
Hari sudah semakin senja, dengan rasa gugup Andre menemui nenek Grace yang duduk bersantai di kursi goyangnya sambil menonton televisi. Sedangkan Lucy berada di kamar sedang menyusun pakaiannya yang tadi di bawanya dari kota.
"Apa ada sesuatu yang ingin kau sampaikan?" tanya nenek Grace seakan mengerti gelagat Andre.
"Ah, iya. Sepertinya hari sudah semakin senja, saya akan berpamitan untuk kembali ke kota nek." ucap Andre.
"Apa kau tidak akan menginap di sini? Bagaimana bisa kau membuktikan keseriusan mu kepada cucu ku jika aku tidak melihat secara langsung kelakuanmu sebenarnya." ucap nenek Grace.
"Maksudnya nek?" tanya Andre heran.
"Maksudku tinggal lah beberapa hari dan buktikan semua ucapan mu yang mengatakan jika tidak semua laki-laki kalangan atas hanya bisa memanfaatkan seorang gadis." ucap nenek Grace menjelaskan.
Andre terdiam sejenak, ia yakin nenek Grace mempunyai trik khusus untuk mengujinya dalan beberapa hari ke depan. Namun bukan Andre namanya jika menyerah sebelum mencobanya secara langsung.
"Baiklah nek, saya akan tunjukan kepada nenek siapa saya yang sebenarnya." ucap Andre.
Nenek Grace mengangguk sambil menatap Andre yang penuh dengan tatapan keseriusan.
"Baiklah, kamarmu di sana. Jangan berharap kau bisa satu kamar dengan cucuku, bersihkan diri mu dan ingat aku tidak suka dengan kamar yang berantakan." ucap nenek Grace mengingatkan.
"Baiklah nek, terimakasih karena telah memberikan ku izin untuk menginap." ucap Andre.
Lucy keluar dari kamarnya, ia melihat nenek dan Andre sedang berbincang berdua. Lucy berjalan mendekati nenek dan Andre dengan rasa penasaran.
"Apa yang kalian bicarakan? Kenapa tidak mengajak ku? Seperti ya kalian lebih suka berbicara berdua tanpa adanya aku." tanya Lucy bertubi-tubi.
__ADS_1
"Nenek, aku permisi mau ke kamar dulu." ucap Andre pamit.
Nenek Grace hanya mengibas-ngibaskan tangannya menyuruh Andre pergi. Lucy yang melihat itu semakin penasaran dengan apa yang barusan mereka bahas.
"Nenek, katakan pada ku apa yang kalian bahas saat aku tidak ada?" tanya Lucy.
"Aku dan dia tidak membahas apa-apa, aku hanya menyuruhnya untuk menginap beberapa hari. Setidaknya akan ada yang membantuku di kebun saat masa panen seperti ini." ucap nenek Grace.
"Yang benar saja dia tidak akan mungkin bisa melakukan semua pekerjaan itu, nenek jangan lakukan itu padanya." ucap Lucy.
"Apa laki-laki seperti itu yang kau inginkan menjadi suamimu? Yang tidak dapat melakukan apa-apa saat hidup susah? Apa kau bisa hidup jika seandainya nanti suatu saat dia akan mengalami bangkrut dan kalian akan melarat?" tanya nenek Grace.
"Kenapa nenek berkata seperti itu?" tanya Lucy balik.
Lucy merenung mendengarkan ucapan nenek Grace, apa yang di katakan oleh neneknya itu adalah kenyataannya, dan tidak dapat dipungkiri jika kehidupan manusia terkadang di atas dan terkadang di bawah.
"Baiklah nek, aku akan mengingat pesan nenek. Tapi aku benar-benar tidak yakin jika Andre akan bisa membantu nenek besok di kebun. Jadi, tolong jangan terlalu keras kepadanya." ucap Lucy memohon.
"Kau benar-benar menyukainya sampai-sampai takut dia kesusahan?" tanya nenek Grace.
Lucy mengangguk kuat, sambil memasang wajah sedih.
"Baiklah-baiklah, aku tidak akan keras kepadanya besok. Jadi sekarang pergilah beristirahat, perjalanan siang tdi sudah membuat tubuhmu lelah bukan?" tanya nenek Grace.
"Tidak, aku akan di sini menemani nenek menonton televisi. Jadi, apa yang nenek tonton?" tanya Lucy.
__ADS_1
Lucy melihat ke arah televisi yang membuka siaran telenovela kesukaan neneknya.
"Ah yang benar saja, nenek masih menonton ini? Sudah dari dulu film ini kenapa tidak tamat-tamat?" tanya Lucy heran.
"Diam lah dan duduk jika kau juga ingin menonton bersama ku. Apa yang kau harapkan dari seorang wanita tua seperti ku ini, aku menyukai film ini walaupun tidak selesai-selesai." ucap nenek Grace.
"Nenek, apa nenek kesepian saat aku tinggal ke kota?" tanya Lucy tiba-tiba.
"Pertanyaan macam apa yang keluar dari mulut mu itu? Tentu saja aku kesepian, tapi aku tidak terlalu merasakannya karena aku menyibukkan diri. Hampir setiap hari aku pergi keluar rumah untuk berkebun dan pulang di sore hari." ucap nenek Grace.
"Maafkan aku nek, jadi apa nenek mau ikut aku nanti saat kembali ke kota?" tanya Lucy.
"Aku tidak terbiasa dengan kehidupan di kota, terlebih lagi nantinya rumah ini siapa yang akan menjaganya jika aku pergi dari sini." ucap nenek Grace sambil memperhatikan seluruh sudut rumahnya.
"Tapi keluarga yang aku miliki hanya nenek seorang, aku ingin nenek menikmati masa tua nenek bersama ku tanpa perlu bersusah payah merawat tanaman." ucap Lucy.
Nenek Grace diam mendengar ucapan cucunya itu, sedari dulu ia tidak pernah meninggalkan daerah ini untuk melihat megahnya kota. Sampai terakhir kali ia di kecewakan oleh anaknya yang sudah dibutakan oleh kemewahan dan gemerlap kota. Sampai-sampai ia rela meninggalkan anak beserta istrinya dan tidak mengingatnya sampai sang istri tutup usia.
"Lucy, ingatlah pesan ku yang satu ini. Jika kau sudah di kecewakan oleh indahnya kota, kau bisa kembali ke rumah ini. Jadi, biarkan aku merawatnya sampai saat kau kembali." ucap nenek Grace dengan mata yang berkaca-kaca.
"Nenek, jangan berkata seperti itu. Aku tidak menyukainya." ucap Lucy marah.
"Kau sudah dewasa, dan kau juga tau kematian seseorang pasti akan terjadi walau kita tidak tahu kapan itu akan terjadi. Jadi biarkan aku di sini merawat semua yang kita miliki, jadi kau ada alasan untuk pulang jika kau lelah di keriuhan kota nantinya." ucap nenek Grace.
Lucy meneteskan air mata, ia tidak sanggup membayangkan jika kehilangan nenek yang sudah membesarkannya selama ini. Walaupun kematian tidak dapat di hindari tapi setiap manusia harus siap dengan itu semua.
__ADS_1