S.H.E (Wanita Yang Kubeli)

S.H.E (Wanita Yang Kubeli)
#41


__ADS_3

Andre memikirkan keadaan Lucy dari pagi tadi. Nampak di wajahnya menyimpan ke khawatiran akan masalahnya. Andre menelepon Luna untuk memastikan kondisi Lucy saat ini.


"Luna, apa pekerjaan Lucy sangat banyak?" tanya Andre


"Owh tidak pak, apa anda ada perlu dengannya?" tanya Luna.


"Tidak usah, biar aku saja yang menemuinya langsung." ucap Andre sambil mematikan teleponnya.


Luna terdiam mendengar ucapan bosnya itu, entah sejak kapan bosnya mau mengurusi masalah karyawan dengan mendatanginya secara langsung. Tak lama Andre telah turun dari ruangannya dan tiba di ruangan Lucy bekerja.


Melihat bos besar mereka datang, semua karyawan berdiri dengan wajah gugup dan bertanya-tanya. Ada apa seorang bos besar turun ke ruangan karyawan seperti ini? Pikiran mereka antara takut dan panik.


"Owh pak, apa ada masalah sehingga anda harus turun secara langsung ke sini?" tanya Mr. Gary sedikit takut.


"Tidak, lanjutkan pekerjaan kalian. Aku hanya mencari Lucy." ucap Andre santai.


Andre berjalan mendekati Lucy yang terdiam. Semua mata karyawan tertuju pada Lucy, bagaimana tidak, ia adalah anak baru dan sudah di cari oleh bos besar mereka.


"Lucy, masalah apa yang sudah kau buat sampai-sampai bos datang secara langsung untuk mencari mu?" tanya Rosy berbisik pada Lucy.


"Aku? Aku tidak melakukan apapun, aku selalu mengerjakan pekerjaan ku dengan benar." ucap Lucy merasa aneh.


"Semoga kau benar-benar tidak dalam masalah besar Lucy." ucap Rosy takut.


Lucy benar-benar bingung, kenapa Andre datang menemuinya secara pribadi seperti ini. Kenapa dia tidak meneleponnya saja agar Lucy datang untuk menemuinya di ruangan Andre.


"Kemari barang-barang mu dan pindah ke ruangan ku sekarang." ucap Andre kepada Lucy.


Sontak saja ucapan Andre membuat seisi ruangan itu tercengang termasuk Lucy.


"Kenapa? Aku cukup bekerja di sini saja, jika kau butuh kan kau bisa menelepon ku." ucap Lucy polos.


"Apa aku perlu mengulangi ucapan ku dan memberikan mu alasan akan hal itu?" tanya Andre serius.


"Aku tau kau seorang bos, tapi jangan seperti ini. Aku akan mengemasi barang-barang ku, kau bisa pergi duluan." ucap Lucy.

__ADS_1


"Baiklah, jangan terlalu lama." ucap Andre meninggalkan ruangan itu.


Semua orang memandangi Lucy dengan tatapan heran, bagaimana mungkin seorang karyawan biasa berbicara seperti itu kepada atasannya.


"Wahhh.... Lucy kau benar-benar berani." ucap Rosy sambil bertepuk tangan.


"Kenapa? Aku tidak melakukan kesalahan apa-apa padanya." ucap Lucy.


"Kau baru saja berbicara dengan bos besar, CEO perusahaan ini dan kau menganggap itu biasa saja?" tanya Rosy.


"Ya, aku biasa berbicara seperti itu kepdanya setiap hari. Jadi dimana letak masalahnya?" tanya Lucy polos.


"Setiap hari? Kau bertemu dan berbicara dengannya setiap hari?" tanya Rosy tak percaya.


"Ya... Bahkan semalam...." Lucy menghentikan ucapannya.


Lucy baru sadar akan apa yang ia dan Andre lakukan barusan adalah hal yang salah. Bagaiman mungkin ia memperlakukan Andre seperti biasa saat mereka berdua saja. Tentu saja itu menjadi pertanyaan besar bagi mereka yang ada di ruangan itu. Semua orang bahkan tidak ada yang tau hubungan mereka.


Lucy duduk di mejanya dengan rasa canggung akan tatapan seluruh teman-teman kantornya.


______________


"Hei, apa aku membuat masalah kepada mu? Wajah mu berkerut sangat banyak." ucap Andre yang masih duduk di kursinya.


"Kau tiba-tiba datang ke mejaku seolah-olah semua orang tau akan hubungan kita. Sekarang mungkin sudah banyak gosip yang beredar di luar sana." ucap Lucy duduk di sofa.


