S.H.E (Wanita Yang Kubeli)

S.H.E (Wanita Yang Kubeli)
#66


__ADS_3

Carlo tiba di depan kamarnya, ia memperhatikan pintu rumahnya itu dan mencoba mengingat-ingat. Ia yakin sebelum berangkat bekerja tadi ia telah mengunci pintu apartemennya dengan benar. Dengan hati-hati Carlo membuka pintu yang tidak terkunci itu dan langsung menghidupkan lampu ruangan. Alangkah terkejutnya Carlo ternyata yang duduk di sofa nya adalah Boris ayah dari Lucy. Dengan cepat Carlo menutup pintu apartemennya dan berjalan menghampiri Boris.


"Ada apa kau tengah malam datang ke sini?" tanya Carlo heran.


"Aku menunggu-nunggu kabar dari mu tapi sepertinya kau menikmati kehidupan mu yang sekarang." ucap Boris dengan suara beratnya.


"Aku sudah bilang akan menghubungi mu jika situasinya sudah semakin membaik. Aku bahkan baru memulai bekerja di perusahaan yang sama dengan anak mu itu dan belum dapat apa-apa." ucap Carlo.


"Aku tidak yakin kau belum dapat apa-apa dari Lucy, setidaknya dia sudah memberimu uang untuk menyewa sebuah apartemen yang jauh lebih baik di sana. Aku butuh uang itu, jangan pikir kau bisa menguasai uang itu sendirian." ucap Boris marah.


"Aku sama sekali belum di beri uang dengan Lucy atau pacarnya itu. Apartemen di sana di bayar full oleh Andre dengan cara memotong gaji ku. Sepertinya Andre mengetahui rencana ku untuk menguras uang Lucy dan dirinya." ucap Carlo sambil duduk di sebelah Boris.


"Kau harus berusaha sebaik mungkin agar Lucy dan kekasihnya itu percaya padamu. Karena mereka adalah sumber uang yabg berharga dan bermanfaat bagi kita." ucap Boris.


"Bagaimana jika Andre mengetahui niat jahat kita dan membuang ku ke luar? Aku akan jauh lebih susah d bandingkan sekarang." ucap Carlo takut.


"Dengar, aku tidak mau tau apa yang akan kau lakukan. Yang jelas aku sudah memberitahu mu tentang kehidupan Lucy yang mulai meroket dan tugas mu memanfaatkan uangnya untuk kita." ucap Boris.


Carlo hanya diam tidak menanggapi ucapan Boris, ia merasa bingung harus melakukan apa. Karena dari awal Boris memang memanfaatkannya untuk mendekati Lucy demi kepentingannya sendiri. Namun semakin ke sini, Carlo yang telah melihat kehidupan Lucy yang jauh lebih baik dari pada sebelumnya menyimpan rasa iri dan cemburu. Ia pun jadi gelap mata ikut bersekongkol dengan Boris untuk menjadikan Lucy sumber mata uangnya dan ingin merebut Andre dari sisi Lucy.


Namun Carlo tidak menceritakan niatnya untuk merebut Andre Ari Lucy kepada Boris, karena ia dan Boris ternyata menjalin sebuah hubungan asmara di belakang Lucy selama ini.


"Kita harus benar-benar memanfaatkan Lucy yang memiliki kekasih seorang bos besar. Apa kau ingin kita selalu hidup dengan kekurangan uang?" tanya Boris yang tiba-tiba memeluk Carlo dari belakang.

__ADS_1


melihat gelagat baris, Carlo yakin ia datang ke apartemennya untuk bermesraan dengan Carlo.


"Aku lelah hari ini, kau bahkan melihat ku baru pulang tengah malam." ucap Carlo sambil melepaskan pelukan Boris.


"Ahh padahal hari ini aku menang banyak dan bingung ingin menyisihkan uang ku ke mana. Tapi jika kau sedang tidak bergairah aku tidak akan memaksamu sayang." ucap Boris berbisik di telinga Carlo.


Mendengar ucapan Boris yang memiliki banyak uang, Carlo memalingkan pandang dan merangkulkan kedua lengannya di leher Boris dengan manja.


"Ya aku merasa sangat lelah sampai-sampai aku butuh pijatan ekstra malam ini dan juga aku butuh uang yang banyak untuk berangkat kerja besok." ucap Carlo manja.


