
"Bu percayalah aku benar-benar sudah bertobat dan tidak akan berani mengulangi kesalahan yang sama." ucap Boris meyakinkan.
Namun nenek Grace tidak menanggapinya dan melihat ke arah Lucy dan Andre mengisyaratkan untuk melanjutkan makan tanpa memperdulikan Boris yang membual dengan ucapannya. Boris yang seakan tidak di pedulikan di dalam rumah itu menjadi semakin berang, namun ia menahan amarahnya takut jika Andre dan Lucy menyadari jika ia sebenarnya tidak pernah bertobat dengan apa yang selama ini sudah ia lakukan.
Selepas makan malam nenek Grace dan Lucy duduk di ruang keluarga sambil menyaksikan layar televisi yang menayangkan film kesukaan nenek Grace. Tiba-tiba saat mereka sedang asyik menonton Boris datang menghampiri mereka dan duduk di sebelah nenek Grace. Namun, Lucy dan nenek Grace tidak terlalu memperdulikan kehadiran lelaki tua itu. Mereka masih memfokuskan pandangan ke layar televisi. Nenek Grace sesekali menyisir rambut Lucy menggunakan jarinya, Lucy semakin betah berbaring di pangkuan neneknya itu.
"Aku sangat suka tidur di pangkuan nenek seperti ini." ucap Lucy sambil menatap nenek Grace.
"Tentu saja kau menyukainya, sedari kau kecil aku sudah melakukan ini kepada mu. Jika bukan aku dan ibu mu yang memanjakan mu siapa lagi?" tanya nenek Grace sambil menyindir Boris.
Lucy hanya menyeringai mendengar ucapan yang keluar dari mulut neneknya itu, sedangkan Boris yang merasa tersindir hanya dapat diam tanpa membantah.
"Jadi, kenapa kau pulang ke sini?" tanya Boris kepada Lucy.
"Apa dia harus punya alasan untuk pulang ke sini? Dia lahir di sini dan besar di sini, kenapa kau mempertanyakan hal yang tidak masuk akal?" tanya nenek Grace balik dengan nada marah.
"Ibu aku hanya bertanya, apa salahnya?" tanya Boris heran.
"Yang salah itu, kenapa kau tiba-tiba pulang? Seharusnya pertanyaan itu lebih cocok untuk dirimu di bandingkan dengan Lucy yang memang sudah dari awal di sini." oceh nenek Grace kesal.
"Aku ke sini ingin menjenguk nenek." ucap Lucy menyela.
Lucy tau perdebatan antara nenek dan ayahnya tidak akan selesai jika ia tidak ikut berbicara.
__ADS_1
"Benarkah? Bukankah ada sesuatu yang ingin kau diskusikan dengan nenek mu ini?" tanya Boris curiga.
"Maksud ayah?" tanya Lucy tidak mengerti.
"Ya, mungkin sesuatu yang jauh lebih besar jadi kau ingin merundingkannya. Kau harus ingat Lucy, mau bagaimanapun aku ini ayah mu, dan kau tidak bisa menggantikan posisiku ini." ucap Boris.
"Aku tidak pernah menggantikan posisi ayah, dan terlebih lagi aku tidak mengerti dengan ucapan ayah." ucap Lucy.
"Kabar yang ku dengar kau ke sini untuk meminta restu kepada nenek mu ini karena kau dan pak direktur itu akan menikah." ucap Boris menjelaskan.
Lucy terperangah mendengar ucapan yang keluar dari mulut Boris, bagaimana bisa ia dapat mendengar berita bohong seperti itu.
"Mau bagaimanapun saat kau menikah nanti yang tertulis sebagai wali adalah aku, yang mengiringi mu saat berjalan di altar gereja juga aku. Kau tidak bisa melangkahi ku begitu saja walaupun nenek mu yang mengurus dirimu sedari kecil." ucap Boris.
"Ya tentu saja, kau kemari memang untuk melakukan itu bukan? Terlebih lagi tuan direktur itu juga ikut bersama mu menemui nenek." ucap Boris.
