S.H.E (Wanita Yang Kubeli)

S.H.E (Wanita Yang Kubeli)
#118


__ADS_3

Andre berpamitan dengan Lucy untuk pulang, hari sudah semakin larut ia tidak ingin mengganggu waktu istirahat Lucy dan juga tidak ingin membuat ibunya khawatir. Andre dan Ratih pun pulang dari rumah Lucy.


"Ratih, terimakasih untuk hari ini dan juga terimakasih sudah mau mengatakan yang sebenarnya kepada ku. Aku minta maaf karena telah berpikir buruk tentang mu dan menyepelekan dirimu." ucap Andre.


"Aku akan memaafkan mu bila kau mentraktir ku sebuah tas mahal." ucap Ratih sambil tersenyum.


Andre tertawa mendengar ucapan Ratih, ia benar-benar wanita yang tidak menyembunyikan apa keinginannya dan berterus terang.


"Baiklah-baiklah aku akan menuruti permintaan mu." ucap Andre yang masih tertawa.


Mereka tertawa bersama d dalam mobil yang menuju jalan pulang, tak lama mereka tiba di apartemen Andre mendapat sebuah telepon yang tak lain adalah dari ibunya.


"Halo nak, kenapa kalian belum pulang?" tanya ibu Andre.


"Kami sudah ada di lobby apartemen Bu, sebentar lagi tiba di rumah." ucap Andre.


"Ah baiklah, aku kira kalian masih di luar. Aku akan menunggu kalian." ucap ibu Andre.


Andre mematikan ponselnya dan berjalan menuju apartemennya bersama dengan Ratih, namun tiba-tiba Ratih menghentikan langkahnya dan menarik napas panjang. Hal itu membuat Andre menjadi heran.


"Ada apa? Kenapa kau melakukan itu?" tanya Andre heran.


"Apa kau lupa? Kita harus berpura-pura seperti biasanya, aku tidak ingin kau menggagalkan rencana yang sudah ku susun selama ini." ucap Ratih.


"Ah kau benar, aku hampir lupa jika pagi tadi aku masih kesal dengan mu dan tidak ingin melihat mu." ucap Andre.


Andre juga ikut menarik napasnya dan menepuk-nepuk pipinya, sesekali ia melompat bak orang yang sedang gugup menghadapi ujian. Ratih yang melihat itu jauh lebih tercengang dan tertawa, ternyata seorang CEO seperti Andre dapat merasakan gugup juga.


Andre memencet bel rumahnya dan dengan cepat ibunya membukakan pintu, dengan wajah masam Andre masuk dan mengambil segelas air minum. Tak lama kemudian Ratih menyusulnya dari belakang dengan wajah cerianya dan belanjaan di kedua tangannya.

__ADS_1


"Ahh sayang, kemana saja kalian sampai pulang selarut ini? Ibu sangat mengkhawatirkan kalian." ucap ibu Andre.


"Kami berjalan-jalan kebeberapa tempat sampai-sampai aku membeli banyak barang, aku juga memberikan sesuatu untuk ibu. Ayo kita buka siapa tahu ibu suka." ucap Ratih.


"Benarkah? Tapi kenapa kamu membawa barang mu sendiri? Apa Andre tidak membantumu untuk membawakannya?" tanya ibu Andre sambil melirik anaknya.


anda hanya diam dan tidak menanggapi ucapan ibunya, ia berusaha berpura-pura tidak peduli agar ibunya tidak curiga bahwa ia dan Ratih sebenarnya telah bersekongkol.


"Aku akan masuk ke kamar dan beristirahat kalian nikmatilah kebersamaan kalian." kecap Andre berjalan meninggalkan mereka berdua.


"Kenapa terburu-buru sekali? Kenapa kau tidak bercerita kepadaku terlebih dahulu ke mana saja kalian pergi?" tanya ibu Andre.


"Jika ibu penasaran ibu bisa bertanya kepadanya langsung, lagi pula aku pergi ke tempat yang sama dengan wanita itu." ucap Andre pergi.


Andre pergi meninggalkan mereka berdua dan masuk ke dalam kamarnya, yang menutup pintunya dan mengganti pakaiannya. Andre membaringkan tubuhnya di atas kasur dan melihat ponselnya, lalu ia menekan tombol Lucy untuk menghubunginya. Andre ingin memastikan jika kekasihnya itu dalam keadaan baik-baik saja.


"Benarkah? Apa tidak mencurigai mengaku jika kamu menelponku?" tanya Lucy balik.


"Tidak dia sedang ada di luar bersama Ratih, aku tidak mau mengacaukan rencana yang telah disusun oleh Ratih. Jadi aku membiarkannya untuk terus bersama ibu." ucap Andre.


"Hmm aku tidak menyangka jika dia adalah wanita yang baik, aku benar-benar merasa bersalah karena telah berpikir buruk tentangnya." ucap Lucy.


"Kau? Berpikir buruk tentang Ratih? Aku pikir kau tidak sampai sejauh itu." ucap Andre.


"Ya, aku berpikir kenapa dia yang wanita memiliki segalanya harus menerima perjodohan antara kedua orang tua. Menurutku dia wanita yang moderen dan tidak tertarik dengan masalah perjodohan." ucap Lucy.


"Jadi kemarin kau sempat berpikir jika dia adalah seorang wanita yang tamak?" tanya Andre berterus-terang.


"Ya begitulah." ucap Lucy singkat.

__ADS_1


Andre tertawa mendengar ucapan Lucy, di sisi lain ia mengetahui jika kekasihnya itu sangat takut kehilangan dirinya.


"Baiklah, aku juga berpikir hal yang sama sebelumnya. Aku benar-benar tidak suka dengan perjodohan ku dengan Ratih dan berusaha menolak mentah-mentah perjodohan itu. Aku bahkan pernah berkali-kali membentak Ratih dan berbicara jahat kepadanya." akui Andre.


"Benarkah? Kenapa kau berbicara jahat seperti itu kepadanya?" tanya Lucy.


"Ya mau bagaimana lagi, aku tidak suka dengannya." ucap Andre.


Lucy tidak menjawab ucapan Andre, ia tau persis bagaimana reaksi Andre jika tidak menyukai seseorang.


"Baiklah kalau begitu aku akan mematikan ponselnya, kau pergilah untuk beristirahat." ucap Andre.


"Ya, kamu juga istirahatlah." ucap Lucy.


"Besok pagi aku akan menjemputmu dan kita akan berangkat ke tempat nenek mu." ucap Andre.


"Iya, sampai jumpa esok." ucap Lucy mesra.


"Cium aku." ucap Andre tiba-tiba.


"Hah maksud mu?" tanya Lucy heran.


"Kenapa? di sana aku tidak dapat ciuman dari mu, jadi hal wajar jika sekarang aku memintanya bukan?" tanya Andre.


Lucy hanya tersenyum malu mendengar ucapan Andre, bagaimana ia akan mencium Andre saat Ratih berada bersama dengan mereka.


"Baiklah-baiklah, ini dia eemuach." ucap Lucy sambil mengecup ponselnya.


Andre tersenyum lebar mendengar kecupan mesra dari kekasihnya itu, setelah itu ia mematikan ponsel dan meletakkannya di bufet samping kasurnya dan mematikan lampu.

__ADS_1


__ADS_2