S.H.E (Wanita Yang Kubeli)

S.H.E (Wanita Yang Kubeli)
#21


__ADS_3

Andre menemani Lucy untuk makan, ia memastikan wanita itu menghabiskan bubur yang sudah di pesannya di kantin rumah sakit. Dengan sedikit canggung Lucy menyuap bubur itu masuk kedalam mulutnya dan berusaha menelannya sebisa mungkin. Padangan tajam dari Andre membuatnya sulit untuk menelan bubur yang sudah lembut itu.


"Apa itu sangat sulit di telan? Aku akan meminta pihak kantin rumah sakit ini untuk membuatkan mu yang baru." Ucap Andre serius.


"Tidak, tidak tuan. Ini sudah cukup lembut bagi ku." Ucap Lucy mengelak.


Lucy melanjutkan makannya dan berusaha kelihatan lahap untuk menghabiskan bubur yang sudah di pesan Andre itu.


"Bagaimana bisa aku makan jika pandangan mu seperti itu. Seakan-akan kau mau memakan ku balik." Batin Lucy.


Andre berdiri dan mencari letak obat yang sudah di tenisnya di apotik. Ia membukakan satu persatu bungkus obat itu dan menyuapkannya untuk di minum Lucy setelah ia siap menyantap buburnya.


Dengan cepat Lucy menghabiskan buburnya saat Andre tidak memperhatikannya. Ia benar-benar merasa kurang nyaman saat makan jika di pandang oleh orang lain.


"Makanan mu sudah habis? Ini obat mu, jangan lupa untuk meminumnya." Ucap Andre memberikan obat yang sudah di bukanya yang ia letakan di atas piring kecil.


Lucy mengambil obat itu dan segelas air putih di atas meja yang berada di sampingnya. Lagi-lagi Andre menatapnya dengan tajam saat akan memasukan obat kedalam mulutnya dan membuatnya tersedak.


"Apa kau anak kecil yang baru belajar minum obat? Kenapa kau sangat ceroboh?" Ucap Andre sambil mengambilkan kotak tisu.


"Maaf tuan, saya hanya tidak terbiasa di pandangi seperti itu saat makan maupun minum obat." Ucap Lucy jujur.


"Aku hanya memastikan kau untuk cepat pulih, agar kau bisa mengganti seluruh kerugian yang sudah aku keluarkan." Ucap Andre kesal.

__ADS_1


"Bukankah saya sudah mengembalikan ATM dan juga pakaian yang anda beli saat itu? Saya menitipkannya di resepsionis hotel sebelum anak buah bos David membawa ku." Tanya Lucy serius.


"Ya, aku sudah mengambilnya. Apa kau pikir itu semua cukup?" Tanya Andre balik.


"Owh, untuk biaya pengobatan di sini saya akan membayar semuanya dengan cara menyicil. Tuan bisa memberikan nomor rekening tuan kepada saya. Saya janji akan melunasi ini semua." Ucap Lucy bersemangat.


"Bagaimana dengan hutang mu yang 78juta itu? Apa kau sanggup untuk membayarnya?" Tanya Andre serius.


Lucy terdiam mendengar angka yang di lontarkan oleh Andre barusan. Entah sejak kapan ia berhutang sebanyak itu kepada laki-laki ini. Ia merasa kalau Andre saat ini sedang memerasnya karena telah menolongnya beberapa kali.


"Laki-laki sialan, beraninya kau memeras ku. Oh Tuhan.... Apa yang harus aku lakukan sekarang?" Batin Lucy sambil menatap Andre.


Andre berjalan mendekati Lucy yang masih duduk dengan keadaan bingung. Ia mendekatkan tubuhnya ke arah wajah Lucy yang imut. Semakin ia mendekat, dengan pasti Lucy semakin mundur untuk menjauh dari wajah Andre yang kini tepat berada di hadapannya. Namun karena kondisinya saat ini masih di atas kasur ia kesulitan untuk menghindari Andre yang semakin mendekat. Lucy memejamkan matanya dengan keadaan tak berdaya dan sedikit takut.


Lucy membuka matanya yang bulat dengan wajah memerah ia mengatur posisi tubuhnya senyaman mungkin. Ia mengira jika Andre tadi bermaksud akan menciumnya, ternyata hanya menagih hutang kepadanya.


"Saya, saya akan bekerja dan mencicil semua hutang yang sudah saya buat kepada tuan. Saya akan bekerja keras untuk itu tuan." Ucap Lucy sambil memalingkan wajahnya untuk menghindari tatapan Andre.