"Aku sudah bilang pada ayah, aku kesini karena hanya ingin mengunjungi nenek. Tidak ada maksud lain." ucap Lucy menjelaskan.
Boris mengerutkan dahinya seakan tak percaya dengan ucapan Lucy, ia yakin Lucy dan neneknya sudah membahas masalah pernikahan tapi saat ini sedang merahasiakannya dari Boris.
"Yang benar saja." ucap Boris kesal.
"Kenapa? Apa kau kesal karena kenyataannya Lucy belum akan menikah dengan orang kaya itu? Kau berbicara seakan-akan kau takut jika Lucy hanya membawa ku ke rumahnya nanti saat dia sudah berkeluarga. Apa kau sangat berharap anak mu ini menikah dengan orang kaya itu agar kau dapat hidup enak dan dapat berpuas diri untuk membeli minuman dan berjudi?" tanya nenek Grace beruntun seakan dapat membaca pikiran Boris.
__ADS_1
Boris terdiam mendengar ucapan ibunya itu, bagaimana bisa ibunya mengetahui rencananya. Ya siapa yang tidak ingin hidup kaya bergelimang harta, jadi Boris sangat berharap jika putri semata wayangnya itu dapat menjadi istri dari Andre sang tuan direktur.
"Aku terangkan kepada mu, dan kau juga Lucy. Tidak ada satu orangpun yang berhak ikut tinggal bersama mu setelah kau menikah nantinya, bangunlah keluarga mu sendiri. Jangan biarkan satu orangpun mengusik rumah tangga kalian apa lagi menjadi benalu di kehidupan berumah tangga mu." nasihat nenek Grace.
"Kenapa? Kenapa kita tidak bisa tinggal dengan dia? Sudah kewajiban anak menjaga orang tuanya setelah mereka mapan. Terlebih lagi dia adalah anak perempuan ku satu-satunya." ucap Boris seakan tidak setuju dengan ucapan nenek Grace.
Nenek Grace tidak menanggapi ucapan dari anaknya itu, baginya semua yang keluar dari mulut Boris bagaikan angin lalu yang tidak penting untuk di dengar. Bahkan kehadirannya saat inipun sangat tidak di harapkan oleh nenek Grace, ia sangat berharap jika cucunya itu bisa hidup bahagia dan damai tanpa ada gangguan dari siapapun termasuk dari ayahnya sendiri.
"Aku akan mengingat ucapan nenek, tapi untuk sekarang aku tida bisa memastikan akan cepat menikah atau lambat. Aku masih ingin menikmati masa muda ku dan bersenang-senang." ucap Lucy.
"Apanya yang bersenang-senang, setelah kau menikah kau juga dapat melakukan banyak hal. Bahkan kau akan jauh lebih menikmati hidup mu itu." ucap Boris.
"Tidak ayah, aku tidak bisa memaksa Andre untuk menikahi ku." ucap Lucy lagi.
"A-apa? Dia tidak ada niat untuk menikahi mu kenapa mengunjungi nenek mu?" tanya Boris tak percaya.
"Sudah ku katakan sebelumnya, kami ke sini hanya untuk liburan dan menjenguk nenek. Aku dan Andre belum ada pembicaraan ketahap pernikahan, lagi pula dia masih sangat sibuk dengan pekerjaannya dan keluarganya juga baru datang." ucap Lucy.
Boris terdiam mendengar ucapan Lucy, ia merasa patah semangat karena berpikir masih sangat lama baginya dapat menikmati kehidupan mewah dari calon suami anaknya itu.
"Tidak perlu memikirkan hal itu, sekarang kau nikmati kehidupan mu. Kau harus menikmati kerja keras mu selama ini, jika kau buru-buru menikah belum tentu kau dapat menikmati itu semua." ucap nenek Grace membela.
"Aku menyayangimu nek." ucap Lucy sambil mencium punggung tangan neneknya yang sudah mulai keriput.
__ADS_1
Boris tidak dapat menyela ucapan yang sudah keluar dari mulut ibunya itu, ia yakin seribu kali dia berbicara akan ada seribu jawaban pembelaan kepada Lucy nantinya.