"Aku benar-benar iri dengan mu Lucy, bagaimana bisa kau dapat menaklukkan hati presdir. Sepertinya aku harus ke tukang tarot untuk meramal masa depan ku." ucap Rosy.
"Berhenti menggoda ku jika kau masih ingin makan banyak." ucap Lucy sambil tertawa.
"Ya aku setuju dengan ucapan Rosy, apa kau punya trik khusus untuk mendapatkan hati sang presdir?" tanya Carlo tiba-tiba.
"Maksud mu carlo?" tanya Lucy heran.
"Ya aku hanya penasaran saja, siapa tau aku juga bisa mendapatkan perharian dari seorang presdir." ucap Carlo tersenyum sinis.
"Jika kau ingin seorang kekasih presdir, kau bisa mencarinya sendiri tanpa harus mengincar pasangan orang bukan?" ucap Luna.
Melihat suasana sedikit tegang, Lucy pun mencoba mengalihkan pembicaraan Lucy melihat jam di tangannya.
"Ahh sudah jam 13.15, kita harus segera masuk ke ruangan. waktu istirahat makan siang sudah berakhir 10 menit yang lalu. Kita akan berada dalam masalah jika terlambat lebih lama lagi." ucap Lucy.
"Astaga, ayo-ayo kita harus bergegas." ucap Rosy panik.
Merekapun meninggalkan kantin dengan berlari-lari tak menyangka jika waktu sangat cepa berlalu. Lucy dan Rosy duluan pergi meninggalkan kantin, dan di susul dengan Luna. Namun saat Luna hendak berdiri, Carlo menghentikan Luna.
"Aku dengar kau menyukai Andre juga bahkan secara langsung mengatakan itu semua kepada Lucy." ucap Carlo.
__ADS_1
Luna yang sudah berdiri dari mejanya kini kembali duduk sambil menatap sinis kearah Carlo.
"Wah, sepertinya ucapan ku itu ada benarnya." ucap Carlo yakin.
"Jadi apa masalahnya dengan mu? Apa itu menganggu mu?" tanya Luna.
"Kau barusan mengatakan untuk mencari orang lain, tetapi kau sendiri mengincar kekasih orang lain. Aku benar-benar tidak mengerti apa maksud mu, kau sangat pandai membalikkan situasi dan mencari keuntungan untuk mu sendiri." ucap Carlo.
Luna menatap lekat Carlo, ia benar-benar tak habis pikir bagaimana bisa Lucy memiliki sahabat seperti Carlo.
"Aku mengenal Andre jauh sebelum Lucy mengenalnya, bahkan bisa di bilang kesuksesan yang di dapat oleh Andre saat ini hampir 80% adalah hasil kerja keras ku. Jadi menurutku hal yang wajar jika aku berharap lebih kepada Andre. Tapi, yang harus kau tau tujuan ku mengatakan itu semua ke Lucy agar dia tidak berfikir aku menusuknya dari belakang atau lain sebagainya. Dan aku juga tidak menganggap Lucy sebagai saingan cinta karena menurutku Andre berhak memilih." jelas Luna.
" Ya sama saja artinya kau berniat untuk merebutnya dari Lucy." ucap Carlo.
"Hal yang paling mudah bagi ku untuk merebut atau menghasut Andre untuk membenci Lucy, tapi aku tidak melakukan itu karena aku menghargai perasaan Andre kepada Lucy. Jadi aku peringatkan padamu jika kau juga mengincar Andre lebih baik kau jujur pada sahabat mu itu dari pada berakhir dalam penyesalan nantinya." ucap Luna.
Luna berdiri dan meninggalkan Carlo yang terdiam membisu.
"Walaupun begitu kau tetap sama saja dengan ku. Kita sama-sama mengincar Andre dan berharap bisa berada di sisi andre bahkan memilikinya seutuhnya." ucap Carlo.
"Kau salah Carlo, bedanya aku dan kau adalah kau sahabat Lucy sedangkan aku hanya teman kantor yang cuma bertemu dengannya sesaat. Dan aku sudah mengetahui tujuan awal mu bekerja di perusahaan yang sama dengan Lucy." ucap Luna.
"Jangan terlalu munafik nona Luna, tidak ada ceritanya seseorang yang mencintai orang lain tapi tidak ingin memilikinya. Yang namanya cinta pasti ingin memiliki." ucap Carlo.
"Tapi apakah kau harus memaksakan diri untuk mendapatkan apa yang kau mau? Walau kau tau dengan jelas jika keinginan mu itu akan membuat orang lain terluka. Aku jadi kasihan dengan mu jika begitu nona Carlo, kau bahakan bisa menghalalkan berbagai cara untuk mendapatkan sesuatu bahakan menyingkirkan orang yang telah menolong mu dari kubangan. Kau seharusnnya berterimakasih dengan sahabat mu yang sudah mempermudahkan hidup mu saat ini, dan saran ku lebih baik kau menjalani hidup yang baik-baik saja sebelum kau menyesal." ucap Luna.
Carlo yang mendengar semua ucapan Luna menjadi kesal dan murka. Inisiatifnya untuk menghasut Luna ternyata gagal, ia tak menyangka jika Luna adalah orang yang sulit untuk di pengaruhi. Carlo mencoba berfikir keras agar dapat dekat dengan Andre dan mendapatkan hatinya.
__ADS_1
"Cih, wanita sialan itu berlagak sok anggun di depan ku. Kau bahkan mengatakan aku menusuk sahabat ku sendiri dari belakang, di dunia ini jika kau ingin bertahan dan menjadi yang terbaik kau harus melakukan sesuatu walaupun itu menyakitkan bagi seseorang." gumam Carlo kesal.
Ia pun pergi meninggalkan kantin dengan wajah kesal dan mulutnya di penuhi dengan umpatan-umpatan untuk Luna yang merendahkan dirinya.