S.H.E (Wanita Yang Kubeli)

S.H.E (Wanita Yang Kubeli)
#69


__ADS_3

Tok... Tok... Tok...


Pintu ruang kerja Andre di ketuk dari luar, ia merasa sedikit bingung sambil melihat arloji di tangannya yang sudah menunjukan pukul 12.15 siang.


"Bukankah ini sudah jam makan siang? Apa Luna melupakan suatu hal yang harus aku kerjakan?" batin Andre bingung.


Tok... Tok... Tok....


Sekali lagi pintu di ketuk dari luar, mendengar hal itu Andre pun menghentikan pekerjaannya.


"Masuk..." ucap Andre.


Pintu terbuka dan ternyata sosok Carlo yang ada di sebaliknya, dengan pelan Carlo membuka pintu dan masuk ke dalam ruangan Andre yang mewah. Matanya terbelalak lebar melihat ruang kerja Andre.


"Apa kau sudah puas melihatnya? Kenapa kau kemari?" tanya Andre heran.


"Ahh... S-saya ke sini untuk mengajak Lucy makan siang bersama, tadi saya tidak melihat dia di meja kerjanya jadi saya kira dia berada di ruangan anda tuan." ucap Carlo terbata-bata.


"Dia tidak memberitahu mu kalau dia makan siang di luar bersama Luna? Bukankah kau sahabat baiknya?" tanya Andre heran.


"Lucy tidak ada memberitahu ku apa-apa, baiklah kalau begitu pak saya permisi dulu untuk ke kantin." ucap Carlo memasang wajah sedih.


"Aku tidak menyangka jika Lucy melupakan mu, apa kau tidak apa-apa makan siang sendiri?" tanya Andre.


Carlo mengehentikan langkahnya dan berbalik menghadap Andre dengan pandangan penuh harap.


"Aku juga tidak tau, semenjak dia dekat dengan Luna hubungan kami sedikit merenggang. Tapi itu tidak masalah, asal Lucy senang aku juga ikut senang. Apa anda ingin makan siang bersama?" tanya Carlo penuh harap.


Andre menatap Carlo yang penuh harap, melihat dia di tatap oleh Andre, Carlo mendadak sedikit tidak enak.


"Ahh maaf saya sudah lancang mengajak anda untuk makan siang bersama, kalau begitu saya permisi dulu." ucap Carlo menundukkan pandangannya.

__ADS_1


"Tidak masalah, ayo kita makan siang bersama. Kebetulan aku juga tidak ada teman makan siang karena Lucy pergi dengan Luna, jadi mau makan siang di mana kita?" tanya Andre serius.


"B-benarkah? Anda mau makan siang bersama saya?" Tanya Carlo tak percaya.


"Apa aku harus mengulangi ucapan ku?" tanya Andre.


"Ahh tidak-tidak saya mengerti, bagaimana kalau kita makan siang di cafe dekat kantor ini?" tanya Carlo.


"Baiklah ayo kita pergi ke sana." ucap Andre.


Carlo tersenyum senang karena di ajak makan siang oleh Andre, dan ia berencana mengajak Andre ke cafe di mana tempat Lucy makan siang.


Tak butuh waktu lama mereka tiba di cafe yang sudah di rencanakan, Carlo melihat-lihat sekeliling cafe untuk memastikan Lucy dan yabg lain masih berada di cafe ini. Mereka berjalan memasuki cafe dan dengan sengaja Carlo mendekatkan tubuhnya ke Andre untuk membuatnya nampak seperti bergandengan dengan lelaki itu.


Lucy yang mengamati sekitar tiba-tiba matanya tertuju pada sosok yang ia kenal, ya itu adalah sahabatnya dan kekasihnya yang baru masuk dalam cafe. Ia benar-benar kebingungan karena bukankah Carlo tdi menolak ajakannya untuk makan siang di luar?


"Lucy ada apa? Kau tidak makan?" tanya Rosy heran.


"Iya... Iya benar, itu adalah dia." ucap Rosy yakin.


"Bukannya tadi kau sudah mengajaknya untuk bergabung bersama kita?" tanya Luna yang juga heran.