"Biarkan saja, itu tidak akan lama. Lagi pula kenapa kau harus takut? Kau kan bukan selingkuhan ku atau pun seorang perebut pacar orang bukan?" tanya Andre santai.


"Aku terlalu kesal untuk berdebat dengan mu, apa yang harus ku kerjakan di sini?" tanya Lucy mengalah.


"Kerjakan saja pekerjaan mu seperti biasa dengan leptop ini." ucap Andre menunjuk sebuah leptop di hadapannya.


Lucy berjalan mendekati meja Andre dan mengambil leptop yang ada di meja Andre. Wajahnya tetap saja berkerut dan tidak menunjukan sisi kebahagiaan.


"Kau menyuruh ku mengerjakan pekerjaan seperti biasa, kenapa harus berada di sini? Menyebalkan." batin Lucy.

__ADS_1


Melihat mood Lucy yang benar-benar buruk, Andre memesan beberapa ice cream dan cemilan untuk di bawakan ke kantornya. Ia berharap semoga dengan itu mood Lucy yang kurang baik menjadi sedikit membaik. Tak lama Luna mengantarkan pesanan Andre mengetuk pintu ruangannya.


Tok.... Tok.... Tok....


"Permisi pak, saya mengantarkan pesanan anda. Kurir bilang ini adalah pesanan anda." ucap Luna.


"Ya, letakan saja di meja itu dan kau bisa kembali ke tempat mu." ucap Andre tanpa melihat ke arah Luna.


Luna mengerjakan apa yang di perintahkan atasannya itu dan segera keluar. Ia benar-benar merasa heran kenapa bos menyuruh Lucy si anak baru itu mengerjakan pekerjaannya di ruangan seorang bos besar seperti itu.


"Aku yakin dia sudah menggoda bos Andre untuk mendapatkan simpatik dan perhatian dari bos. Bagaimana mungkin seorang anak baru bisa langsung sedekat itu dengan bos Andre." batin Luna.


Lucy melirik bingkisan yang baru saja di antar oleh Luna, ia sedikit penasaran dengan apa isi yang ada di dalamnya. Andre yang melihatnya pun tersenyum dengan tingkah laku Lucy.


"Bukalah, jika tidak itu akan mencair dan tidak enak lagi di makan." ucap Andre tanpa melihat ke arah Lucy.


"Kau tak perlu menyogok ku seperti ini. Aku tidak akan dengan mudah untuk memaafkan mu." ucap Lucy membuka plastik kemasan sambil menahan senyumnya.


Lucy membuka kemasan plastik yang ternyata berisikan ice cream, coklat dan cemilan. Ia tersenyum melihat itu semua dan mengarahkan pandangannya ke Andre yang serius bekerja. Ia pun mendekati Andre dengan membawa ice creamnya.


Saat bekerja Andre benar-benar fokus sampai tidak menyadari jika Lucy kini telah ada di sebelahnya. Dengan iseng Lucy menyuapi Andre yang sedang serius dengan ice cream. hal itu pun membuat Andre terkejut dan tersadar wanitanya sedang menganggunya. Dengan cepat Andre menarik lengan Lucy dan membuat Lucy terduduk di pangkuan Andre.


"Jika kau ingin menyuapi ku kau harus duduk dengan tenang dan suapi aku baik-baik ok." ucap Andre sambil menatap mata Lucy.


"Lepaskan aku, aku akan menyuapi mu. Tapi tidak seperti ini." ucap Lucy memberontak.


Namun bukan Andre namanya jika tidak bisa menahan Lucy di pangkuannya. Hal itu pun membuat Lucy menyerah dan melanjutkan menyuapi Andre.


"Aku tidak mau itu." ucap Andre mengelak dari suapan Lucy.


"Jika kau tidak suka biar aku sendiri yang memakannya." ucap Lucy sambil menyuap ice ke mulutnya.


Melihat itu, Andre langsung mencium bibir Lucy yang baru saja memakan ice dan itu sontak membuat Lucy terkejut.


"Ya, ice ini benar-benar manis." ucap Andre tersenyum licik.

__ADS_1


"Kau.... Benar-benar seorang mesum." ucap Lucy pelan.


Andre kembali fokus kepada pekerjaannya dan Lucy kembali menikmati ice cream di pangkuan Andre. Ia benar-benar tidak bisa lepas dari cengkraman lelaki seperti ini dan tersenyum melihat tingkah laku Andre.


__ADS_2