
Sudah hampir dua hari sejak pertemuan terakhir Lucy tidak berjumpa dengan Andre. Tumben-tumbennya Andre sama sekali tidak memberi kabar kepadanya. Bahkan meneleponnya pun tidak, Lucy sedikit khawatir akan keadaan Andre saat ini dan mencoba mengiriminya pesan.
"Sepertinya kamu sangat sibuk, sampai-sampai tidak dapat memberi kabar dan ku telepon. Apa terjadi sesuatu pada mu saat ini? Kirimkan alamat mu, biar aku melihat keadaan mu ke sana." tulis Lucy.
Hampir sejam ia mengirim pesan namun belum juga ada tanda-tanda balasan dari Andre. Lucy sedikit kesal akan perlakuan Andre seperti ini, dan berinisiatif untuk membeli beberapa barang di mini market dekat rumahnya.
Ia mengganti pakaiannya dan menggunakan baju hangatnya, sebenarnya malam ini adalah malam perayaan natal. Lucy ingin sekali mengajak Andre untuk melihat perayaan natal di bawah menara Eiffel.
"Ahh... Malam ini pasti sangat banyak pasangan di sana. Ini termasuk malam romantis di Eiffel, lampu kelap kelip akan menghiasi menara pada malam ini." gumam Lucy.
Ia memilih beberapa dekorasi kamar, Lucy sedikit pandai dalam mendekor kamar. Jadi walaupun rumahnya tidak terlalu luas namun sangat cantik di pandang mata.
"Lucy...." sapa seorang wanita memanggil namanya.
Lucy menoleh kearah wanita yang memanggil namanya, dan ternyata itu adalah Caren. Caren adalah temannya saat bekerja di sebuah toko di pinggiran kota Paris, ia tak menyangka akan bertemu dengan teman lamanya itu di sini.
"Ternyata benar itu kau, aku kira aku salah mengenali orang." ucap Caren.
"Hy Caren, apa kabar? Senang dapat melihat mu lagi." ucap Lucy bersemangat.
"Aku baik, aku sangat khawatir saat kau sudah tidak bekerja lagi saat itu. Aku mengira ayah mu lagi-lagi menyiksa mu dan melakukan hal bodoh. Berulang kali aku berkunjung ke rumah mu, namun tidak ada satu orang pun yang membuka pintu. Aku mencari mu kemana-mana Lucy." cerita Caren serius.
"Yaa, banyak masalah yang aku lalui beberapa bulan terakhir. Ahh aku akan membayar ini, setelah itu kita ke apartemen ku untuk ngobrol ok." ucap Lucy bersemangat.
"Kau sudah mempunyai apartemen sendiri?" tanya Caren terkejut.
"Nanti akan ku ceritakan." ucap Lucy tersenyum.
Lucy membayar beberapa barang yang sudah di belinya. Setelah itu ia bergegas mendekati Caren yang sudah menunggunya di luar toko sedari tadi. Ia merangkul lengan sahabatnya itu dan mengajaknya untuk berkunjung di apartemennya.
Tak butuh waktu lama mereka tiba di apartemen Lucy dan segera masuk ke dalam. Melihat perubahan yang terjadi pada Lucy Caren merasa hal ini sedikit aneh. Karena Lucy yang dulu ia kenal hanya seorang gadis miskin yang bahkan tidak akan bisa tinggal di apartemen bagus seperti ini.
__ADS_1
Lucy membuatkan minuman hangat dan mengeluarkan beberapa cemilan untuk dapat di nikmati saat ngobrol nanti.
"Kau benar-benar sudah banyak berubah dalam beberapa bulan ini Lucy" ucap Caren.
"Ini berawal dari ayah ku yang menjual ku ke bos David di klub malam." ucap Lucy mencoba menjelaskan.
"Apa....? Ayah mu menjual diri mu ke bos David di klub malam? Jadi, kau sekarang sudah menjadi simpanan bos David?" tanya Caren serius.
"Tidak, aku sempat lari dari genggaman bos David dan lolos dari hutang-hutang ayah." ucap Lucy polos.
"Lucy, apa kau bercanda? Tidak ada yang bisa lari dari tangan bos David dengan mudah, apa lagi menyangkut masalah hutang dengannya." ucap Caren setengah tidak percaya.
Lucy mencoba menceritakan semua kejadian yang di alaminya bersama Andre selama ini. Bahkan ia pun memberi tau hubungannya dengan lelaki yang sudah "membelinya" dari bos David kepada Caren.
