S.H.E (Wanita Yang Kubeli)

S.H.E (Wanita Yang Kubeli)
#115


__ADS_3

Andre bergegas mencari gelas dan memasukan air hangat ke dalam gelas itu, wajah Andre benar-benar terlihat panik. Ini kali pertama ia melihat Lucy menangis di hadapannya, selama saat bersamanya Lucy adalah gadis yang kuat dan selalu ceria.


Di dalam kamar Lucy menangis tersedu-sedu, sebenarnya perutnya tidak terasa sakit hanya saja dia benar-benar tidak bisa menahan rasa cemburu dan sakit hatinya karena Andre menceritakan wanita lain di hadapannya. Lucy menutup mulutnya agar tangisnya tidak terdengar keluar dan saat ini ia berharap Andre segera pulang. Ia ingin sendiri saat ini, namun tidak mengerti bagaimana caranya untuk meminta Andre pulang. Lucy benar-benar merasa sedih mendengar semua cerita Andre.


Tiba-tiba Andre masuk ke dalam kamar dengan membawa segelas air hangat dan juga kantong plastik berisi air hangat. Ia mendekati Lucy yang masih terbaring di atas kasur.


"Ayo bangun pelan-pelan, minum air hangatnya dan letakan ini ke perut mu." ucap Andre memberikan gelas dan kantong plastik berisi air hangat.


Lucy mengambilnya dan meletakan kantong plastik berisi air hangat itu ke perutnya, Andre membantu Lucy meminum air hangatnya.


"Bagaimana? Apa masih terasa sakit?" tanya Andre khawatir.


Lucy mengangguk pelan, Andre mengambil gelas dari tangan Lucy dan memeluk kekasihnya itu sambil menepuk-nepuk pelan punggung Lucy. Tangis Lucy semakin pecah di dalam pelukan Andre, ia benar-benar takut kehilangan laki-laki ini.


"Tenanglah, aku di sini. Aku akan menemani mu malam ini, kau istirahat saja." ucap Andre lembut.

__ADS_1


"Tidak apa-apa, lebih baik kamu pulang saja. Aku takut nanti ibu mencari dan mengkhawatirkan diri mu." ucap Lucy pelan.


"Bagaimana bisa aku pulang dengan kondisi mu seperti ini, kau orang yang sangat aku sayangi. Aku tidak akan pergi sebelum kau pulih." ucap Andre.


"Tapi ibu mu akan marah..." ucap Lucy terputus.


"Sudahlah, tidak perlu memikirkan dirinya. Kau istirahat, aku akan menelepon Ratih untuk mengabarinya." ucap Andre.


Lucy hanya diam tidak menjawab ucapan Andre, saat seperti ini pun Andre sudah meminta izin kepada Ratih. Nampak jika hubungan mereka sudah semakin jauh dan sulit bagi Lucy menjangkau untuk meraih Andre.


"Ratih, lucy sakit. Sepertinya aku tidak bisa pulang malam ini, apa kau punya solusi?" tanya Andre.


"Ah dia sakit apa? Apa perlu aku memeriksanya?" tanya Ratih.


"Oh ya, kau seorang dokter. Bagaimana bisa aku lupa akan hal itu, baiklah apa kau bisa ke sini? Aku akan mengirimkan alamatnya kepada mu jika kau tidak keberatan." ucap Andre.

__ADS_1


"Baiklah aku akan segera kesana." ucap Ratih.


Andre mematikan ponsel dan segera mengirimkan alamat apartemen Lucy, ia lupa jika Ratih adalah seorang dokter. Andre masuk ke dalam kamar dan melihat Lucy yang sudah sedikit jauh lebih baik.


"Bagaimana, apa perut mu masih terasa sakit?" tanya Andre.


"Tidak, sekarang jauh lebih baik." ucap Lucy.


Andre duduk di samping Lucy dan meletakan Lucy kedalam pelukannya. ia mengusap lembut kepala gadi itu sambil sesekali mencium kepalanya.


"Sepertinya kau terlalu banyak bekerja akhir-akhir ini. Aku akan menyuruh Luna membuatkan cuti untuk mu." ucap Andre.


"Tidak perlu, aku akan bosan jika tidak bekerja nanti." ucap Lucy.


"Aku akan mengantar mu ke desa, sudah lama kau tidak melihat nenek mu bukan?" tanya Andre.

__ADS_1


Lucy bangkit dari dekapan Andre dan menatap wajah Andre dengan bersemangat, sepertinya ide yang di berikan Andre ada baiknya. Karena ia bisa mencari solusi dan bertukar pikiran dengan neneknya akan masalah yang ia hadapi kini.


__ADS_2