"Baiklah, kalau begitu kau harus cepat pulih dan bekerja. Aku benar-benar ingin kau membayar semuanya dan tidak meninggalkan satu sen pun. Jangan mencoba kabur dari ku." Ucap Andre menjauhkan badannya dan kembali berdiri.


"Kabur? Apa kau sudah gila? Walaupun aku sangat kesusahan, tidak ada di dalam benak ku untuk lari dari hutang. Dasar laki-laki tidak berperasaan." Batin Lucy mengumpat Andre.


"Saya tidak akan kabur tuan, saya berjanji akan giat bekerja dan mengganti seluruh uang yang sudah tuan keluarkan untuk saya." Ucap Lucy.

__ADS_1


Andre menatap tajam kearah Lucy yang berusaha meyakinkannya dan pergi menuju sebuah sofa yang sudah di sediakan oleh pihak rumah sakit.


"Aku akan tidur sebentar, jangan berisik. Karena mu, aku sudah tidak tidur beberapa hari." Ucap Andre membaringkan tubuhnya di sofa itu.


Benar saja, tidak butuh waktu lama bagi Andre untuk terlelap dalam alunan mimpinya. Rasa penat di tubuhnya dan kantuk di mata karena sudah hampir dua hari ia tidak tidur. Ia mengutus kebutuhan Lucy dengan seksama dan telaten. Sampai-sampai Andre juga memilih ruang perawatan terbaik di rumah sakit ini.


Lucy mengamati Andre yang sudah terlelap dan melihatnya dengan seksama. Lucy turun dari kasurnya dan berjalan mendekati ketempat Andre tertidur. Ia membuka lemari yang berisi selimut cadangan dan menyelimuti tubuh Andre yang sudah kecapaian akan dirinya.


Dengan lembut Lucy menyelimuti tubuh Andre dan membukakan sepatu yang masih dikenakan oleh Andre. Ia benar-benar tak menyangka jika lelaki ini yang telah berkali-kali menyelamati nya dari cengkraman bos David.


Lucy menatap wajah Andre yang tertidur lelap. Wajah yang sangat arogan dan di penuhi tatapan sadis saat ia bangun namun sangat lembut dan manis saat ia tertidur.


"Ahh, kau mempunyai wajah yang lembut saat tertidur. Tapi jika kau bangun, entah kenapa rasanya tatapan mu seakan-akan ingin memakan ku hidup-hidup." Batin Lucy sedikit kesal.


Lucy meninggalkan Andre dan berjalan menuju kasurnya kembali. Ia pun merasa sedikit mengantuk, mungkin karena efek obat yang ia minum tadi. Ia pun merebahkan tubuhnya dan memiringkan nya menghadap kearah Andre yang tertidur lelap.


"Terima kasih, karena sudah mau bersusah payah untuk menolong ku. Aku akan membayar semuanya secepat mungkin." Gumam Lucy sambil menatap wajah Andre yang tertidur pulas.


Lucy berasal dari golongan keluarga menengah kebawah. Ayah dan ibunya bercerai saat ia masih kecil. Setelah bercerai dengan ayah Lucy, ibunya memilih tinggal di desa bersama neneknya dan membesarkannya dengan penuh kasih sayang. Namun tidak lama ibunya bercerai, ibu Lucy sering sakit-sakitan dan meninggal. Tinggallah Lucy hidup bersama dengan neneknya. Dan setelah ibunya meninggal pula Lucy menjalani hidup dengan keterbatasan ekonomi.


Neneknya memberanikan diri untuk menghubungi ayah Lucy yang masih ada di kota. Ia meminta untuk ayah Lucy agar dapat mengirimi sedikit uang setiap bulannya untuk biaya sekolah Lucy di desa. Ayahnya menyetujui dan selalu mengirim walau tidak terlalu banyak namun cukup untuk biaya sekolah dan kehidupan sehari-hari mereka di desa.


Sampai saat Lucy tamat sekolah, ayahnya datang me jemput lucu dan meminta Lucy untuk bekerja di kota agar ia bisa membantu neneknya yang selama ini sudah sangat sabar mengurusnya. Dengan keyakinan Lucy berangkat dari desa ke kota dan berharap ia mendapatkan kerja agar bisa membantu kehidupan neneknya di masa tua saat ini.

__ADS_1


Namun apa yang Lucy harapkan tidak sesuai dengan apa yang terjadi. Ayahnya memaksanya untuk bekerja tanpa henti dan harus menghasilkan banyak uang untuk membiayai semua kerakusan ayahnya yang gila akan judi dan minuman keras. Dan sampai akhirnya ia pun di jual oleh ayahnya untuk menutupi hutang-hutangnya kepada bos David.


__ADS_2