"Jadi, apa kau bahagia? Kau bahkan mengetahui jika laki-laki itu belum bisa move on dari cinta pertamanya." ucap Caren setelah mendengar cerita Lucy.
"Aku akan mencoba membuat Andre melupakan wanita itu dan berpaling kepada ku. Dan dia jiga sudah berusaha beberapa saat kami bersama, dia memperlakukan ku dengan lembut." ucap Lucy tersenyum.
Lucy terdiam mendengar ucapan Caren barusan, apa yang dikatakan sahabatnya ini ada benarnya juga. Bagaimana bisa ia melupakan sosok Tiara semudah itu saat bersama Lucy, dan mungkin benar jika Lucy hanya sebuah pelampiasan Andre.
Lucy membuang jauh-jauh pikiran buruknya tentang Andre dan berusaha sebaik mungkin memikirkan kebaikan yang sudah Andre berikan kepadanya.
"Aku.... Tidak merasa Andre seperti itu, aku tau dia berusaha melupakan masa lalunya dan membuka lembaran baru bersama ku." ucap Lucy pelan.
"Aku harap begitu, lagian dia sudah banyak mengorbankan hal seperti ini. Ku rasa kau juga harus berusaha membuatnya jatuh hati kepada mu." ucap Caren.
Mereka berbincang-bincang dan menghabiskan waktu bersama. Kehadiran Caren membuat Lucy tidak merasa kesepian lagi dan lupa akan Andre yang sudah dua hari tidak mengunjunginya.
"Ahh, sudah pukul lima sore. Aku harus kembali untuk menyiapkan perayaan malam natal. Apa kau tidak membuat perayaan malam natal Lucy?" tanya Caren.
"Hmm aku tidak menyiapkan apa-apa." ucap Lucy sedikit sedih.
__ADS_1
"Apa Andre tidak datang dan merayakan malam natal bersama mu?" tanya Caren penasaran.
"Owh, dia seorang muslim Caren. Jadi tidak akan merayakan malam natal." jelas Lucy.
"What...? Dia muslim? Jadi ini alasan kenapa kami belum mempersiapkan apa-apa di malam perayaan natal?" tanya Caren serius.
Lucy hanya tersenyum mendengar ucapan Caren yang merasa aneh dengan sikap Lucy saat ini.
"Baiklah, aku mengerti kau menghormatinya. Kau bisa merayakan malam natal ini bersama ku, apa kau mau ikut?" ajak Caren mencoba mengerti.
"Bolehkah...?" tanya Lucy senang.
"Tentu sayang, aku tidak akan membiarkan mu melewati malam natal sendirian." ucap Caren tersenyum sambil memegang kedua tangan Lucy.
Lucy bergegas mengambil baju hangatnya dan tas untuk bersiap-siap pergi kerumah keluarga Caren. Ia sangat senang akhirnya tidak akan melewati malam natal sendirian seperti yang muncul di benaknya beberapa saat yang lalu.
Tiba-tiba ponsel milik Lucy berbunyi dan ternyata ada sebuah pesan dari Andre. Lucy membuka ponselnya dan membaca pesan itu.
"Aku akan kesana beberapa menit lagi, maaf membuat mu khawatir." tulis Andre.
Lucy kembali duduk di sofa sambil memandang wajah Caren yang penasaran.
"Ahh Caren, kamu bisa menuliskan alamat mu? Aku akan datang jika urusan ku sudah selesai." ucap Lucy mengambil kertas dan pulpen.
"Apakah itu pesan dari pacar mu? Apa dia melarang mu pergi merayakan malam natal?" tanya Caren serius.
"Tidak, dia akan berkunjung ke sini. Mungkin untuk makan malam, aku akan datang ketempat mu setelah dia pulang." ucap Lucy membujuk.
"Baiklah, kabari aku jika kau sudah mau berangkat ok." ucap Caren mencoba memahami sahabatnya itu.
Tak lama Caren berpamitan untuk pulang dari apartemen Lucy, ia tidak menyuruh Lucy untuk mengantarnya. Karena ia sudah terbiasa berjalan sendiri.
__ADS_1
Andre berjalan dengan cepat menuju kamar Lucy, ia membawa sekotak kue coklat kesukaan Lucy. Andre sedikit berlari kecil agar cepat tiba di tempat Lucy.