S.H.E (Wanita Yang Kubeli)

S.H.E (Wanita Yang Kubeli)
#51


__ADS_3

"Maaas... Kamu ada di dalam?" teriak Lucy dari luar pintu ruang kerja Andre.


panggilan Lucy sontak membuat Andre dan Leon terkejut, terlebih lagi Leon yang tak pernah menyangka jika wanita itu sudah bisa masuk ke dalam apartemen Andre dengan sendirinya dan mengetahui sandi kediaman Andre.


"Iya, aku di sini. Masuklah." ucap Andre yang masih sedikit kaget.


Andre merasa tegang, ia berpikir bagaimana jika Lucy mendengar semua percakapannya dengan Leon barusan. Lucy masuk ke dalam ruang kerja Andre dan melihat ada sosok laki-laki lain di sana. Dengan pandangan bingung Lucy melihat ke arah Andre dan Andre mengerti akan hal itu.


"Lucy, dia Leon. Dia sahabat ku waktu kuliah dulu." ucap Andre memperkenalkan.


Lucy dan Leon pun berjabat tangan untuk saling berkenalan. Leon menatap lekat ke wajah Lucy, ia tak percaya wanita yang di sukai sahabatnya ternyata hanya wanita biasa tanpa kelebihan apa-apa.


"Baiklah kalau begitu aku akan meninggalkan kalian berdua. Besok kita akan adakan pertemuan dengan perusahaan JK, kau jangan lupa itu." ucap Leon sambil berjalan pergi meninggalkan Lucy dan Andre.


Andre hanya mengangguk mengiyakan ucapan sahabatnya itu. Lucy dan Andre masih dalam keheningan mereka.


"Bukannya kamu tadi bilang ingin cepat pulang dan istirahat? Ada apa mencari ku? Kau bisa meneleponku saja seharusnya." tanya Andre tersenyum ke arah Lucy.


"Aku.... Tiba-tiba aku ingin makan malam bersama mu, apa kamu sibuk?" tanya Lucy beralasan.


"Tidak, aku hanya membahas meeting besok dengan Leon. Ayo kita pergi makan." ajak Andre mengambil ponselnya di meja.


"Baiklah, hari ini aku ingin makan ayam." ujar Lucy sedikit manja.


Andre tersenyum dan mengangguk melihat pacarnya yang bergelayut di lengannya. Lucy terlihat imut saat bermanja seperti itu. Mereka pun pergi menggunakan mobil Andre menuju restoran cepat saji.


Di perjalanan Lucy hanya terdiam memandangi ke arah luar jendela, pikirannya masih tertuju pada apa yang di katakan oleh karyawan kantor dan sahabat Andre tadi. Apa yang mereka katakan ada benarnya, tak sewajarnya wanita sepertinya bersanding dengan sosok Andre yang sangat bercahaya.


"Ada apa? Kau terlihat kurang bersemangat seperti biasanya." tanya Andre yang memperhatikan Lucy sedari tadi.


"Owh, tadi ayah datang menemui ku." ucap Lucy singkat.


"Apa...? Kenapa dia berani menemui mu? Kau tidak apa-apa?" tanya Andre sedikit cemas.


"Tidak, dia hanya berkunjung dan tidak melakukan apa-apa kepada ku. Awalnya aku ingin menolaknya, namun aku sadar mau bagaimanapun dia tetaplah ayah ku dan keluarga ku." ucap Lucy pelan.

__ADS_1


"Jadi maksudmu kau akan memaafkan semua yang ia lakukan terhadap ku selama ini?" tanya Andre serius.


"Mas, apa yang akan kau lakukan jika berada di posisi ku? Haruskah aku membenci ayah kandung ku sendiri?" tanya Lucy balik.


Andre terdiam mendengar ucapan Lucy, tak salah jika Lucy berkata demikian. Mau bagaimanapun darah lebih kental dari air, ia pun tidak berhak menahan apa kemauan Lucy dan haknya.


"Baiklah jika kau berfikir seperti itu, tapi jika ada sesuatu kau harus langsung memberitahu ku ok." ucap Andre memastikan.


"Tentu saja, ahh aku benar-benar sudah sangat lapar." ucap Lucy mengalihkan pembicaraan.


Andre tersenyum mendengar ucapan yang keluar dari mulut Lucy, ia menginjak gas mobil agar lebih cepat tiba di restoran cepat saji. Di sisi lain Lucy memendam semua kegelisahannya di dalam hati, ia tak bisa menceritakan semua persoalan yang di hadapinya ke Andre. Hal ini akan membuat Andre mengalami kesulitan dan kerepotan jika ia selalu bergantung dengan Andre.


Setelah selesai makan, Andre mengantar Lucy pulang ke apartemennya. Setiba di rumah Lucy langsung menutup pintunya dan langsung menuju kamarnya. Lucy membaringkan tubuhnya di kasur dan menatap langit-langit kamar, pikirannya menerawang ke mana-mana. Ia masih belum bisa meringankan beban pikirannya. Lucy pun menelepon sahabatnya Carlo, mungkin saja Carlo dapat membantu masalahnya setidaknya meringankan beban pikirannya.


"Carlo, aku butuh bantuan mu." ucap Lucy menelepon sahabatnya.


"Ada apa? Tidak seperti biasanya kau menelepon ku di tengah malam seperti ini? Ada masalah apa?" tanya Carlo bertubi-tubi.


