S.H.E (Wanita Yang Kubeli)

S.H.E (Wanita Yang Kubeli)
#57


__ADS_3

"Jadi apa yang mau kau diskusikan dengan ku?" tanya Andre langsung.


"Kau sepertinya seorang lelaki yang sangat berterus terang." ucap Lucy sambil menyipitkan matanya.


"Aku sudah lama mengenal mu, untuk apa aku harus berbasa-basi lagi." ucap Andre.


Lucy pergi ke dapur untuk ngambil minuman kaleng dan beberapa snack, ia berharap hal itu dapat mendukung suasana hati Andre saat ini.


"Aku memikirkannya beberapa hari ini, dan mungkin saja kamu bisa membantu memberikan solusinya." ucap Lucy meletakan minuman di atas meja.


"Baiklah, solusi apa yang harus aku berikan?" tanya Andre.


"Mas tau kalau Carlo adalah sahabat ku bukan? Aku sedikit kasihan dengan kehidupannya. Maksudku bukan karena aku sombong atau berfikir seenaknya, tapi kalau bukan karena mu mngkin aku tidak akan bisa hidup layak seperti ini." ucap Lucy mencoba menjelaskan.


Andre diam memandang kekasihnya yang bercerita dengan mimik muka serius.


"Mas, bisakah kamu memberikan pekerjaan untuk Carlo? Setidaknya dia bisa bekerja jauh lebih baik di bandingkan sekarang." ucap Lucy.


"Apa kau saat dengan apa yang kau ucapkan?" tanya Andre.


"Ahh, aku minta maaf jika sudah kelewatan batas. Aku tidak akan menanyakannya lagi." ucap Lucy merasa bersalah.


Andre merasakan kini Lucy sedikit ketakutan dari suaranya yang bergetar. Andre pun menggenggam tangan Lucy dan menatapnya lembut.


"Sayang, aku tau maksud mu baik tapi tidak semua yang kamu lakukan itu akan menghasilkan kebaikan bagi orang lain. Aku bisa saja membuatnya bekerja di perusahaan kita, tapi apa dia siap dengan dunia kerja perkantoran? Dan apa kamu sudah mendiskusikan ini semua dengannya, aku takut dia salah sangka dengan niat baik mu nantinya." ucap Andre.

__ADS_1


"Aku.... Aku sudah mendiskusikan semuanya dengan Carlo, awalnya dia menolak karena sungkan dengan mu tapi karena aku yang terus memaksa dia akhirnya mau." ucap Lucy sedikit gembira.


"Baiklah kalau begitu, aku akan mencoba mencarikan tempat yang kosong di perusahaan untuknya." ucap Andre.


"Benarkah? Terimakasih mas." ucap Lucy sambil mengecup pipi Andre.


"Hanya ini?" tanya Andre menunjuk pipinya.


"Ahh berhenti menggoda ku, itu sudah lebih dari cukup." ucap Lucy sambil tersenyum manis.


Andre hanya tersenyum mendengar ucapan dari Lucy, dia senang melihat kekasihnya itu tersenyum bahagia.


"Eemmm mas, ada satu lagi yang mau aku katakan. Jika Carlo bekerja di perusahaan mu nanti, itu akan membuatnya kesulitan dalam perjalanan pulang dan pergi kerja karena kontrakannya yang cukup jauh dari kantor. Jadi menurutku alangkah baiknya jika dia tinggal di sini berdua dengan ku, apartemen ini cukup luas jadi tak masalah jika kami tinggal berdua bukan?" tanya Lucy lagi.


"Tidak.... Kau tidak bisa membiarkan orang lain tinggal di sini, aku membelikan ini khusus untuk mu. Jadi, jangan coba-coba untuk memasukan orang lain di sini. Dia bisa mencari kontrakan di sekitar kantor, aku yakin di sana juga banyak kontrakan yang murah dan terjangkau." ucap Andre menolak tegas.


"Berhenti mengatakan tapi, aku melakukan ini untuk kebaikan mu juga. Kau harus ingat ada batasan di antara persahabatan." ucap Andre.


Lucy diam dan mengangguk pelan, ia tak ingin mencari keributan dengan Andre. Takut-takut nanti Andre malah berubah pikiran untuk mempekerjakan Carlo di perusahaan dan itu akan membuat sahabatnya kecewa.


"Lucy dengarkan aku, aku bisa melakukan apapun untuk kebahagiaan mu. Tapi, kau juga harus bisa berusaha menjaga kebahagiaan itu. Ada hal yang harus di bagi dan ada hal juga yang tidak bisa di bagi walaupun itu dengan sahabat sendiri. Kau mengerti?" ucap Andre menjelaskan dengan lembut.