Carlo, Lucy dan Rosy tiba di cafe yang mereka tuju, dengan bersemangat Rosy memilih meja di pojokan dan dekat dengan jendela untuk menikmati pemandangan dari dalam cafe. Mereka dengan segera meminta waiters untuk mengantarkan buku menu dan memesan makanan. Setelah selesai memesan, waiters meminta mereka untuk menunggu sebentar agar dapat menyiapkan pesanan mereka.


"Aku dengar dari teman-teman ku makanan di cafe ini benar-benar enak. Akhirnya aku makin di sini bersama kalian." ucap Rosy bersemangat.


"Kau memesan sangat banyak makanan, apa kau yakin akan menghabiskan semua itu?" tanya Lucy tak yakin.


"Tenang, kita akan membantu Rosy untuk menghabisinya." ucap Luna sambil menggulung lengan kemejanya.


Mendengar ucapan Luna, mereka tertawa serentak tanpa memperdulikan sekeliling yang memperhatikan.

__ADS_1


"Ahh sayang sekali Carlo tidak ikut bergabung dengan kita, seingat ku dia juga wanita yang kuat dalam hal makan memakan." ucap Lucy.


"Aku yakin dia sekarang menyesali keputusannya yang tidak ingin ikut bergabung dengan kita. Lagi pula, ku rasa dia tidak menyukai aku dan Luna berteman dengan mu." ucap Rosy terus terang.


"Bagaimana mungkin Carlo tidak menyukai kalian, dia hanya masih belum bisa beradaptasi dengan lingkungan kerja yang baru." ucap Lucy membela sahabatnya.


"Aku rasa apa yang di katakan Rosy sedikit masuk akal, kalaupun dia sedikit tidak pandai bergaul setidaknya dia harus mencobanya bukan? Bahkan ini bukan pertama kali kita makan siang bersama." ucap Luna membetulkan ucapan Rosy.


Lucy hanya mengangguk-angguk tanpa reaksi apapun dan kata yang keluar dari mulutnya. Ia berfikir mungkin saja Carlo ada sesuatu yang tidak bisa ia ceritakan karena keberadaan Luna dan Rosy di sampingnya.


"Kau sudah berteman lama dengannya bukan? Kau pasti sangat mengenalnya." ucap Rosy.


"Ya, kami bertemu saat aku bekerja di sebuah minimarket di pinggiran kota dulu. Dia adalah karyawan yang pertama kali mengajari ku banyak hal, dan dia juga yang sangat peduli dengan ku saat bekerja." ucap Lucy menceriakan masa lalunya.


"Berarti kalian sudah banyak berbagi berbagai macam hal, aku salut dengan persahabatan kalian." ucap Luna.


"Ya, kami selalu berbagi kisah sedih, senang bahkan cerita bersama. Dia sangat setia saat aku bercerita tentang kehidupan ku yang sulit, bahkan dia sering membantu ku agar tidak selalu menjadi bulan-bulanan dari ayah ku yang sangat hobi berjudi." ucap Lucy.


"Yaahh ku harap kau hanya berbagi hal-hal seperti itu saja dengannya, jangan berbagi kekasih dengannya Lucy." ucap Rosy tiba-tiba.


"M-maksud mu? Bagaimana mungkin kau berpikir kalau Carlo akan merebut Andre dari ku, dia sangat mengerti aku." ucap Lucy yakin.


"Tidak akan ada yang tahan melihat sosok pria seperti Andre, dan bukan hanya kau saja yang menginginkan memiliki kekasih seperti tuan kita itu." ucap Rosy.


"Tapi aku yakin Carlo tidak mungkin melakukan hal seperti itu pada ku." ucap Lucy tak percaya.


"Yahh sekarang kan lagi musim tikung menikung, aku hanya mengingatkan mu karena kau teman ku." ucap Rosy lagi.


"Sudahlah, dari pada kita membahas hal itu lebih baik kita nikmati makan siang hari ini. Ini makanannya sudah sampai semua, ayo cepat kita habiskan. Kalau tidak, aku akan memasukan kalian ke daftar terlambat di kantor nantinya." ancam Luna.


"Kau benar-benar wanita tidak berperasaan nona Luna, bisa-bisanya kau melakukan itu pada kami." ucap Rosy.

__ADS_1


Lucy dan Luna hanya tersenyum mendengar ucapan dari Rosy yang sudah mengambil makanannya dan menyantapnya dengan lahap.


__ADS_2