S.H.E (Wanita Yang Kubeli)

S.H.E (Wanita Yang Kubeli)
#138


__ADS_3

"Aku... Aku akan melanjutkan dan memperjuangkan hubungan ini. Terlalu sulit untuk menghentikan perasaan ku terhadap Andre." ucap Lucy.


"Ya itu memang hak mu, aku hanya mengingatkan mu. Jika dari awal saja kalian sudah berbeda, maka akan sangat sulit untuk di satukan walaupun kau mencoba untuk menjadi sama. Aku hanya sekedar membantu mu Lucy." ucap Luna sambil menggenggam tangan Lucy.


Lucy membalas dengan senyuman, saat ini ia yakin dengan keputusan yang ia ambil. Yaitu untuk menjadi seorang muslim dan dapat menikah dengan Andre secepatnya. Luna dan Lucy menghabiskan waktu bersama sampai tak terasa malam telah semakin larut. Mereka pun pulang, tentunya Luna mengantar temannya itu pulang terlebih dahulu.


"Terimakasih nona Luna atas ajakan anda hari ini." ucap Lucy sopan.


"Kau bisa memanggilku dengan namaku saja, tidak perlu memanggil secara formal seperti itu." ucap Luna merasa risih.


"Ha ha ha, tapi saya tidak terbiasa. Mau bagaimanapun kasta kita jauh berbeda." ucap Lucy merendah.


"Berhenti mengatakan itu, aku akan menghormatinya jika saat jam kerja. Tapi, saat di luar jam kerja kau bebas memanggil ku dengan nama biasa saja." ucap Luna.


"Baiklah saya akan mengingatnya, sekali lagi terimakasih karena telah mengajak ku hari ini." ucap Lucy.


"Ya, kalau begitu aku pulang." ucap Luna.


Tak lama kemudian mobil Luna berlalu meninggalkan Lucy, ia pun segera memasuki apartemen. Saat ingin masuk ke dalam lift ia melihat seorang wanita berhijab sedang mencoba mengangkat kopernya dan sepertinya kesulitan. Lucy mendekati wanita itu dan berniat membantunya.


"Permisi, apa anda butuh bantuan?" tanya Lucy sedikit membungkuk melihat koper wanita itu.


Wanita itu memandang wajah Lucy, Lucy sedikit terkejut karena ia yakin jika wanita ini adalah seorang turis atau semacamnya.


"Ah, maaf. Apa anda mengerti dengan yang saya ucapkan?" tanya Lucy.


Wanita itu tersenyum melihat Lucy dan iapun menganggukkan kepalanya.

__ADS_1


"Ya, saya mengerti dengan ucapan anda." jawab wanita itu.


"Oh baguslah kalau begitu, aku tidak terlalu pandai berbahasa Inggris." ucap Lucy sedikit malu.


Wajah wanita itu hanya tersenyum dan kembali mencoba mengangkat kopernya.


"Ah, mau ku bantu untuk mengangkat koper mu? Sepertinya koper mu rusak." ucap Lucy yang melihat roda koper lepas dari dudukannya.


"Ya, rodanya lepas saat sopir taksi meletakkannya tadi. Jadi, aku sedikit kesulitan mengangkatnya karena barang bawaan ku yang banyak." ucap wanita itu.


"Baiklah, ayo aku bantu untuk mengangkatnya. Jika bersama-sama pasti akan jauh lebih mudah bukan?" ajak Lucy.


Wanita itu menganggukkan kepalanya dengan semangat dan tersenyum manis,.ia menerima tawaran Lucy untuk membantunya. Merekapun menaiki lift dengan mengangkat koper itu secara bersama.


"Anda tinggal di lantai berapa?" tanya Lucy.


"Oh, saya juga tinggal di lantai 7, tapi tidak tau kamar anda di sebelah mana. Saya akan bantu anda untuk mencarinya." ucap Lucy meyakinkan.


"Tidak apa-apa, saya akan mencarinya sendiri nanti. Saya tidak ingin merepotkan anda." ucap wanita itu.


