
Pagi-pagi sekali Lucy telah sampai di kantor, seperti biasa kantor Andre sudah di bereskan oleh Luna. Semua kebutuhan dan perlengkapan sudah di persiapkan nya di atas meja kerja Andre, Lucy membuka laptopnya dan membuka kotak bekal yang di bawanya. Sambil menunggu kedatangan Andre, Lucy menyantap makanan dan menyiapkan file-file pekerjaannya yang sudah menumpuk. Tak lama kemudian Andre tiba di kantor dan melihat Lucy yang asik mengunyah makanannya sambil menatap layar laptop.
"Sepertinya kau sangat giat dalam bekerja, kau selalu datang duluan di bandingkan dengan ku." ucap Andre yang berjalan kearah Lucy.
"Aku harus bangun pagi untuk dapat naik kendaraan umum dan tidak kesiangan, kamu sudah sarapan? Aku sudah menyiapkan sarapan untuk mu." ucap Lucy membuka kotak bekal lainnya untuk Andre.
"Kenapa kau tidak ingin aku menjemputmu saja jika kau merasa kesusahan saat menunggu angkutan umum di pagi hari?" tanya Andre yang kini duduk di samping Lucy.
"Itu pekerjaan yang merugikan, kamu harus berputar arah untuk menuju ke rumah ku. Terlebih lagi jika kamu kesiangan, bahaya bagi karyawan biasa seperti ku bukan?" tanya Lucy balik.
"Baiklah, jika kau merasa sangat profesional dalam pekerjaan ini. Aku menyukai itu, mana bekal ku?" tanya Andre.
Lucy memberikan kotak bekal kepada Andre, mereka menikmati sarapan bersama sebelum memulai pekerjaan. Di sisi lain Lucy berencana untuk membicarakan masalah sahabatnya, namun ini masih terlalu pagi untuk membahas hal itu. Setelah menyelesaikan sarapan mereka Lucy dan Andre melanjutkan pekerjaan mereka.
Tok.... Tok.... Tok....
Terdengar pintu ruang kerja Andre di ketuk dari luar.
"Masuk..." ucap Andre yang kini telah berada di meja kerjanya.
Nampak Luna masuk ke dalam ruangan kerja Andre dengan senyum khasnya membuat Lucy sedikit cemburu.
"Pak, kita ada meeting dengan perusahaan JK 15 menit lagi. Ini dokumen-dokumen yang nanti bapak butuh untuk rapat, saya rasa bapak mau melihatnya terlebih dahulu." ucap Luna.
"Baiklah, aku akan bersiap-siap. Terimakasih banyak Luna." ucap Andre singkat.
Luna hanya mengangguk sambil tersenyum dan berbalik untuk meninggalkan Andre untuk memeriksa dokumen yang ia berikan.
"Luna, apa jadwal ku penuh hari ini?" tanya Andre tiba-tiba.
__ADS_1
Luna melihat jurnalnya dengan serius untuk memastikan jadwal bosnya itu.
"Hari ini sehabis meeting ada pertemuan dengan pak Leon dan di lanjutkan dengan makan siang dengan direktur Five group, Ada waktu kosong dua jam kemudian ada pertemuan lagi nanti dengan perusahaan Exell." jelas Luna secara rinci.
"Baiklah kalau begitu, kau juga bersiap-siap untuk pergi menemani ku dalam pertemuan itu." ucap Andre serius.
"Baik pak, kalau begitu saya keluar dulu." ucap Luna.
Luna pun keluar dari ruangan Andre. Melihat Luna yang sudah tidak ada di dalam ruangan itu lagi, Lucy memberanikan diri untuk mmbuka suaranya.
"Kau akan pergi dengan Luna? Berdua saja?" tanya Lucy.
"Iya, itu memang hal biasa jika aku ada pertemuan di luar. Dia selalu ikut dengan ku dan menjelaskan secara rinci proyek yang akan di bahas. Aku membutuhkannya, sangat butuh." ucap Andre.
Lucy terdiam mendengar ucapan Andre, kini dadanya terasa terbakar dengan api cemburu, bagaimana bisa Andre tidak peka dengan pertanyaan yang ia lontarkan padanya barusan. Lucy melanjutkan pekerjaannya untuk menutupi kekesalannya yang tidak tau harus ia buang kemana.
Lucy termenung sambil menatap layar laptopnya, sudah hampir setengah jam ia seperti itu semenjak Andre pergi meninggalkan kantor untuk pergi rapat pertemuan dengan kliennya. Ia masih sedikit cemburu karena Andre pergi dengan Luna yang jelas-jelas menyukai Andre dan berniat merebut Andre dari sisinya.