"Bisakah kau menginap di rumah ku hari ini? Sudah lama kita tidak menghabiskan waktu bersama-sama, kebetulan besok juga aku libur." ucap Lucy.


"Tidak, aku tidak butuh apa-apa. Aku baru saja pulang makan di luar dengan Andre,perut ku sudah kenyang." ucap Lucy.


"Baiklah kalau begitu." ucap Carlo singkat.


Lucy mematikan ponselnya dan menatap layar ponselnya itu, terpajang foto dirinya dan Andre berdua. Foto itu di ambil saat mereka pergi ke pantai saat Andre mencoba menghiburnya karena kegaduhan yang di buat ayah Lucy.


Mata Lucy kembali menerawang ke langit-langit kamar, ia benar-benar sangat takut untuk kehilangan Andre karena saat ini ia benar-benar mencintai Andre. Namun di sisi lain Lucy menyadari akan ketidakpantasan dirinya untuk Andre yang bisa di katakan sosok lelaki yang sempurna.


Tok... Tok... Tok...


Pintu apartemennya di ketuk, kemungkinan itu adalah Lucy yang tiba. Dengan bersemangat Lucy membukakan pintu untuk sahabatnya itu, dengan wajah ceria Lucy menyambut kedatangan Carlo.


"Hai, masuklah." ucap Lucy.


"Ku kira kau mengalami masalah yang amat serius, tapi setelah melihat mu sepertinya tidak ada tanda-tanda terjadi sesuatu." ucap Carlo sambil berjalan masuk.

__ADS_1


Lucy membuatkan minuman untuk sahabatnya itu sedangkan Carlo menunggu Lucy duduk di meja makan sambil melihat sahabatnya membuatkan minum.


"Sahal yang ingin aku ceritakan padamu soal hubungan ku." ucap Lucy serius.


"Ada apa? Apa dia sudah menemukan wanita lain dan kini kau di campakkan nya?" tanya Carlo penasaran.


Lucy menggeleng keras menandakan ucapan Carlo salah.


"Bukan.... Bukan itu yang terjadi, hubungan ku dan Andre sebenarnya baik-baik saja. Namun semakin ke sini aku merasa sedikit tertekan dengan pesona Andre." ucap Lucy memberikan mug berisi minuman ke Carlo.


"Tertekan? Bukannya kau sudah tau dari awal jika pacar mu itu adalah seorang yang super wah." ucap Carlo.


"Ya aku kira dulu mungkin aku dapat mengatasi itu semua, tapi makin ke sini aku merasakan apakah aku pantas menjadi pacar seorang bos besar seperti dia?" ucap Lucy murung.


"Sebentar, kenapa kau bisa berpikir seperti itu? ini tidak seperti kau yang biasanya." tanya Carlo penasaran.


"Seluruh karyawan kantor sekarang sudah mengetahui hubungan ku dengan Andre, aku pun sudah menjadi bahan gunjingan di setiap sudut ruangan. Mereka berpikir aku masuk ke perusahaan itu karena status ku sebagai pacar Andre." ucap Lucy mencoba menjelaskan.


"Lucy, berhenti untuk memikirkan gunjingan orang. Kini kau harus mencoba untuk mendukung dirimu sendiri, kau juga manusia dan berhak mendapatkan bahagia. Orang-orang berbicara hanya karena mereka tidak mengetahui hal sebenarnya." ucap Carlo mencoba menyemangati sahabatnya.


Lucy hanya diam tanpa kata sambil menatap ke dalam gelas miliknya.


"Lucy,kau juga sudah melewati masa-masa yang sulit dan ini baru awalnya saja, apa kau akan menyerah dengan mudah seperti ini?" tanya Carlo serius.


"Bukan masalah itu Carlo, kemarin ayah ku juga datang kesini. Dia memberitahu ku sesuatu kenyataan yang membuka lebar mata ku, dia menyadarkan ku dengan status ku yang hanya seorang anak dari keluarga yang berantakan." ucap Lucy.


"Apa kau sudah menceritakannya ke Andre? Aku yakin Andre akan menerima mu apa adanya." ucap Carlo yakin.


"Bukan hanya itu Carlo, di samping Andre saat ini bukan hanya ada aku seorang. Tapi ada seorang wanita lain yang mendukungnya sejak lama dan wanita itu terang-terangan mengatakan pada ku menyukai dan ingin bersaing dengan ku untuk mendapatkan Andre." ucap Lucy semakin galau.


"Ohh good, apa wanita itu benar-benar sudah kehilangan akalnya? Bagaiman bisa dia mengambil lelaki yang sudah memiliki pacar?" tanya Carlo serius.


"Tidak, dia tidak mengambilnya Carlo. Dia lebih dulu kenal dengan Andre di banding dengan aku, terlebih lagi dia yang selama ini membantu dan ada di samping Andre sebelum aku. Bahkan dia meminta izin terlebih dahulu kepada ku." ucap Lucy mencoba menjelaskan.


Carlo terdiam mendengar ucapan sahabatnya itu, ia benar-benar tak habis pikir dengan wanita lain yang di ceritakan oleh Lucy. Bagaimana mungki ada wanita lain yang terang-terangan mengatakan ingin mengejar lelaki yang sudah memiliki pasangan pada pacarnya secara langsung.

__ADS_1


__ADS_2