
Nenek Grace menyiapkan makanan yang sudah ia masak ke atas meja, dan Lucy membantu wanita tua itu. Sudah lama ia tidak makan di meja makan yang dahulu selalu menjadi tempat favoritnya karena dapat berkumpul dengan ibu dan neneknya sambil bercerita panjang lebar. Mereka dapat menghabiskan waktu yang lama di atas meja makan itu dengan cerita-cerita konyol mereka. Hal yang benar-benar sangat di rindukan setiap anak adalah berkumpul dengan keluarga sambil menikmati makanan yang di masak dengan cinta kasih dari seseorang.
"Ayo kita makan, aku tidak ingin melihat berat badan mu berkurang." ucap nenek kepada Lucy.
"Aku benar-benar tidak sabar untuk merasakan masakan nenek." ucap Lucy yang langsung duduk di kursi sambil mengambil makanan.
"Apa kau tidak melupakan sesuatu?" tanya neneknya.
Lucy terdiam sesaat ia menoleh sambil mencari-cari sesuatu namun tidak menemukan jawaban dari pertanyaan neneknya.
"Aku melupakan apa memangnya?" tanya Lucy heran.
"Kau ini, orang yang di luar sana tidak mau kau kasih makan rupanya?" tanya nenek Lucy.
"Ahhh aku lupa kalau Andre masih di luar. Aku akan mengajaknya masuk untuk makan bersama." ucap Lucy bangkit dari tempat duduknya dan berlari keluar.
Saat di luar ia melihat Andre yang sudah selesai menyusun lobak dan kini duduk di bangku teras sambil menatap jalanan.
"Hai, ayo masuk. Nenek sudah selesai masak dan meminta kita untuk makan selagi masakannya masih hangat." ucap Lucy yang berdiri di ambang pintu.
"Benarkah? Aku kira kau sudah makan duluan tanpa mengingat aku yang sudah kelaparan dari tadi." ucap Andre.
Lucy hanya diam mendengar ucapan Andre yang selalu benar dalam menebak apa yang terjadi.
"Ayolah, perutku sudah berbunyi dari tadi semenjak nenek selesai masak." rengek Lucy.
__ADS_1
Andre berdiri dari tempat duduknya dan mengikuti langkah Lucy masuk ke dalam rumah neneknya. Meskipun rumah itu di tempati oleh seorang wanita tua namun di dalam rumah nampak terawat seakan-akan rumah itu di huni oleh seorang wanita muda. Sepertinya nenek Lucy benar-benar menjaga rumahnya agar tetap bersih meskipun ia tinggal seorang diri dan sudah tua.
"Kemarilah dan cepat habiskan makanan kalian, ini akan dingin jika kalian tetap di sana." teriak wanita paruh baya itu.
"Iya nenek, aku datang. Perut ku sudah tidak sabar di isi dengan makanan yang nenek masak." ucap Lucy.
"Duduklah, aku tidak dapat menyiapkan makanan mewah untuk mu. Jika kau kurang menyukainya, kau bisa memesan dari luar." ucap nenek Lucy kepada Andre.
"Terimakasih karena telah mengizinkan saya makan." ucap Andre.
Andre duduk di sisi meja yang lainnya sambil menatap makanan yang terhidang di meja makan. Ia menatap ragu dengan makanan yang di buat oleh nenek Lucy, bukan karena kebersihannya ataupun makanan yang tidak mewah.
"Semua yang ku masak itu daging sapi, aku tidak pernah makan daging lain selain sapi dan ayam." ucap nenek Lucy yang mengetahui keraguan Andre.
"Oh maafkan saya nek, saya tidak bermaksud..." ucap Andre terputus.
"Maaf jika itu membuat nenek menjadi kurang nyaman." ucap Andre merasa bersalah.
"Aku sudah mengatakan kepadamu bahwa aku hanya makan dua macam daging di dalam hidupku ini. Cukup berdebat dengan ku ayo makan makananmu, itu akan dingin jika kau tidak segera memakannya." ucap nenek Lucy.