Boris tersenyum mendengar ucapan Carlo yang mulai tunduk kepadanya.Carlo terbangun dari tidurnya karena bunyi alarm dari ponselnya. Ia melihat layar ponsel dan mematikan alarm yang dari tadi berbunyi, ia menekan-nekan kepalanya yang sedikit pusing karena terlalu banyak minum semalam dengan Boris. Carlo bangun dari tempat tidurnya dan melihat beberapa lembar uang terlipat di atas mejanya.


"Ahh menjijikan, aku harus banyak-banyak bersabar dan bergerak cepat agar bisa lepas dari tangan lelaki tua itu. Aku sudah muak menjadi mainannya." ucap Carlo sambil menghitung uang yang di tinggal Boris semalam.


____________________


Lucy memilih-milih baju yang akan ia pakai hari ini, akhirnya pilihannya tertuju pada dress berwarna peach dan di padukan dengan syal cream. Pakaian yang di kenakan Lucy memang sederhana namun karena tubuhnya yang mendukung membuat semua yang ia kenakan nampak bagus.


"Baiklah, sudah selesai untuk mempercantik diri. Aku benar-benar harus belajar mempercantik diri untuk mempertahankan perhatian kekasih ku." gumam Lucy.


Setelah selesai, ia bergegas turun ke bawah untuk berangkat kerja. Dengan langkah ringan dan riang ia menyambut hari ini. tiba-tiba langkah kakinya terhenti melihat sosok yang ia kenal duduk di lobby apartemen nya. Lucy menghampiri laki-laki itu yang tak lain adalah Boris ayahnya.


"Ayah, kenapa ayah ada di sini pagi-pagi?" tanya Lucy heran.

__ADS_1


"Kau mau berangkat kerja? Aku hanya ingin mengunjungi mu, hanya haha aku yakin kau pasti akan menolak untuk bertemu dengan ku setelah kejadian kemarin." ucap Boris lunak.


Lucy terdiam mendengar ucapan Boris, ia berfikir mungkin ayahnya memang sudah berubah dan menjadi jauh lebih baik.


"Apa ayah sudah makan?" tanya Lucy.


"Aku sudah makan, aku ke sini cuma ingin melihat mu saja. Baiklah kalau begitu, sepertinya kau harus berangkat bekerja." ucap Boris berdiri dari tempat duduknya.


Melihat ayahnya akan pergi meninggalkan apartemennya, Lucy merogoh tasnya dan mengeluarkan beberapa lembar uang untuk di berikan kepada ayahnya.


"Ayah, aku benar-benar minta maaf tidak bisa menemani ayah. Tapi ini ayah pegang dulu, ayah bisa beli makan atau apapun untuk sementara. Nanti jika aku sudah pulang aku akan memasakkan ayah makanan." ucap Lucy.


"Tidak-tidak, simpan uang mu. Sudah ku bilang aku ke sini hanya ingin melihat mu. Aku sedikit kesepian di rumah setelah kau pergi, baiklah kalau begitu aku pulang dulu kau baik-baik bekerja." ucap Boris.


Lucy meraih tangan Boris dan meletakan uang di tangan ayahnya.


"Ayah, aku benar-benar minta maaf. Tapi ayah terimalah uang ini." ucap Lucy memaksa.


"Baiklah kalau begitu, terima kasih. Kamu berangkatlah bekerja, takutnya nanti kamu terlambat." ucap Boris.


"Baiklah kalau begitu aku berangkat dulu." ucap Lucy meninggalkan ayahnya.


Boris melihat Lucy berjalan menjauhi dirinya dan keluar dari gedung apartemen, dengan senyum licik ia menatap kepergian Lucy. Boris yang berpura-pura baik untuk menarik perhatian dari Lucy dan rasa iba Ari anaknya itu tersenyum puas melihat uang yang ada di genggamannya kini. Setelah uang yang ia dapat semalam di berikan ke Carlo, pagi ini ia sudah mendapatkan uang yang jauh lebih banyak dari anaknya. Walaupun harus membohongi perasaan anaknya, ia kini harus dapat meyakinkan Lucy agar dapat menguasai Lucy seutuhnya dan dapat uang dari anaknya tanpa membuat masalah.

__ADS_1


__ADS_2