
"Ahh aku sudah kenyang, aku akan pulang kalian bisa menikmati weekend kalian bersama." ucap Andre.
"Kau tidak ikut dengan kami untuk pergi berjalan-jalan?" tanya Lucy.
"Tidak-tidak, kau butuh waktu me time mu sendiri. Dan lakukanlah bersama sahabat mu, lagian kalian sudah jarang untuk bertemu bukan?" tanya Andre balik.
"Baiklah, pacarku memang sangat pengertian." puji Lucy sambil tersenyum manis.
Carlo yang melihat kemesraan antara Lucy dan Andre merasakan tekanan yang amat berat.
"Ayolah, tidakkah kalian menghargai ku di sini? Aku benar-benar merasakan tekanan cinta kalian berdua." canda Carlo.
Andre tertawa mendengar ucapan sahabat kekasihnya itu dan ia pun berdiri untuk meninggalkan mereka.
"Kau lanjutkan saja sarapan mu, aku akan pulang. Ingat jangan pulang terlalu larut dan jangan lupa makan, aku tidak ingin kau melupakan hal-hal penting saat bersama sahabat mu ok." ucap Andre.
Lucy hanya mengangguk untuk menjawab ucapan Andre. Andre pun pergi meninggalkan Lucy dan Carlo yang masih melanjutkan makan.
"Kau lihat, dia benar-benar sangat mencintai mu." ucap Carlo.
"Ya, sepertinya aku yang terlalu banyak pikiran." ucap Lucy tersenyum.
Carlo merasa Lucy sangat beruntung mempunyai pacar seperti Andre yang seorang bos besar dan sangat pengertian. Ia merasakan kini sahabatnya itu dalam kondisi yang jauh berbeda di banding saat dulu mereka bekerja di sebuah swalayan. Ada rasa cemburu di dalam hati Carlo melihat kondisi Lucy saat ini.
"Baiklah, aku akan pergi mandi dan bersiap-siap agar kita dapat pergi lebih cepat." ucap Lucy.
"Ya, baiklah." ucap Carlo singkat.
__ADS_1
Lucy meninggalkan Carlo di meja makan, tiba-tiba terdengar suara ketukan dari pintu depan. Lucy yang sudah berada di kamar mandi meminta Carlo untuk membukakan pintu. Saat ia membukakan pintu ternyata Andre kembali.
"Ah maaf aku meninggalkan kunci mobil ku di atas meja makan sepertinya." ucap Andre.
"Baiklah, akan aku ambilkan." ucap Carlo sedikit gugup.
"Owh tidak usah, aku akan mengambilnya sendiri." ucap Andre.
Andre melangkah masuk ke dalam apartemen milik Lucy itu dan segera mengambil kunci mobilnya. Ia melihat ke sekeliling ruangan namun tak nampak wajah Lucy di sana.
"Lucy sedang mandi, ada sesuatu yang kau butuhkan lagi?" tanya Carlo.
"Tidak-tidak, baiklah kalau begitu aku akan pulang." ucap Andre.
"Ya, hati-hati di jalan." ucap Carlo.
Andre hanya mengangguk dan pergi meninggalkan apartemen Lucy. Carlo pun menutup pintu, ia merasakan jantungnya kini berdegup kencang. Tak bisa ia pungkiri jika pesona Andre benar-benar sangat kuat.
Carlo melangkahkan kakinya dan menyusun piring bekas sarapan mereka tadi. Saat akan mengangkat cangkir bekas kopi Andre tangan Carlo bergetar, fikiran kotornya kini menguasai alam sadarnya. Ia dengan sengaja meletakan bibirnya ke cangkir kopi bekas Andre minum tadi. Ia berhalusinasi seolah-olah bibirnya menyentuh bibir Andre secara tak langsung.
"Baiklah, kau memang milik sahabat ku namun itu belum tentu terjadi bukan? Bisa jadi jodoh mu yang sebenarnya adalah aku." gumam Carlo tersenyum licik.
Kini pikiran Carlo untuk mendapatkan Andre benar-benar kuat, ia merasa tidak ada salahnya jika ia mencoba untuk mendapatkan perhatian Andre dan memanfaatkan Lucy agar dapat lebih dekat dengan Andre.