Lucy mengangguk pelan dan tersenyum kearah Andre, ia tau jika Andre sangat menjaganya dengan baik. Lucy menekan nomor telepon Carlo untuk mengabarkan berita baik, Lucy yakin jika sahabatnya itu akan sangat senang mendengar kabar darinya.


"Hai kau sudah tidur?" tanya Lucy bersemangat.

__ADS_1


"Belum, aku baru saja selesai mandi dan membersihkan muka. Tumben kau menelepon ku malam-malam begini?" tanya Carlo.


"Yahhh aku mau mengabarkan kabar baik kepada sahabat ku ini, jadi aku sudah menceritakan semuanya ke Andre tdi sepulang makan malam. Dia setuju dengan usul ku untuk mempekerjakan mu di perusahaannya, dan besok kau sudah bisa datang ke sana." ucap Lucy senang.


Carlo diam untuk beberapa saat, ia mencoba untuk mencerna ucapan dari Lucy. Carlo tak menyangka jika Andre dengan cepat menerima usul dari Lucy dan langsung memberikan pekerjaan untuknya. Ia yakin jika ia berusaha sedikit keras, itu Andre akan mudah ia taklukkan.


"Benarkah, kau mengatakan yang sebenarnya bukan?" tanya Carlo seolah tak percaya.


"Ya, mana mungkin aku menipu mu. Baiklah kalau begitu, kau harus istirahat untuk bisa berangkat kerja lebih pagi besok." ucap Lucy mengingatkan.


"Owh iya kau benar. Lucy aku benar-benar berterimakasih kepada mu, jika bukan karena mu mungkin aku tidak akan dapat bekerja di sebuah perusahaan." ucap Carlo.


"Ya, kau adalah sahabat terbaik ku mana mungkin aku akan membiarkan mu sendirian. Tapi Carlo, aku juga sudah mengatakan pada Andre untuk kau bisa tinggal di sini, dan Andre menolak itu. Sepertinya kau harus mencari kontrakan di sekitar kantor, itu tidak masalah untuk mu bukan?" tanya Lucy was-was.


Carlo diam mendengar ucapan Lucy, bagaimana mungkin ia harus menyewa sebuah kontrakan di sekitar sana. Jelas harga sewa di sana sangatlah tinggi, ia yakin Lucy yang sebenarnya tidak ingin membiarkannya tinggal di apartemen itu. Dan berpura-pura Andre mengatakan tidak mengizinkannya.


"Tidak apa-apa Lucy, aku punya sedikit tabungan untuk mencari rumah sewa. Dapat bekerja bersama dengan mu aku saja sudah sangat senang." ucap Carlo berbohong.


"Syukurlah kalau begitu, tenang saja aku dan Andre nanti akan membantu mu mencari rumah sewa atau apartemen murah untuk mu." ucap Lucy memastikan.


"Maaf karena aku merepotkan mu, dan sekali lagi terimakasih banyak karena telah mau membantu ku." ucap Carlo.


"Baiklah kalau begitu, kau harus segera istirahat agar besok pagi kau lebih bersemangat." ucap Lucy.


Lucy mematikan ponselnya dan meletakan ponsel di meja sebelah kasurnya. Ia mengambil selimut dan mencoba untuk memejamkan matanya. Di sisi lain Carlo merasa sedikit kesal karena rencananya tidak semulus yang ia bayangkan. Kini ia harus berfikir bagaimana caranya untuk bisa mendapatkan uang lebih untuk menyewa sebuah apartemen murah. Karena untuk tinggal di tempat Lucy sepertinya kini adalah hal yang mustahil.

__ADS_1


"Ah sial, aku benar-benar kurang beruntung. Tapi setidaknya aku bisa bekerja di perusahaan Andre dan dapat bertemu dengannya setiap hari. Melihat dia yang dengan mudah menerima ku di perusahaan aku yakin ia pun akan mudah untuk ku miliki. Baiklah, aku akan mencoba hal terbaik untuk hubungan ku kedepannya." gumam Carlo sambil merebahkan tubuhnya di kasur.


Carlo benar-benar berambisi untuk mendapatkan segalanya yang ia inginkan dan menghalalkan segala cara untuk itu semua. Carlo benar-benar berharap jika ia dapat segera mungkin menyingkirkan Lucy di sisi Andre dan digantikan dengan dirinya.


__ADS_2