
"Jadi apa saja yang kau lakukan selama aku tidak ada? Apa kau merindukan ku?" tanya Andre.
"Hmm tidak banyak yang ku lakukan aku hanya sibuk mengerjakan pekerjaan ku, aku bahkan minta lembur agar tidak bosan di rumah." ucap Lucy.
"Benarkah? Maaf karena beberapa hari ini aku tidak menghubungi mu dan membuat mu seperti orang asing." ucap Andre sambil memegang tangan kekasihnya.
Lucy hanya diam, di dalam hatinya sebenarnya dia benar-benar marah karena Andre mengabaikannya namun mau bagaimanapun Andre berhak untuk bisa berkumpul dengan keluarganya.
"Kamu yakin nggak mau ku buatkan makanan?" tanya Lucy.
"Tidak aku ke sini hanya ingin melihat mu dan menghabiskan waktu dengan dirimu. Kau bosan? Apa kita keluar untuk jalan-jalan?" tanya Andre.
"Tidak usah, baiklah kalau begitu. Ceritakan kemana saja kamu bersama ibu mu pergi?" tanya Lucy penasaran.
"Tidak ada, aku hanya menemaninya berbelanja dan pergi ke beberapa tempat. Dia tidak terlalu menyukai jalan-jalan, tidak seperti Ratih yang hobi berpergian." ucap Andre.
__ADS_1
"Jadi, apa kamu tidak pergi berdua dengan Ratih?" tanya Lucy semakin penasaran.
"Ya hari ini aku pergi berdua saja dengannya." ucap Andre santai.
Lucy terdiam mendengar ucapan Andre, tiba-tiba matanya tertuju pada jari Andre yang kini telah di lingkari oleh sebuah cincin. Entah sejak kapan, sepertinya cincin itu baru saja melingkar di jari manis Andre. Lucy menahan kata-kata untuk bertanya maksud dari cincin yang ada di jarinya itu.
"Kau tau, ternyata Ratih adalah gadis yang cukup baik. Walaupun dia sedikit egois, tapi dia masih menghargai perasaan ku." ucap Andre memuji.
Lucy hanya tersenyum, ia benar-benar tak menyangka jika kekasihnya kini memuji wanita lain di hadapannya. Bahkan wanita itu adalah calon istrinya yang di setujui oleh ibunya, tidak seperti dia yang sudah di acuhkan dari awal. Andre menceritakan kemana saja ia pergi dengan Ratih hari ini, dan cerita itu semakin membuat Lucy terpojok. Tiba-tiba Andre menghentikan ceritanya dan menyadari jika tidak seharusnya ia bercerita dan memuji Ratih d hadapan Lucy.
"Tidak apa, aku senang mendengarkan mu bercerita." ucap Lucy menahan senyumnya.
"Lucy aku benar-benar minta maaf, maaf ini salah ku. Ah tidak seharusnya aku seperti ini." ucap Andre merasa bersalah.
Lucy tidak bisa menahan senyumnya, hatinya benar-benar sakit. Tiba-tiba bulir-bulir bening keluar dari sudut matanya dan Andre melihat akan hal itu.
__ADS_1
"Lucy, kau menangis?" tanya Andre.
"Ahh, maaf mas perut ku dri sore tadi sakit, aku berusaha menahannya dari tadi karena senang melihat mu datang. Tapi, sepertinya semakin ke sini semakin sakit dan aku tidak bisa menahannya lagi." ucap Lucy.
"Benarkah? Apa kau ingin kita pergi ke dokter?" tanya Andre panik.
"Tidak, aku hanya ingin berbaring di kasur. Aku sudah membeli obat dan meminumnya sebelum kamu datang." ucap Lucy.
"Ah baiklah kalau begitu aku akan menggendong mu masuk ke dalam kamar." ucap Andre berdiri dari kursinya.
"Tidak usah, aku bisa berjalan sendiri." ucap Lucy.
"Berhenti membantah, bagaimana mungkin kau bisa berdiri dengan perutmu yang sakit seperti itu." ucap Andre.
Andre langsung mendekat Lucy dan mengangkat tubuh Lucy, ia menggendong Lucy masuk ke dalam kamar dan membaringkan tubuh mungil kekasihnya itu ke atas kasur. Dengan pelan ia meletakan Lucy dan juga menyelimutinya.
__ADS_1
"Tunggu di sini sebentar aku akan mengambilkan air hangat untuk mu." ucap Andre bergegas pergi meninggalkan Lucy di atas kasur.