
Lucy duduk di sebelah Alex, ia meletakan susu dan biskuit di atas meja. Alex menghentikan permainannya dan melihat biskuit serta susu yang kini berada di hadapannya.
"Apa ini?" tanya Alex heran.
"Biskuit yang ku buat." ucap Lucy polos.
"Bukan itu, yang di gelas ini." ucap Alex lagi.
"Oh itu susu, apa kau tidak tau susu?" tanya Lucy heran.
"Bukan itu masalahnya, apa kau berpikir sedang memberikan cemilan untuk anak-anak? Hei nona aku berusia 23 tahun saat ini." ucap Alex.
"Aku tidak tau minuman apa ang kau suka, jadi aku membuatkan mu susu, karena siapa yang tidak suka susu bukan?" tanya Lucy.
"Oh Tuhan, kau benar-benar menganggap semua orang menyukai susu. Baiklah kalau begitu mari aku coba biskuit dan susu yang sudah kau buat ini." ucap Alex.
Alex memasukan sepotong biskuit ke dalam mulutnya, dan ia tercengang dengan rasa biskuit yang tak biasa.
"Bagaimana rasanya? Apa kau menyukainya?" tanya Lucy.
"Apa kau pernah membuatkan ini untuk kakak ku?" tanya Alex balik.
"Tidak, aku belum pernah membuatkannya biskuit, aku hanya membuatkannya sarapan dan makan malam. Tapi terkadang Andre membawa ku untuk makan di luar, jadi aku tidak pernah membuatkan cemilan untuknya." ucap Lucy polos.
__ADS_1
"Benarkah, seberapa banyak kau bawa biskuit ini?" tanya Alex lagi.
"Masih ada satu toples lagi di dapur." ucap Lucy.
"Baiklah kalau begitu, jangan katakan apapun tentang biskuit ini. Ini semua akan menjadi milik ku, tidak ada yang boleh memakannya selain aku." ucap Alex berlari menuju dapur.
Lucy menatap Alex heran, mengapa tingkah laku Alex seperti itu setelah memakan biskuitnya. Apa menurut Alex biskuitnya tidak enak dan tidak layak untuk di makan oleh keluarganya?
Saat sedang memperhatikan Alex yang masih di dapur, tiba-tiba Lucy di kejutkan oleh kedatangan Andre yang sudah berdiri di sampingnya tanpa suara.
"Kamu sedang melihat apa?" tanya Andre mengejutkan Lucy.
"Astaga Tuhan, mas kamu itu ya." ucap Lucy terkejut.
"Ibu dan Ratih pergi berkeliling mungkin berbelanja, sedangkan Alex dia ke dapur mengambil toples biskuit satu lagi." ucap Lucy.
"Biskuit? Apa kau membuat biskuit?" tanya Andre.
"Itu, cobalah. Aku membuatnya semalam." ucap Lucy.
Andre mengambil biskuit dan memakannya.
"Kau pandai dalam membuat biskuit Lucy, kenapa tidak pernah membuatkannya untuk ku?" tanya Andre heran.
__ADS_1
"Apakah rasanya enak?" tanya Lucy.
"Ini sangat enak, aku menyukainya. Aku akan menghabiskan ini sendirian." ucap Andre sambil memeluk toples berisi biskuit buatan Lucy.
Lucy tersenyum melihat tingkah laku kekasihnya yang seperti anak kecil itu. Ia benar-benar bersyukur Andre selalu menyukai apapun yang ia buat.
"Apa kau kesulitan selama aku pergi?" tanya Andre sambil meminum susu yang seharusnya untuk Alex.
"Mas itu susu buat Alex." ucap Lucy memberitahu.
"Aku tidak perduli, kau tidak perlu membuatkannya minuman ataupun makanan. Cukup membuatkan ku sendiri saja." ucap Andre.
Lucy hanya tertawa melihat Andre yang seakan cemburu terhadap adiknya sendiri. Tak lama kemudian Alex kembali dari dapur dan melihat biskuit yang sudah setengah toples di habiskan oleh Andre. Bahkan susu yang di buatkan Lucy untuknya pun kini tidak bersisa.
"Kemana susu dan biskuit ku." teriak Alex.
"Aku haus, sudah ku minum." ucap Andre santai.
"Kau... Kau... Kemarikan biskuit itu, itu milik ku." ucap Alex mencoba merampasnya.
"Yang benar saja, Lucy membuat ini untuk di makan bersama-sama. Aku yakin kau sudah menyembunyikan satu toples yang lainnya, jadi yabg ini milik ku dan hai berhutang satu biskuit di dalam toples ini." ucap Andre mengelak dari serangan adiknya yang mencoba mengambil toples di genggaman tangan Andre.
"Arrgh Lucy kau benar-benar kejam, kenapa kau memberikan itu kepadanya? Aku sudah mengatakan kepada mu tadi untuk tidak memberikannya kepada siapa pun." ucap Alex kesal.
__ADS_1
"Aku akan membuatkannya lagi nanti jika kalian menyukainya, jadi berhentilah bertengkar seperti ini." ucap Lucy melerai pertengkaran antar adik kakak ini.