
Lucy tiba di rumah namun tidak mendapati Andre di sana. Ia mencari-cari sosok lelaki yang selalu menyelamati nya setiap saat. Lucy mencoba mencari-cari ke seluruh ruangan namun tidak menemukan Andre. Lucy pun duduk di sofa dan menghidupkan Tv, ia nampak sedikit kelelahan habis berjalan-jalan dengan sahabatnya itu.
"Hei, kamu sudah lama pulang?" sapa Andre tiba-tiba mengejutkan Lucy yang melamun.
"Ah, ehhm aku baru saja pulang. Kamu dari mana? Aku cari kamu ke semua ruangan tapi tidak menemukan mu." ucap Lucy penasaran.
"Aku di ruang kerja, kenapa kamu tidak menelepon ku saja jika tidak menemukan ku di mana-mana." ucap Andre duduk di sebelah Lucy.
"Owh iya, aku lupa akan hal itu. Apakah pekerjaan mu banyak? Kamu masih bekerja di waktu libur seperti ini." tanya Lucy serius.
"Aku harus menyelesaikan pekerjaan yang kemarin tertunda karena ayah mu." ucap Andre.
"Iya, kau bahkan menunda rapat karena kejadian itu. Menyebalkan." ucap Lucy kesal.
Tiba-tiba Andre menyandarkan kepalanya ke bahu Lucy dan membuat Lucy terkejut. Tidak seperti biasanya Andre bertingkah seperti ini.
"Ahhh aku benar-benar lelah hari ini." ucap Andre dengan napas berat.
"Apakah sebanyak itu pekerjaan mu?" tanya Lucy serius.
Lucy membenarkan kepala Andre dan meletakkan di atas pangkuannya. Lucy memijit-mijit pelipis dan dahi Andre dengan lembut.
"Apa ini membuat mu lebih nyaman?" tanya Lucy sambil tersenyum manis.
"Iya, ini sangat menenangkan ku. Aku tak percaya kau bisa melakukan hal seperti ini." ucap Andre sambil memandang wajah Lucy dari bawah.
"Dulu, ibu selalu melakukan ini kepada ku saat aku mendapatkan pekerjaan rumah yang sangat banyak dan sulit untuk di kerjakan." ucap Lucy.
"Ibu mu pasti wanita yang sangat lembut, sayang sekali tidak dapat berjumpa dengannya lebih cepat." ucap Andre.
__ADS_1
"Ya, ibu ku adalah wanita terbaik yang ku temui." ucap Lucy.
Lucy melanjutkan memijit kepala Andre dengan jari lentiknya. Karena mendapat pijitan dari Lucy, Andre pun tertidur di pangkuan Lucy.
"Hei, apa kau tertidur?" tanya Lucy memastikan.
Namun, tidak ada jawaban dari Andre dan itu membuktikan kalau dia sudah tertidur pulas. Dengan perlahan Lucy mengangkat kepala Andre dan meletakkannya di atas bantal sofa.
"Aku akan menyiapkan makan malam untuk mu, kamu sudah bekerja keras hari ini." ucap Lucy sambil mengecup kening Andre.
Lucy pun segera melangkahkan kaki menuju dapur dan memeriksa kulkas yang ternyata sudah terisi penuh oleh bahan makanan. Entah kapan Andre mengisi kulkas itu, namun ia yakin Andre telah menyuruh asistennya untuk melakukan itu semua. Dengan lincah Lucy mulai memasak untuk kekasihnya.
_______________________
Hari sudah menunjukan pukul 18.15 namun Andre belum juga bangun dari tidurnya. mungkin karena pekerjaan yang banyak menguras semua energinya dan membuatnya kurang istirahat. Lucy pun mencoba untuk membangunkannya karena biasanya Andre akan melakukan sholat maghrib.
"Hey, mas bangun. Ini sudah jam enam sore, apa kamu tidak sholat?" tanya Lucy lembut.
"Aku akan bangun, terima kasih sudah membangunkan ku. Apa aku menyusahkan mu selama tertidur?" tanya Andre dengan tatapan penuh kasih.
