
Hari semakin larut, Lucy dan neneknya sudah di atas kasur untuk beristirahat. Namun Lucy masih mencoba untuk tidur, membalik-balikan badannya mencari posisi yang enak untuk tidur. Nenek Grace yang terasa terganggu dengan kegaduhan yang di buat oleh Lucy langsung duduk dan menatap marah Lucy.
"Kenapa kau gelisah sekali? Tidak bisakah kau tenang dan tidur?" tanya nenek Grace.
"Nenek, aku benar-benar bingung dengan hubunganku ini." ucap Lucy ikut bangun dan duduk disamping neneknya.
"Apa yang kau bingung kan lagi? Bukankah kau sendiri yang memilihnya, dan kau yang bersikeras ingin terus bersamanya." tanya nenek Grace.
"Nenek, nenek tahu kalau banyak perbedaan di antara kami. Aku sudah berusaha meyakinkan diriku jika perbedaan itu dapat diatasi, tapi ada satu perbedaan yang sulit untuk diatasi." ucap Lucy.
"Apa kamu memikirkan perbedaan ajaran dan keyakinan di antara kalian?" tanya nenek Grace.
Lucy mengangguk pelan, sampai saat ini ia belum menemukan jawaban akan perbedaan itu. Ia tidak dapat memungkiri jika hampir setiap hari ia memikirkan masalah itu, dan itu membuatnya sedikit frustasi.
__ADS_1
"Lucy, aku tidak akan memaksamu. Cuma satu hal yang harus kau tahu setiap agama yang dianut, intinya adalah mengajarkan kebaikan. Kebaikan terhadap diri sendiri ataupun lingkungan. Cobalah mencari jati diri Tuhan di dalam hatimu, kau akan menemukan jawabannya jika kau sudah menyerahkan jalan tapi daripada Tuhan. Cukup berjuang semampumu, urusan yang lainnya biarkan Tuhan yang mengaturnya." nasehat nenek Grace.
"Nenek, kapan dunia akan marah padaku jika nantinya aku akan ikut dengan Andre bahkan menganut ajaran dan keyakinannya juga?" tanya Lucy tiba-tiba.
"Kenapa kau bertanya seperti itu? Apa kau tidak meyakini ajaran dan keyakinan yang saat ini?" tanya nenek Grace.
"Tidak, bukan begitu. Hanya saja ada rasa damai di dalam hatiku saat melihat Andre melakukan ibadahnya, aku ingin tahu lebih banyak tentang keyakinan mereka. Apakah itu salah?" tanya Lucy.
Nenek Grace terdiam mendengar ucapan yang keluar dari mulut cucunya, dia menarik nafas panjang sambil memandang lembut wajah cucunya.
"Iya nenek, aku sudah memikirkan ini semua dari kemarin-kemarin. Tapi entahlah, entah aku yang takut untuk mengakui jika aku menyukai keyakinan Andre atau aku menutup rapat mata hatiku dan membohongi diriku sendiri demi keyakinan yang ku anut saat ini." ucap Lucy.
"Jika sudah begitu, aku tidak akan memaksamu. Kau sudah dewasa Lucy, dan kau sudah berhak memilih jalan hidupmu. Jika memang kau ingin pindah keyakinan, pindah lah karena kau meyakini Tuhan. Bukan karena Andre, Tuhan akan marah jika kau menyamakan-Nya dengan Andre." ucap nenek Grace.
__ADS_1
"Nenek..." Lucy langsung memeluk erat tubuh neneknya.
Hanya bercerita dengan neneknya ia dapat menceritakan semuanya termasuk keluh kesah yang ia alami saat ini. Kini Lucy semakin yakin akan pilihannya untuk bersama Andre walau dalam hatinya masih ada sedikit kejanggalan karena ibu Andre yang tidak menyukainya.
"Jadi kapan kalian akan menikah?" tanya nenek Grace tiba-tiba.
Lucy tersentak mendengar ucapan neneknya, ia belum dapat memastikan itu kepada neneknya karena belum ada pembicaraan ketahap pernikahan bersama Andre.
"Apa kau ada masalah lain?" tanya nenek Grace.
"Ah, tidak masalah yang besar. Ibu Andre tidak menyukai ku nek, jadi aku sedikit ragu dengan hubungan kami." ucap Lucy.
"Masalah ibunya tidak menyukai mu itu adalah hal yang wajar, kau hanya harus menyesuaikan dirimu dengan mereka agar mereka memandang mu." ucap nenek Grace.
__ADS_1
Lucy hanya diam tidak menjawab ucapan neneknya, sebelum neneknya memberikan saran seperti itu. Lucy sudah melakukannya terlebih dahulu, namun sepertinya usahanya sia-sia. Ibu Andre tidak melihatnya bahkan tidak bersimpati kepadanya.