S.H.E (Wanita Yang Kubeli)

S.H.E (Wanita Yang Kubeli)
#135


__ADS_3

Lucy berbaring di atas kasurnya, ia masih memikirkan semua ucapan dari nenek dan ayahnya. Ia tidak dapat mengatakan kepada ayahnya jika Andre belum ada niatan untuk menikahinya, entah pun Andre memang tidak berniat untuk menikahinya. Lucy mencoba memejamkan matanya dan tiba-tiba air matanya mengalir melewati celah pelupuk matanya. Hatinya sedikit sakit jika mengingat hubungannya dengan Andre, ia sangat bingung harus melakukan apa selanjutnya karena hubungannya dengan Andre terbilang cukup lama.


"Kau belum tidur?" tanya nenek Grace yang baru masuk ke dalam kamar.


Lucy segera mengusap air matanya dan bangkit dari tidurnya.


"Ah, nenek dari mana? Kenapa baru masuk?" tanya Lucy.


"Aku selesai membereskan dapur dan juga mematikan perapian di luar, ayahmu tidak bisa ku harapkan untuk melakukan itu semua." ucap nenek Grace.


"Nenek bisa menyuruhku seharusnya, aku yang akan melakukannya untuk nenek." ucap Lucy.


"Tidak perlu, kau cukup istirahat. Karena ku lihat tau kau sangat lelah dan sudah berbaring di kasur." ucap nenek Grace sambil mengelus kepala cucunya itu.


Lucy hanya diam mendengar ucapan neneknya, ia tidak bisa mengelak karena saat ia berbaring tadi Lucy sedang memikirkan hubungannya dengan Andre yang tidak ada kepastian dan hanya berjalan di tempat.


"Apa kau sangat berharap laki-laki itu menikahi mu? Kenapa kau tidak menanyakannya secara langsung untuk memastikan hubungan kalian?" tanya nenek Grace dengan lembut.


"Aku tidak berani nek, aku takut jika minta terlalu banyak kepadanya. Dia sudah banyak membantu dan berkorban untuk ku nek." ucap Lucy.


"Pengorbanan dalam cinta itu adalah hal biasa yang terjadi, jika kau tidak ingin terluka lebih dalam kau harus berani memastikan. Jika memang dia tidak berniat serius kepada mu, kau bisa meninggalkannya secara perlahan tanpa harus merasa berhutang Budi." ucap nenek Grace menasehati.


Lucy tidak mengucapkan sepatah katapun, tatapannya tertunduk dengan mata yang sayu. Ia tidak bisa membayangkan jika akhirnya Andre tidak berniat melanjutkan hubungan mereka ke tahap yang lebih serius, apakah ia benar-benar harus meninggalkan lelaki yang menjadi cinta pertamanya dan dewa penolongnya selama ini?

__ADS_1


"Tidurlah, dengarkan apa yang aku ucapkan kepada mu tadi. Cari kepastian atau tinggalkan, kau mungkin akan terluka tapi itu lebih baik sekarang di bandingkan nanti kau jauh lebih mencintainya." ucap nenek Grace.


Lucy membaringkan badannya dan nenek Grace dengan lembut menyelimuti cucu semata wayangnya itu. Ia sangat tau persis apa yang Lucy pikirkan, dan walau sebanyak apapun Lucy berkorban mungkin tidak dapat kata layak bagi keluarga Andre ia bersanding dengan pemuda tampan nan mapan itu.


"Lucy, aku hanya dapat mendoakan yang terbaik untuk mu. Aku selalu mendukung setiap keputusan mu, dan selalu berada di belakangmu. Jadi, tidak perlu takut nak." ucap nenek Grace lirih.


Di dalam selimutnya Lucy mencoba memantapkan hatinya, ia harus melakukan apa yang telah di sarankan oleh nenek Grace kepadanya. Bukan karena keinginannya untuk cepat-cepat di persunting, melainkan kepastian akan hubungan yang selama ini mereka jalani.