"Tidak perlu sungkan."


Tak lama pintu lift terbuka dan mereka saling membantu mengeluarkan kembali koper itu secara perlahan.


"Baiklah, ayo kita cari kamar mu." ucap Lucy.


"Tidak, tidak perlu membantu ku. Cukup sampai disini saja, anda harus segera beristirahat." ucap wanita itu.

__ADS_1


"Aku tidak akan tenang jika anda belum menemukan kamar anda. Dan sepertinya anda baru datang di sini hari ini." ucap Lucy.


"Ya, aku baru saja tiba di kota ini. Maafkan aku sudah merepotkan." ucap wanita itu merasa tidak enak.


"Pass, tebakan ku benar. Jadi aku punya alasan untuk menolong mu bukan?" tanya Lucy.


Wanita itu hanya tersenyum mendengar ucapan Lucy, merekapun akhirnya mencari dengan seksama nomor kamar yang akan di tempati wanita itu. Setelah seluruh lorong mereka cari, tinggal lorong tempat Lucy yang belum di periksa. Mereka mengamati satu persatu nomor kamar yang tertempel di pintu dan akhirnya mereka menemukan kamar wanita berhijab itu yang ternyata tepat berhadapan langsung dengan kamar Lucy.


"Astaga, kita hampir satu jam mencari kamarmu dan ternyata letaknya hanya di depan kamar ku." ucap Lucy merasa kesal.


"Ha ha ha, maafkan aku sudah membuatmu dalam kesulitan." ujar wanita itu tertawa.


"Aku tidak pernah memperhatikan nomor kamar di depan ku selama ini, aku benar-benar bodoh." ucap Lucy sambil memukul kepalanya.


"Jangan seperti itu, kau sama sekali tidak bersalah dalam hal apapun. Jadi jangan salahkan dirimu." ujar wanita itu lembut.


Lucy tersenyum mendengar ucapan wanita itu, ia sangat memperhatikan wajah wanita muslimah yang ada di hadapannya ini. Wanita dengan bola mata yang besar dan lentik, bibir tipis dengan sebuah lesung pipi di pipi kanannya seakan menjadikan nilai plus bagi pemilik wajah itu.


"Ah, aku Hanum. Kita belum sempat berkenalan karena terlalu sibuk mencari kamar ku." ucap wanita itu sambil menjulurkan tangannya.


"Oh iya, aku Lucy. Senang berkenalan dengan mu Hanum." ucap Lucy menyambut tangan Hanum.


"Kalau begitu, terima kasih. Aku akan mengundang mu besok untuk mencicipi beberapa camilan yang ku bawa. Hari ini sudah sedikit larut dan mungkin kau harus istirahat untuk besok." ucap Hanum sopan.


"Baiklah, aku akan datang besok. Aku juga akan memberikan mu teh khas dari kampung halaman ku." ucap Lucy bersemangat.


Merekapun berpisah dengan lambaian tangan dan senyuman manis. Lucy menutup pintu rumahnya dan meletakan syal di gantungan khusus, pikirannya masih mengarah ke Hanum wanita yang baru saja ia temui. Wanita muslimah yang sangat anggun menggunakan hijab dan senyumnya merekah bak bunga mawar. Lucy kembali menuju gantungan dan mengambil syalnya, ia mencoba menutupi kepalanya menggunakan syal itu seakan-akan kini ia menggunakan hijab. Lucy berlari menuju kamarnya untuk melihat dirinya di cermin, dengan seksama ia melihat tampilannya menggunakan hijab di cermin.

__ADS_1


"Apa menurut Andre aku terlihat cantik jika berpakaian seperti ini? Apa semua wanita muslim harus memakai ini? Tapi, Hanum benar-benar terlihat anggun dan cantik menggunakan ini. Bagaimana tanggapan Andre jika aku memakai ini juga?" gumam Lucy sambil menatap wajahnya di cermin. Sesekali ia merapikan syal yang kini sudah berubah fungsi menjadi hijab di kepalanya


__ADS_2