Ia kembali mencoba fokus ke pekerjaannya dan membuang jauh pikiran kotornya itu, takut-takut jika ia terlalu posesif kepada Andre akan buruk dampaknya terhadap hubungan mereka.
"Baiklah, aku akan mencoba mengiriminya pesan. Aku yakin dia masih sempat membaca dan membalas pesan ku, aku hanya khawatir saja." gumamnya lagi.
Lucy membuka ponselnya dan mencoba mengirim pesan kepada Andre, harap-harap ia mendapatkan balasan secepatnya untuk menenangkan hatinya yang gelisah.
" Hai, jangan lupa makan siang dan istirahat. I Miss u." tulis Lucy singkat.
Ia meletakan ponselnya di sebelah meja dan melanjutkan pekerjaannya. Namun tidak ada tanda-tanda jika Andre membalas pesannya itu dan membuat Lucy menjadi meradang kesal. Ia pun melampiaskan semua kekesalannya dengan pekerjaan yang ada di hadapannya.
________________________
__ADS_1
Carlo memandangi ponselnya berkali-kali, ia sangat berharap Lucy sudah mengatakan rencananya itu dengan Andre agar secepatnya ia bisa pindah ke apartemen mewah tempat Lucy tinggal dan juga bekerja sebagai karyawan di perusahaan Andre.
"Sudah siang, kenapa Lucy belum juga menghubungi ku. Apa jangan-jangan dia tidak jadi mengatakan rencananya itu kepada Andre? Ahh aku benar-benar penasaran, jika aku bertanya padanya langsung pasti akan membuatnya curiga." gumam Carlo sambil menatap layar ponselnya.
Ia benar-benar merasa tak sabar untuk itu semua dan menggeser posisi Lucy di samping Andre. Kini hatinya benar-benar dibutakan oleh ambisinya untuk memiliki Andre dan kekayaan.
"Baiklah, aku akan mencoba menghubunginya dan berpura-pura menanyakan keadaannya. Siapa tau aku bisa mendapatkan jawaban dari Lucy secepatnya." Ujar Carlo.
Ia membuka ponsel dan menekan nomor Lucy dan menghubunginya, tak menunggu lama Lucy mengangkat telepon dari Carlo.
"Hai, bagaimana keadaan mu? Kau tidak kesiangan berangkat kekantor bukan?" tanya Carlo basa-basi.
"Kondisi ku benar-benar buruk, awalnya semua baik-baik saja sampai akhirnya ia pergi dengan wanita itu." oceh Lucy di seberang telepon.
"Maksud mu? Apa yang terjadi dengan mu dan Andre?" tanya Carlo penasaran.
Lucy menceritakan semua yang terjadi dan kegelisahan hatinya karena sampai saat ini Andre belum juga membalas pesan darinya. Padahal setau Lucy, Andre memiliki waktu 2 jam waktu luang setelah makan siang. Namun sampai kini belum ada tanda-tanda dari Andre menghubungi Lucy ataupun membalas pesannya.
"Jadi kau cemburu dengan sekretaris dari pacar mu itu? Sadarlah Lucy, mereka pergi hanya untuk urusan bisnis." ucap Carlo.
"Iya aku tau, tapi rasanya sangat tidak menyenangkan jika mengetahui yang pergi bersamanya adalah wanita yang juga menyukai dan mengejarnya." ucap Lucy lemah.
"Ya aku juga tidak dapat menyalahkan mu sepenuhnya, karena dia ada jam istirahat. Kenapa tidak menghubungimu walaupun sebentar itu bukanlah hal yang sulit bukan?" ucap Carlo.
"Itulah yang aku kesal kan dari tadi, dia bahkan tidak membaca pesan ku sama sekali." ucap Lucy marah.
"Itu terlalu berlebihan sih kalau menurut ku, setidaknya dia harus menghargai perasaan mu yang sedang gelisah. Apa dia sengaja melakukannya?" ucap Carlo memanas-manasi hati Lucy.
"Aku akan menanyakannya saat pulang kerja nanti, aku harus mendapatkan jawaban yang sesuai dengan perlakuannya." ucap Lucy yang tersulit emosi.
__ADS_1
Carlo mendengar Lucy yang kesal merasa senang dan berhasil menyulut emosi sahabatnya itu. Ia berharap akan ada pertengkaran antara Lucy dan Andre nantinya dan membuatnya semakin mudah memasuki hidup Andre.