
Lucy menelepon Andre setelah ayahnya pergi dari apartemen. Ia mengajak Andre untuk bertemu dengannya di sebuah cafe tempat biasa mereka sering pergi. Lucy tiba di tempat tujuan lebih dulu, ia sangat cemas bercampur rasa sungkan untuk bercerita kepada Andre. Namun ia sudah tidak punya pilihan lain. Tak lama menunggu Andre tiba di cafe dan langsung mendekati Lucy yang menunggunya.
"Hy... Ada apa? Tumben kamu mengajak ku bertemu di luar seperti ini. Apa ada masalah yang terjadi?" Tanya Andre penasaran.
"Ya, aku punya sedikit masalah saat ini. Dan aku tidak tau dengan siapa aku harus bercerita." ucap Lucy.
"Baiklah, apa yang mengganggu pikiran mu sampai harus bertemu di tengah malam ini?" tanya Andre.
"Aku, barusan ayah ku mendatangi apartemen ku. Dia memaksa Carlo untuk memberi tahukan alamat tempat ku tinggal, bahkan ia mengancam Carlo jika ia tidak memberitahu alamat ku. Carlo menghubungi ku dan memberitahu ku semuanya. Saat aku tiba di rumah, benar saja ayah sudah menunggu ku di lobi." jelas Lucy panjang lebar.
"Jadi apa rencana mu? Bukankah aku sudah membayar David untuk menebus mu dan sudah memberikan banyak uang untuk mereka bahkan untuk ayah mu?" tanya Andre.
"Aku juga tidak mengerti, tapi yang aku tau ayah hanya memikirkan dirinya dan hobi judinya. Besok dia akan datang ke rumah dan meminta uang lagi dan lagi. Aku yakin itu akan terjadi seperti dulu." ucap Lucy sedih.
"Bagaimana kalau kita melaporkan ayah mu ke polisi dan memenjarakan ayah mu. Setidaknya itu akan membuat ia jera dan tidak berani mengganggu mu lagi." usul Andre.
"Tidak, aku tidak bisa membiarkan ayah ku masuk penjara. Aku tidak Setega itu." ucap Lucy memelas.
"Jadi, apa kau akan membiarkan ia memeras mu seperti dulu bahkan menjual mu ke sebuah club' malam demi hobinya itu?" tanya Andre serius.
"Aku... Aku juga tidak tau harus melakukan apa." ucap Lucy.
Andre diam memperhatikan wanitanya itu yang sedang berfikir keras. Dia bisa saja memberikan banyak uang untuk ayah Lucy, namun itu akan sia-sia. Karena ayahnya akan meminta lagi jika uang itu sudah habis.
"Baiklah, kalau begitu kau harus menghindarinya untuk saat ini. Jangan bertemu dengannya." saran Andre.
"Tapi dia akan marah jika tidak menemukan ku dan akan membuat keributan di apartemen tempat ku tinggal." ucap Lucy khawatir.
"Tenanglah, aku akan mengurus semuanya dan kau bisa tinggal di apartemen ku untuk sementara waktu." ucap Andre.
__ADS_1
"Bagaimana mungkin aku tinggal di sana?" tanya Lucy gugup.
"Kenapa tidak? Kau bisa tidur di kamar ku dan aku bisa tidur di sofa luar atau ruang kerja ku." ucap Andre serius.
"Tapi, pakaian ku..." ucap Lucy terputus.
"Kita akan membelinya nanti. Ayo kita pulang, ini sudah larut malam. Kau harus istirahat untuk menghadapi hari esok." ucap Andre mencoba menenangkan Lucy.
Lucy mendengarkan ucapan Andre dan menuruti ucapannya. Mereka pulang ke rumah Andre, namun wajah Lucy masih menunjukan rasa kecemasan yang mendalam.
Tak lama di perjalanan Andre dan Lucy tiba di apartemen tempat Andre tinggal. Andre mempersilahkan Lucy menggunakan kamarnya untuk beristirahat. Andre sangat mengerti jika Lucy gelisah dengan masalahnya saat ini.
"Aku akan memastikan mu aman, aku berjanji pada mu ok. Jadi jangan khawatir masalah itu akan ku selesaikan dan kau jalani hidup seperti biasa ok." ucap Andre sambil mencium kening Lucy.
"Aku beruntung dapat memiliki mu, aku akan menjadi wanita yang baik untuk mu saat ini esok dan seterusnya." ucap Lucy memeluk Andre.
"Apa kau secara tak langsung meminta ku menikahi mu?" tanya Andre.
