S.H.E (Wanita Yang Kubeli)

S.H.E (Wanita Yang Kubeli)
#96


__ADS_3

"Aku benar-benar tidak mengerti jalan pikiran anak ini, ah sudahlah aku lelah." ucap ibu Andre pergi menuju kamar.


Andre hanya diam dan juga beranjak menuju kamarnya, sebenarnya dia sama sekali tidak ingin berdebat dengan ibunya. Namun kenyataanya ia sulit untuk menerima raih menjadi kekasihnya dan melupakan Lucy yang selama ini sudah bersamanya. Andre membaringkan tubuhnya di atas kasur dan melihat ponselnya yang terpajang foto Lucy, wajah cantik gadis itu menghiasi sudut ponsel Andre. Ia menekan nomor telepon Lucy untuk mengabari jika ia telah tiba di rumah.


"Hai, kamu sudah tidur?" tanya Andre saat teleponnya sudah tersambung.


"Aku baru selesai ganti pakaian dan cuci muka, tumben kamu ngasih kabar aku lama begini?" tanya Lucy.


"Ya bagaimana lagi, setiba aku di rumah ibu langsung berbicara serius dan membuat ku stres." ucap Andre sambil memijat kepalanya.


"Jangan seperti itu, tujuan setiap orang tua itu baik. Nyonya hanya takut jika terjadi apa-apa pada diri mu." ucap Lucy.


"Bagaimana bisa kau berpikir seperti itu kepada orang yang sudah membuat mu di posisi sulit seperti sekarang? Coba kau jelaskan, terbuat dari apa hati mu itu?" tanya Andre penasaran.


"Bukan begitu, hanya saja aku berpikir realistis dan semua yang di lakukan oleh orang tua itu demi kebaikan anaknya. Tidak ada orang tua yang ingin membuat anaknya susah." ucap Lucy mencoba menjelaskan.


"Walaupun dia meminta mu memilih antara kekasih mu atau tuhan mu?" tanya Andre.


Lucy terdiam mendengar ucapan Andre, akhirnya mereka tiba dalam titik di mana sebuah jarak lebar di antara mereka nyata adanya. Lucy merasa tercekat dan tidak bisa berkata apa-apa, Al wajar jika ibu Andre mempertanyakan keyakinan yang di anut oleh pasangan anaknya.


"Apa nyonya meminta mu untuk menjauhi ku karena kita yang berbeda keyakinan?" tanya Lucy memberanikan diri.


"Ya....." ucap Andre singkat.


"Lantas, apa yang akan kamu lakukan?" tanya Lucy.


"Aku tidak meresponnya, itu hak setiap manusia. Aku tidak akan memaksa mu untuk Pindak keyakinan hanya karena ibu ku." ucap Andre santai.


"Tapi beliau pasti tidak akan mau menerima ku sama sekali." ucap Lucy pelan.


"Aku tidak perlu persetujuan orang lain, karena yang akan menjalani hidup kedepannya itu aku. Apa kau merasa terbebani dengan itu?" tanya Andre.


"Maksudnya...?" tanya Lucy balik.

__ADS_1


"Ya, apa kau merasa jika berbeda keyakinan itu tidak bisa untuk bersama?" tanya Andre.


"Tidak, bukan begitu. Hanya saja ini terdengar lebih sulit untuk kita lalui, karena aku tidak ingin kau berselisih dengan keluarga mu hanya karena aku." ucap Lucy.


"Jadi, apa kau akan menyerah dengan hubungan ini?" tanya Andre lagi.


"Tidak, aku tidak bisa menyerah begitu saja. Tapi..." ucap Lucy terputus.


"Sudahlah, kau harus tidur karena besok akan berangkat bekerja bukan? Lain kali kita akan bahas ini lagi, tidak melalui telepon seperti ini." ucap Andre.


"Baiklah, kamu juga istirahatlah. Semoga kamu bersenang-senang besok." ucap Lucy.


"Aku tidak merasa senang jika kau tidak ikut dengan ku." ucap Andre lesu.


"Kau harusnya senang karena bisa pergi bersama-sama keluarga mu." ucap Lucy.


