S.H.E (Wanita Yang Kubeli)

S.H.E (Wanita Yang Kubeli)
#116


__ADS_3

"Bagaimana? Apa kau menyukai saran ku?" tanya Andre memandang Lucy.


Lucy mengangguk kencang menyetujui apa yang di usulkan oleh Andre, ia sudah lama tidak menjenguk neneknya bahkan belum memberi kabar bahwa kini dia sudah hidup jauh lebih baik.


"Baiklah kalau begitu, besok aku akan menemani dan mengantar mu pulang ke sana sekalian aku juga ingin berkenalan dengan nenek mu." ucap Andre lembut.


"Benarkah? Kenapa kamu ingin berkenalan dengan nenek ku?" tanya Lucy heran.


"Kenapa? Apa aku tida boleh berkenalan dengan nenek mu?" tanya Andre balik.


"Tidak bukan begitu, baiklah aku akan mengajak mu berkeliling besok untuk melihat-lihat tempat aku di besarkan." ucap Lucy.


"Tapi sebelumnya kau harus di periksa terlebih dahulu, aku sudah meminta Ratih datang ke sini untuk dapat memeriksa keadaan mu." ucap Andre.


"Kenapa harus Ratih? Aku sudah bilang bahwa aku baik-baik saja." ucap Lucy.

__ADS_1


"Bagaimana bisa kau mengatakan hal itu dengan mudah? Baru sesaat tadi kau menangis karena sakit di dalam perut mu itu." ucap Andre


Lucy tidak menjawab ucapan Andre, ia benar-benar tidak bisa mengelak. Bagaimana jika Ratih tau kalau ternyata dia tidak sakit, namun yang sakit adalah relung hatinya dikarenakan cemburu dan takut kehilangan Andre.


Tak lama mereka asik berbincang, bel apartemen Lucy berbunyi dan itu menandakan jika Ratih sudah tiba di tempat itu dan berada di luar. Andre segera membukakan pintu untuk Ratih dan menyuruhnya masuk. Sedangkan Lucy hanya duduk diam di atas kasur dengan perasaan gugup. Ratih masuk ke dalam kamar Lucy dan melihat gadis itu duduk bersandar di atas kasurnya. Ia melihat wajah Lucy yang tidak menunjukkan tanda-tanda sakit melainkan wajah gugup dan tertekan.


"Baiklah, kau bisa meninggalkan kami. Aku akan memeriksanya." ucap Ratih kepada Andre.


"Apa aku tidak bisa menunggu di sini saja?" tanya Andre khawatir.


"Ah begitu, baiklah aku akan menunggu di luar." ucap Andre berjalan meninggalkan kamar Lucy.


Andre telah keluar dari kamar Lucy, dan Ratih berjalan mendekati Lucy lalu duduk di sampingnya.


"Jadi sejauh apa kau berbohong kepada Andre?" tanya Ratih terus terang.

__ADS_1


"Apa maksudmu? Tiba-tiba kau datang dan menanyakan seberapa jauh aku berbohong?" tanya Lucy balik.


"Ya, wajahmu tidak menunjukkan jika kau sedang mengalami kesakitan, melainkan takut dan tertekan akan kebohonganmu. Tapi jika kau benar-benar merasa sakit biar aku periksa bagian mana yang sakit?" ucap Ratih sambil mengulurkan tangannya untuk memeriksa.


"Tidak usah, aku baik-baik saja." ucap Lucy menghentikan Ratih.


Ratih menghentikan tindakannya dan menarik tangannya kembali, ia menatap wajah gadis itu. Sepertinya ia benar-benar takut jika Andre meninggalkannya dan putus hubungan dengannya.


"Baiklah, dari mana kau akan cerita. Aku akan mendengarkan mu." ucap Ratih.


"Kau selalu berbicara omong kosong, apa yang harus aku ceritakan kepada mu?" tanya Lucy heran.


"Apa ka menganggap aku akan mengambil Andre dari mu? Jika sikap mu seperti ini kau benar-benar akan mudah di tinggalkan oleh Andre. Jika kau ingin mempertahankan hubungan mu, setidaknya kau harus berusaha lebih keras lagi dan meyakinkan ibu Andre agar dia tau jika kau layak berada di sisi Andre." ucap Ratih.


Lucy terdiam, bagaimana bisa seorang seperti Ratih yang jelas-jelas akan di jodohkan dengan kekasihnya malah mendukung Lucy dan meminta dirinya untuk lebih berusaha bukan sebaliknya.

__ADS_1


__ADS_2