Tak lama kemudian Lucy tertidur dan Andre meninggalkannya di kamar. Andre keluar dari kamar dan melangkahkan kaki menuju ruang kerjanya. Setiba di sana ia membuka ponselnya dan menekan sebuah nomor.
"Aku butuh bantuan mu saat ini, aku mau kau menyelesaikan seseorang untuk ku." ucap Andre menelepon seseorang.
"Yoo... kau sudah lama tidak menghubungi ku dan tiba-tiba ingin menyingkirkan seseorang. Apa ada yang berani menganggu bos kita ini?" tanya pria di sebalik telepon itu.
"Berhenti bermain-main dengan ku, aku ingin kau memberinya pelajaran dan membuatnya menjauhi Lucy." ucap Andre serius.
"Apa ada seorang lelaki di luar sana yang berani menganggu wanita mu? Kalau iya, mereka benar-benar mengantar nyawanya." ucap pria itu.
"Aku akan mengirim foto wajahnya kepada mu." ucap Andre menutup telepon.
__ADS_1
Ia duduk di belakang meja kerjanya dan menyandarkan tubuhnya di sandaran kursinya. Andre sangat berusaha melindungi Lucy, mungkin karena ia benar-benar mencintai Lucy yang polos.
"Aku akan melakukan apapun untuk membuat mu bahagia, ahh ini benar-benar bukan seperti aku yang biasanya." gumam Andre.
Ia pun melihat jam sudah menunjukan pukul 3 malam, dan melangkahkan kaki menuju sofa di ruangan itu. Andre memilih tidur di sana demi kenyamanan wanitanya itu.
__________________
Lucy terbangun dari tidurnya, tenggorokannya terasa kering. Ia bangkit dari kasur dan berjalan keluar menuju dapur dan mengambil minum. Setelah membasahi tenggorokannya dengan minum matanya yang masih mengantuk mencari-cari sosok lelaki pemilik rumah itu, namun tidak menemukannya.
"Kemana dia pergi? Ini pukul 5 pagi dan aku tidak melihatnya di mana-mana. Apa dia di ruang kerjanya?" pikir Lucy.
Lucy melangkahkan kaki menuju ruang kerja Andre. Sebenarnya ini kali pertama ia mendatangi apartemen Andre dan menginap di sini, ia menebak-nebak ruangan untuk mencari sosok lelaki tercintanya itu. Langkahnya terhenti setelah melihat sesuatu buku yang menarik perhatiannya, Lucy pun membuka buku tebal itu dan mencoba membacanya. Namun ia tidak mengerti sama sekali, tulisan di dalam buku itu baru pertama kali ia lihat seperti itu.
"Kenapa kamu ada di sini?" tanya Andre tiba-tiba mengagetkan Lucy yang serius melihat buku.
"Owh, aku haus dan mencari mu di mana-mana namun tidak menemukan mu. Tiba-tiba aku melihat buku aneh ini." ucap Lucy menunjukannya kepada Andre.
"Aku tidur di ruang kerja, apa kau tidak tau ini apa?" tanya Andre.
"Tidak... Aku baru melihat ini pertama kali dalam hidup ku." ucap Lucy penasaran.
"Ini di dalam umat muslim di namakan Al-Qur'an. Ini kitab suci umat muslim di seluruh dunia." jelas Andre.
"Ahh, maaf aku tidak tau sama sekali. Pantas saja aku tidak mengerti akan tulisannya." ucap Lucy meletakan kembali Al-Qur'an ketempat nya semula.
"Tak apa, di sini ada artinya yang dapat kau mengerti." ucap Andre.
"Owh, aku akan kembali ke kamar. Kau lanjutkan lah tidur mu, aku tidak akan menganggu mu lagi." ucap Lucy.
__ADS_1
"Ya kau tidurlah duluan, aku harus melaksanakan sholat subuh terlebih dahulu." ucap Andre.
Lucy terdiam dan melangkahkan kakinya menuju kamar, sedangkan Andre bersiap-siap melaksanakan sholatnya setelah mengambil wudhu. Lucy memperhatikan Andre dari kejauhan, ia tidak menyangka jika lelaki yang ia temui selama ini sangat taat pada agamanya. Lucy bertambah mengagumi lelakinya itu dan mengamati setiap gerakan sholat Andre. Setelah mengetahui Andre akan selesai ia berlari masuk ke dalam kamar dan menutup pintu kamar. Ia membaringkan tubuhnya dan melanjutkan tidurnya.