S.H.E (Wanita Yang Kubeli)

S.H.E (Wanita Yang Kubeli)
#97


__ADS_3

Lucy dengan lahap menghabiskan makanannya tanpa tersisa sedikitpun. Luna hanya memandang Lucy sambil memakan makanannya.


"Apa kau mengisi tenaga mu karena hari ini Andre tidak masuk ke kantor?" tanya Luna.


"B-bukan begitu, hanya saja aku sedikit frustasi." ucap Lucy.


"Kau akan menjadi gendut dan jelek jika kau tidak menjaga makan mu." ucap Luna.


"Nona Lucy, apa menurutmu aku dan Andre dapat bersama suatu saat nanti?" tanya Lucy sendu.


"Mengapa tiba-tiba kau menanyakan itu? Bukanlah selama ini kalian sudah bersama-sama?" tanya Luna heran.


"Maksud ku, apakah nantinya aku bisa menjadi istri Andre dan menua bersamanya?" tanya Lucy lagi.


"Kamu bicara apa? Tentu saja bisa, kalian kan sepasang kekasih, tidak mungkin tidak bisa." ucap Luna.


Lucy hanya terdiam mendengar ucapan Luna, sepertinya Luna masih belum memahami apa maksud dari perkataannya itu.


"Apa ibu Andre menyusahkan diri mu?" tanya Luna.


"Ya, tapi tidak sepenuhnya. Dia hanya mengatakan yang sebenarnya kepada ku." ucap Lucy.


"Hal yang sebenarnya? Maksudnya?"


"Ya, hal-hal seperti status ku, derajat ku dan juga kepercayaan ku." ucap Lucy pelan.


"Ah aku tidak berpikir ibu Andre akan sampai sejauh itu. Tapi, apa Andre memihak kepada mu?" tanya Luna.


"Ya, dia selalu membelaku bahkan sampai berdebat dengan ibunya demi diri ku. Menurutku itu tidaklah pantas di lakukan oleh seorang anak kepada ibunya." ucap Lucy.


"Tapi jika dia tidak membela mu, apa kau akan bertahan dengan Andre? Apa kau akan menerimanya jika ia menuruti semua ucapan ibunya itu?" tanya Luna serius.


"Sebenarnya aku sangat senang melihat Andre membela ku dan mempertahankan ku di depan ibunya. Tapi, aku juga tidak ingin menjadi seseorang yang membuat hubungan antara ibu dan anak hancur." ucap Lucy sedih.

__ADS_1


"Aku yakin Andre pasti punya jalan keluarnya sendiri. Kau cukup tetap berada di sisinya dan mendengarkan semua keluh kesahnya." ucap Luna.


Lucy tidak menjawab ucapan dari Luna, ia juga berpikir mungkin saja apa yang dikatakan oleh Luna ada benarnya.


"Baiklah, ayo kita kembali ke kantor, ini sudah masuk ke jam bekerja." ucap Luna.


"Ya..." jawab Lucy singkat.


Mereka meninggalkan kantin dan menuju ruangan kerja mereka masing-masing. Walau di dalam hatinya sedikit mengganjal, namun Lucy berusaha tetap fokus untuk menjalankan pekerjaannya.


Di sisi lain Andre baru saja bangun dari tempat tidurnya, segera ia melihat ponselnya untuk mengecek pesan yang ada pada pagi hari ini. Dan ternyata Lucy mengiriminya sebuah pesan untuk mengatakan dia berangkat bekerja.


"Selamat pagi jangan lupa sarapan, aku akan berangkat bekerja. Kamu hati-hati saat bepergian nanti, semoga harimu menyenangkan." tulis Lucy.


Andre hanya tersenyum melihat pesan singkat yang dikirim oleh Lucy kepadanya pagi ini. dia segera bangkit dari tempat tidurnya dan berjalan keluar dari kamarnya, ia melihat ibunya yang sudah sibuk membuatkan sarapan untuknya dan untuk yang lainnya.


"Bu tidak bisakah ibu beristirahat saja, aku bisa membelikan sarapan yang siap saji jika ibu mau." ucap Andre.


"Aku sudah bilang jika aku tidak menyukai makanan di sini, lagi pula aku sudah lama tidak membuatkanmu sarapan pagi. Apa aku sudah tidak boleh lagi membuatkanmu sarapan?" tanya ibu Andre.