"Baiklah." ucap Andre.
Mereka memakan dengan lahap masakan yang di buat oleh nenek Grace, memang masakan rumahan jauh lebih baik di bandingkan dengan masakan cepat saji yang biasa mereka makan. Setelah selesai makan, Lucy mengemas piring-piring kotor dan menyusun semuanya di tempat pencucian piring. Saat sedang membersihkan meja makan tiba-tiba langkahnya terhenti dan menatap heran kepada Andre.
"Apa yang kamu lakukan?" tanya Lucy berjalan mendekati Andre
__ADS_1
"Aku hanya ingin membantu mu mencuci piring, apa itu salah?" tanya Andre.
"Tidak perlu melakukannya, aku akan mencucinya setelah membersihkan meja makan." ucap Lucy.
"Kau bersihkan saja mejanya, kita harus bekerja sama agar pekerjaan ini cepat selesai. Jadi kita bisa lebih cepat untuk beristirahat." jelas Andre yang sudah mulai membasuh piring.
Lucy hanya diam mendengar ucapan Andre, ia kembali ke meja makan dan membersihkan meja lalu menatanya agar rapi kembali. Lucy tersenyum melihat Andre yang tidak sungkan untuk melakukan pekerjaan rumah walaupun ia adalah seorang bos besar.
"Apa yang membuatmu tersenyum lebar?" tanya nenek Lucy tiba-tiba datang di samping cucunya.
"Ah nenek mengagetkan ku, aku hanya melihat dia yang sedang menyucikan semua piring bekas kita makan tadi." ucap Lucy sambil mengelap meja makan.
"Di mana lucunya kau melihat itu sampai-sampai kau tersenyum?" tanya nenek Grace lagi.
"Aku tersenyum karena merasa bersyukur, dia yang seorang bos besar tidak sungkan untuk melakukan hal kecil seperti ini. Bahkan dia selalu meringankan pekerjaan ku nek, semenjak bertemu dengannya aku baru mengetahui jika lelaki itu tidak semuanya jahat." ucap Lucy.
"Itu karena kau belum menemukan sisi buruknya dan kalian baru saling kenal, aku tidak yakin bagaimana sikap aslinya jika kalian sudah menikah nanti." ucap nenek Grace.
"Tapi entah kenapa aku yakin dia akan menjadi seorang suami yang baik nantinya nek. Apa nenek tidak dapat melihat itu dari matanya?" tanya Lucy.
"Aku tidak mengerti mengapa kau memilihnya menjadi kekasih ku, tapi jika itu membuat mu bahagia dan kau yakin dengan hubungan kalian aku bisa apa? Aku hanya akan memberikan restu dan berdoa yang terbaik agar kau bahagia, karena semenjak kematian Hilda aku tidak dapat memberikan kebahagiaan yang utuh kepada mu." ucap nenek Grace.
"Nenek, kepergian ibu memang membuat ku sangat merasakan kehilangan. Tapi adanya nenek di sampingku, aku tidak merasakan kesepian. Aku sangat bersyukur dan berterimakasih karena nenek sudah mau merawat ku." ucap Lucy tulus.
"Ahh bagaimana lagi, jika aku membiarkan mu hidup dengan Boris, belum tentu kau akan menjadi gadis cantik dan tubuh besar dengan baik." ucap neneknya sambil mencubit pipi cucunya.
__ADS_1
Lucy memeluk erat neneknya, ia berharap neneknya tidak pernah tau kenyataan bahwa ayahnya pernah akan menjualnya ke sebuah club' malam. Baginya kini semua itu cukup menjadi kenangan kelam masa lalu yang tidak perlu semua orang tau, karena Andre sudah dengan amat susah mengangkat derajatnya menjadi lebih baik seperti sekarang. Ia tidak ingin mengungkit-ungkit kisah lalu dan membuat reputasi kekasihnya menjadi buruk karena masa lalunya.