______________________


Andre dan Lusi sedang berkemas memasukan barang-barang mereka kedalam mobil, mereka berencana untuk kembali ke kota setelah beberapa hari di sana dan menghabiskan waktu bersama nenek Grace. Sedangkan Boris sudah terlebih dahulu pulang ke kota saat mendapati bahwa kabar yang ia terima ternyata salah. Putrinya kembali bukan karena ingin menikah melainkan untuk berlibur, jadi Boris merasa sedikit kecewa dan pergi kembali.


"Apa sudah kau periksa semua barang bawaan mu?" tanya nenek Grace sedikit berteriak.


"Yah itu bagus, memang kau butuh selimut yang tebal. Selimut jaman sekarang mana ada yang lebih baik di bandingkan jaman dahulu, kami bahkan membuat sendiri selimut itu tanpa mesin jahit modern." ucap nenek Grace memamerkan selimut hangatnya.


Lucy dan Andre hanya tertawa mendengar ucapan sombong yang keluar dari wanita sepuh itu.


"Jika sudah selesai, jangan lupa kau membawa bekal untuk di perjalanan. Aku sudah menyiapkannya di atas meja makan." ucap nenek Grace.


"Ah, benarkah? Kapan nenek membuatnya? Baiklah, aku akan mengambilnya." ucap Lucy bersemangat.


Nenek Grace hanya tertawa melihat Lucy yang berlari bak anak kecil, ia pun menghampiri Andre yang masih sibuk menyusun barang-barang Lucy di dalam bagasi mobil.

__ADS_1


"Kau, aku tidak tau apa tujuan mu. Tapi, aku harap kau dapat membahagiakan Lucy. Mungkin dia sangat menyusahkan dan membuat mu marah dengan semua tingkahnya, dan aku akan mata maaf akan hal itu. Aku tidak bisa memberikan apa-apa kepadanya dengan keadaan ku sekarang, aku hanya bisa mendoakan keselamatan serta kebahagiaan bagi kalian." ucap nenek Grace lirih.


Nampak terpancar di wajahnya jika ia sangat menyayangi Lucy dan mengharapkan yang terbaik untuk cucunya itu.


"Aku, tidak bisa menjamin kebahagiaan Lucy nek. Hanya saja, aku benar-benar mencintainya." ucap Andre berterus terang.


"Aku tau, kau memperlakukan Lucy sangat istimewa. Dari caramu memandang dan menghargainya sebagai wanita aku sangat mengetahui itu, hanya saja jika tidak bisa dipersatukan dan harus saling melepas pastikan dia tidak bersedih terlalu lama." ucap nenek Grace yang tiba-tiba menitihkan air mata.


Andre hanya diam mendengar ucapan nenek Grace, ia tahu persis jika sang nenek sangat mengkhawatirkan keadaan cucunya di masa yang akan datang. Namun Andre tidak ingin memberi banyak janji, ia takut jika tidak dapat memenuhinya akan berakibat fatal. Tak lama kemudian Lucy datang dengan kotak makan bersusun seperti rantang di tangannya. Wajahnya yang ceria bersemangat dengan memegang makanan itu.


"Baiklah, semua sudah selesai. Makanan pun sudah ada di tangan, ayo kita berangkat." ucap Lucy bersemangat.


"Sepertinya kau sudah sangat bosan di sini sehingga ingin cepat-cepat kembali ke kota." ucap nenek Grace.


"Aahhh nenek, aku benar-benar akan merindukan nenek. Kenapa nenek tidak ikut bersama ku saja dan tinggal di sana bersama ku. Kamar ku cukup luas untuk kita berdua, dan nenek tidak perlu bekerja lagi." rengek Lucy.


"Aku akan mengunjungimu sesekali nanti, saat ini biarkan aku menghabiskan masa-masa tua ku di sini. Aku terlalu tua untuk mendengar kebisingan kota." ucap nenek Grace.


"Tapi aku akan mengkhawatirkan keadaan nenek jika kita berjauhan seperti ini." ucap Lucy.


"Kau sudah membelikan ku ponsel, jadi kau harus sering-sering menelepon ku. Bahkan kau juga harus lebih dahulu untuk menghubungi ku." ucap nenek Grace.


"Baiklah-baiklah, aku akan mendengarkan semua ucapan nenek." ucap Lucy sambil memeluk wanita tua itu

__ADS_1


__ADS_2