Lucy dan Carlo pergi bersama untuk menghabiskan waktu bersama, mereka pergi ke sebuah mall untuk berbelanja. Setelah puas berbelanja merekapun pergi makan dan membeli beberapa cemilan. Tak terasa waktu berjalan begitu cepat, waktu sudah menunjukan pukul 21.35 malam.
"Ahh hari ini sangat menyenangkan." ucap Lucy bahagia.
__ADS_1
"Ya dan tak terasa sudah malam saja, perasaan aku baru saja bertemu dengan mu beberapa jam yang lalu." ucap Carlo sedikit sedih.
"Bagaimana kalau kita pergi bersama setiap weekend selanjutnya?" tanya Lucy.
"Hei kau enak bisa selalu libur di weekend mu dan bisa pergi kapan saja yang kau mau. Aku yang hanya pegawai toko tidak semudah itu, terlebih lagi aku harus berhemat. Jika tidak hidup ku selanjutnya akan berantakan jika aku terlalu boros." ucap Carlo sambil tertawa.
"Hmm aku lupa akan hal itu, aku benar-benar merasa bosan jika tidak ada kau hari ini." ucap Lucy.
"Ya aku pun merasa begitu, alangkah baiknya jika kita seperti dulu. Bekerja dan tinggal di tempat yang sama, aku merindukan hal-hal seperti itu." ucap Carlo mengingat-ingat kenangan mereka dulu.
Lucy terdiam mendengar ucapan Carlo, dulu memang mereka tinggal dan bekerja di tempat yang sama. Mereka bahkan banyak menghabiskan waktu bersama, sampai tiba akhirnya ayah Lucy menjemput paksa dia untuk pulang ke rumahnya.
"Aku rasa apa yang kamu katakan itu ada benarnya juga Carlo, aku di kantor tidak terlalu mempunyai teman dekat. Terlebih lagi saat mereka semua tau jika aku adalah pacar dari bos besar mereka, kebanyakan karyawan lebih memilih jaga jarak dengan ku. Aku akan bertanya pada Andre besok, apa kau bisa bekerja di perusahaannya." ujar Lucy bersemangat.
Mata Carlo terbelalak lebar mendengar ucapan Lucy, baginya ini adalah suatu kesempatan baik untuk dapat lebih dekat dengan Andre..
"Jangan seperti itu, aku tidak ingin membuat pacar mu menjadi salah mengerti nantinya. Kau kan tau aku tidak terlalu suka masuk ke sebuah pekerjaan jika bukan karena hasil jernih payah ku sendiri. Lagian jarak antara kontrakan ku ke perusahaan kalian cukup jauh, untuk mengontrak di pertengahan kota seperti ini aku mana mampu." ucap Carlo dengan wajah memelas.
"Kalau begitu kau bisa tinggal di apartemen ku, aku yakin Andre akan menyetujui usul ku." ucap Lucy polos.
"Ahh itu akan membuat repot kalian dan aku akan jadi menyusahkan mu nantinya." ucap Carlo.
"Tidak, bagaimana bisa kau berkata seperti itu. Kau adalah sahabat terbaik ku dari dulu, lagian aku merasa sepi jika sendiri di apartemen itu." ujar Lucy mencoba meyakinkan.
"Aku benar-benar tidak bisa menerima kebaikan mu begitu saja Lucy, itu terlalu berlebihan buat ku." ucap Carlo.
"Sudahlah, nanti aku akan bertanya dengan Andre dan aku yakin dia akan setuju dengan usul ku. Jadi kau tidak perlu merasa sungkan lagi bukan?" tanya Lucy.
__ADS_1
"Baiklah jika kau maksa, tapi kau harus benar-benar bertanya dengan Andre terlebih dahulu ok. Aku tidak ingin dia salah sangka dan membuat kalian bertengkar akan hal ini." ucap Carlo mengingatkan.
Lucy mengangguk menyetujui ucapan Carlo, ia merasa yakin kekasihnya itu akan menyetujui rencananya. Di sisi lain Carlo merasa bahwa Lucy benar-benar dapat ia manfaatkan, bukan hanya untuk membuatnya dekat dengan Andre namun ia juga bisa menikmati fasilitas yang ada pada Lucy sekarang.