"Baiklah, semua ini akan aku lakukan demi wanita ku yang terbaik ini." ucap Andre.


Lucy hanya tersenyum mendengar ucapan Andre, ia tau persis Andre sedikit terpaksa mengatakan itu namun mau bagaimanapun mereka adalah ibu dan adiknya yang harus ia bahagiakan.


"Cium aku." ucap Andre singkat.


"Kamu mengatakan hal yang konyol lagi, aku sudah memberikan ciuman kepada mu tadi." ucap Lucy.


"Baiklah, kalau begitu aku tidak akan mematikan ponselnya." ucap Andre tak mau mengalah.


"Hmm kamu benar-benar keras kepala mas, mmuach." ucap Lucy mencium ponselnya.


"Kan hati ku jauh lebih baik sekarang. Selamat malam dan mimpikan aku." ucap Andre manja.


"Ya..." jawab Lucy singkat.


Ia mematikan ponselnya dan merebahkan tubuhnya, bayang-bayang wajah Andre masih menggelayut di pelupuk matanya. Pria yang keras kepala dan sedikit angkuh itu benar-benar telah menguasai setiap relung hatinya. Ia tak tua bagaimana jadinya jika memang harus berpisah dengan lelaki yang sudah bersamanya beberapa tahun terakhir ini. Rasa sesak di dada tiba-tiba muncul dan menusuk jika ia mengingat jarak antara ia dan Andre. Lucy mencoba memejamkan mata agar dapat melupakan semua itu dan berdamai dengan hatinya.

__ADS_1


"Baiklah, mari pikirkan hal itu besok. Sekarang kau harus tidur dan buang jauh-jauh pikiran kotor itu, tenanglah pasti akan ada jalan." ucap Lucy sambil memejamkan matanya.


_____________________


Pagi-pagi sekali Lucy telah tiba di kantor, ia merapikan meja kerjanya dan menyusun beberapa dokumen yang harus ia kerjakan untuk hari ini. Tak lama ia datang Luna pun tiba di kantor dan memperhatikan Lucy yang sedang asik memilah-milah dokumen sambil mendengarkan lagu dari ponselnya.


"Kau sudah datang?" tanya Luna mengejutkan Lucy.


"Ah nona Lucy, maafkan saya. Iya, saya terlalu bersemangat sehingga tidak mengetahui jika anda juga telah datang." ucap lucu mematikan ponselnya.


"Lucy, sudah berapa kali aku katakan kepada mu. Kau tidak perlu gugup bila berhadapan dengan ku, aku tidak akan mengambil kekasih mu atau bersaing dengan mu lagi. Jadi, santai saja." ucap Luna.


"Ya tapi mau bagaimanapun anda tetap pemegang saham kedua di perusahaan ini." gumam Lucy pelan.


"Apa kau mengatakan sesuatu?" tanya Luna.


"Ahh tidak, aku hanya ingin bertanya apa nona Luna sudah sarapan? Bagaimana jika kita pergi sarapan di kantin? Aku yang traktir." tanya Lucy gugup.


"Hmm baiklah, ku rasa itu ide yang bagus. Kebetulan aku juga belum sempat sarapan." ucap Luna.


Mereka pergi ke kantin sambil bergandengan tangan bak kakak adik yang lapar.


"Kau mau makan apa?" tanya Luna.


"Ah aku ingin roti isi, sup dan juga cangkir latte." ucap Lucy sambil memilih.


"Kau yakin akan memakan itu semua? Aku benar-benar tak habis pikir jika kau menghabiskannya." ucap Luna tak percaya.


"tenanglah nona Luna aku akan menghabiskan semua ini tanpa sisa." ucap Lucy pasti.


Setelah memilih makanan dan minuman mereka pun duduk disebuah kursi yang disediakan oleh pihak kantin. musik dengan bersemangat menatap makanannya dan langsung melahapnya tanpa menunggu aba-aba dari Luna.


"Kau seperti tidak makan kemarin, aku salut denganmu dapat menghabiskan ini semua." ucap Luna.

__ADS_1


"aku bahkan makan enak kemarin cuman hari ini aku butuh energi ekstra." ucap Lucy.


__ADS_2