Andre duduk di kursi meja makan dan menuangkan air di dalam gelas lalu meminumnya, sementara itu ibunya sudah menyiapkan sepiring nasi goreng untuk anak laki-lakinya itu dan meletakkan dihadapan Andre.


"Masakan ibu memang benar-benar yang terbaik." ucap Andre.


"kukira kau lebih menyukai masakan di daerah ini dibandingkan dengan masakanku yang sudah tua ini." ucap ibu Andre sambil tersenyum.


"Bagaimana bisa masakan ibu dibandingkan dengan masakan lain di seluruh dunia ini."


Andre melahap makanannya tanpa tersisa sedikitpun, tak lama berselang nampak Alex dan Ratih keluar dari dalam kamar mereka masing-masing. Mereka langsung duduk disebelah dan dihadapan Andre.


"Makanlah aku sudah membuatkan sarapan untuk kalian." ucap ibu Andre.


"Terima kasih bu, ibu memang yang terbaik." ucap Alex memuji.

__ADS_1


"Setuju, aku sangat menyukai masakan ibu." ucap Ratih.


"Seharusnya kau juga bisa memasak jangan hanya bisa memakan, kau kan seorang wanita." ucap Andre ketus.


"Ya namanya juga dia adalah wanita karir yang sibuk mana sempat dia untuk memasak." ucap ibu Andre.


"Karena itulah aku tidak ingin mencari wanita yang sibuk dengan pekerjaannya sampai-sampai tidak bisa memasak untuk suaminya." tegas Andre.


"Sudahlah yang penting aku sudah memasakkan sarapan untuk kalian. Sekarang makan dan jangan banyak berbicara." ucap ibu Andre.


Setelah selesai makan ibu Andre membersihkan meja mana dan meletakan piring kotor ke pencucian piring, sedangkan Ratih kini sudah berpindah ke ruang keluarga menatap layar laptopnya.


"Kenapa ibu membersihkan ini sendirian? Diaman Ratih?" tanya Andre yang baru saja selesai mandi.


"Ah, dia di ruang keluarga. Katanya ada rapat penting dari dewan rumah sakit dan harus langsung di kerjakan." ucap ibu Andre sambil mengelap piring setelah di cuci.


"Hah aku benar-benar tidak menyangka wanita itu yang ibu pilih untuk bersanding dengan ku, sekarang saja dia sudah bisa membiarkan ibu membersihkan semua ini sendirian" ucap Andre kesal.


"Dia tidak terbiasa mengerjakan pekerjaan rumah tangga, apa lagi dia sibuk dengan pekerjaannya." bela ibu Andre


"Apa ibu benar-benar bersedia di perbudak olehnya seperti ini? Yang benar saja,." ucap Andre.


"Nanti saat kalian sudah menikah, kau bisa mengajarinya pelan-pelan. Atau kalian bisa saja sewa pembantu, sekarang jaman sudah modern." ucap ibu Andre.


Andre meninggalkan ibunya dan berjalan mendekati Ratih yang masih sibuk dengan laptopnya. Andre dengan kasar menutup laptop milik Ratih dan menatap tajam kearahnya.


"Kau bisa tinggal di hotel jika kau berharap semua keinginan mu terpenuhi, ibu ku bukan pelayan mu." ucap Andre kesal.


"Aku tidak mengerti apa yang kau bicarakan, ada apa?" tanya Ratih bingung.


"Entah kau sadar atau tidak, semenjak kau tiba di sini sampai detik ini aku tidak pernah melihat mu membantu ibu ku sedikit pun. Sepertinya aku terlalu meremehkan dirimu." ucap Andre marah.


"Aku bukan tidak ingin membantu, tapi aku sibuk." ucap Ratih mengelak.

__ADS_1


"Jika kau sibuk kau bisa pulang ke Indonesia dan bekerja di kantor mu. Bukan membawa pekerjaan mu ke sini dan menyusahkan ibu ku." ucap Andre membentak Ratih.


Ratih benar-benar terkejut dengan bentakan Andre, ia tak pernah sama sekali mendapati bentakan dari siapa-siapa. Terlebih lagi dengan statusnya yang seorang dokter dan kepala rumah sakit. Andre pergi meninggalkan Ratih yang masih terpaku terdiam karena bentakan dari Andre barusan. Sedangkan ibu Andre yang terkejut melihat anaknya memarahi gadis itu langsung mengikuti Andre menuju kamar anak lelakinya itu.


__ADS_2