"Tidak, mandi dan sholatlah. Aku sudah menyiapkan makan malam." ucap Lucy tersenyum.
Andre pun bangkit dari sofa dan berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan diri dan melaksanakan tugasnya sebagai seorang muslim. Setelah menyelesaikan semuanya, ia berjalan menuju dapur dan melihat Lucy yang sudah duduk di meja makan menunggunya.
"Kenapa kamu tida makan duluan? Kau akan mati kelaparan jika menunggu ku selesai." ucap Andre sambil duduk di hadapan Lucy.
"Aku sengaja menunggu mu sambil membaca buku." ucap Lucy menunjukan sebuah buku.
"Buku? Kau membaca buku tentang apa?" tanya Andre melihat buku itu.
__ADS_1
Andre menatap sampul buku itu sambil mengerutkan dahinya. "Wanita muslimah" judul buku yang di baca oleh Lucy dan membuat Andre bingung.
"Mengapa kamu membaca buku seperti ini?" tanya Andre penasaran.
"Entahlah, aku penasaran dengan itu semua semenjak membaca kitab suci kalian itu. Rasanya aku ingin tau banyak tentang akan itu semua." ucap Lucy memberikan piring yang sudah ia isi nasi kepada Andre.
"Kau bisa menanyakan apa yang tidak di mengerti kepada ku nantinya." ucap Andre tersenyum.
Entah perasaan apa yang kini menyelimuti hati Andre, namun ia sedikit lega karena tidak perlu repot-repot meminta Lucy untuk mengerti agamanya. Lucy benar-benar wanita yang berwawasan luas dan akan menelaah semua yang ia pelajari.
"Sepertinya besok aku akan pulang ke apartemen ku." ucap Lucy tiba-tiba.
Andre menghentikan makannya dan menatap wajah Lucy yang fokus menyantap makanannya.
"Kenapa tiba-tiba kamu ingin pulang ke sana?" tanya Andre.
"Aku yakin ayah tidak akan mengganggu ku lagi dan juga terlalu lama di sini tidak baik bukan? Aku membaca di buku itu, jika wanita dan laki-laki yang belum ada ikatan pernikahan tidak boleh tinggal serumah." ucap Lucy serius.
Andre mengangguk dan tersenyum mendengar ucapan Lucy. Ia tak menyangka jika Lucy mempelajari itu semua dengan cepat dan dapat memahaminya. Karena biasanya kehidupan pasang kekasih yang belum menikah dalam satu rumah di anggap wajar di kota ini.
"Aku akan mengantar mu besok. Lucy, untuk apa kau mempelajari ini semua?" tanya Andre serius.
"Sudah ku katakan bukan? Aku penasaran dan aku ingin mempelajarinya sendiri. Karena kemauan ku sendiri itu saja. Kenapa? Apa itu salah?" tanya Lucy.
"Tidak, aku hanya penasaran." ucap Andre.
"Jangan bilang kau berfikir jika aku mempelajari ini semua karena diri mu?" tebak Lucy.
Andre hanya menggelengkan kepalanya dan tersenyum. Walau di dalam hatinya sempat terbesit akan hal itu, tapi syukurlah jika Lucy ingin belajar karena kemauannya sendiri.
__ADS_1
Lucy hanya diam dan melanjutkan makannya. Jujur awalnya ia tertarik dengan muslim karena perlakuan Andre yang sangat menjaga dirinya dan selalu sopan. Namun semakin ia dekat dengan Andre, ia memahami jika Andre tidak hanya sopan dan ramah kepada dirinya saja melainkan kepada semua orang. Tak perduli itu lebih tua atau lebih mudah bahkan sebaya dengannya, Andre adalah sosok yang ia kagumi. Termasuk dalam hal ini, dari awal ia dan Andre berpacaran, ia tidak pernah meminta atau memaksa Lucy untuk mengikuti ajarannya. Andre bahkan selalu mengingatkan kepada Lucy untuk selalu beribadah dan berdoa setiap saat agar semua perjalanan hidupnya lancar dan di berkahi.