S.H.E (Wanita Yang Kubeli)

S.H.E (Wanita Yang Kubeli)
#85


__ADS_3

Andre dan keluarganya beserta Lucy telah tiba di sebuah restoran mewah, segala kemewahan tersebar di seluruh sudut ruangan VIP yang di pesan oleh Andre untuk menyambut kedatangan ibu dan adiknya ke Paris. Restoran bernuansa Italia itu menghidangkan beberapa makanan khas negara itu dan tak lupa beberapa dessert cantik yang seakan enggan untuk di makan.


"Kenapa kau memilih makanan seperti ini? Kau tau aku tidak terlalu suka masakan Italia." ucap ibu Andre mengomel.


"Ibu belum pernah mencobanya bagaimana ibu bisa tau jika makanan ini tidak enak? ibu harus mencicip ini." ucap Andre.


"Baiklah sekali ini aku akan memakannya, tapi lain kali aku akan menolak mentah-mentah makanan seperti ini." ucap ibunya.


Andre hanya diam tak merespon ucapan ibunya, ia hanya melanjutkan makannya dan sesekali menatap Lucy yang terlihat sangat gugup.


"Sayang, apa kau butuh sesuatu?" ucap Andre lembut.


ucapan Andre itu sontak membuat ibu dan Ratih terkejut, bagaimana bisa Andre dengan gamblangnya memanggil wanita itu dengan sebutan sayang sedangkan ibunya berusaha menjodohkan Andre dengan Ratih.


"Aku akan ke toilet sebentar, permisi." ucap Lucy sopan.


Lucy pergi meninggalkan meja makan dan berjalan menuju toilet, sedangkan Andre melanjutkan makannya seakan tak perduli dengan tatapan dari ibu dan Ratih kepadanya.


"Andre, kamu tau kan ibu mu ini tidak bisa tinggal menetap di negara ini?" tanya ibunya.

__ADS_1


"Ya aku tau." ucap Andre singkat.


"Lha jadi ya mbok cari calon istri itu yang lokal punya toh." ucap ibu Andre mengusulkan.


"Tapi aku bekerja dan menghabiskan waktu ku lebih banyak di sini dari pada di Indonesia Bu, ya aku butuh istri yang menetap di sisi ku." ucap Andre tanpa menatap wajah ibunya.


"Bu, sudahlah kita makan siang dulu. Ini bukan waktu yang tepat untuk membahas masalah seperti ini." ucap Alex.


"Ya Bu, kita juga baru sampai, lebih baik kita menikmati liburan kita di sini dulu. Masalah seperti itu nanti-nanti bisa di urus." timpal Ratih.


"Oalah nduk, untung kamu orangnya pengertian. Memang orang berpendidikan itu beda ya." sindir ibu Andre.


Setelah makan siang, Andre mengajak ibu beserta yang lain untuk pulang ke apartemennya. Tak lupa juga Lucy ikut bersama dengan mereka dan selalu setia menemani Andre. Setiba di apartemennya yang luas, Andre memberitahu kamar-kamar yang akan di tempati oleh ibu, adiknya dan Ratih. setelah membantu ibu dan adiknya mengemasi barang-barangnya tiba-tiba ponsel Andre berdering dan ternyata itu adalah telepon dari Luna.


"Selamat siang tuan Andre, maaf mengganggu waktu cuti anda. Tapi, saat ini saya butuh tanda tangan anda. Ada sebuah proposal yang harus anda tanda tangani secepatnya, kira-kira bagaimana tuan? Apa perlu saya menemui anda?" tanya Luna.


"Ah tidak usah, biar saya ke sana sebentar." ucap Andre.


"Baik tuan, selamat siang." ucap Luna.

__ADS_1


"Selamat siang" jawab Andre menutup telepon.


Andre memandang Lucy yang masih duduk di ruang keluarga, ia menatap tajam ke arah kekasihnya yang mencoba berbaur dengan ibu dan adiknya itu namun masih belum ada respon positif dari ibunya.


"Sayang, aku harus ke kantor. Ayo sekalian aku mengantar mu pulang." ajak Andre mencoba menyelamatkan kekasihnya dari pengasingan ibunya.


"Kenapa cepat sekali kamu menyuruh pacar mu itu pulang? Belum juga aku berbicara dengannya." ucap ibu Andre tiba-tiba.


"Aku rasa ibu tidak ada niat untuk berbicara dengannya, jadi lebih baik menurutku untuk mengajaknya pulang." ucap Andre ketus.


"Andre, sejak kapan kamu bisa bicara seperti itu ke ibu mu ini?" tanya ibunya marah.


"Sejak ibu mengasingkan Lucy. Dia sudah mencoba untuk berbaur dengan kalian, tapi sepertinya kalian ada cerita sendiri yang lebih menyenangkan." ucap Andre tak kalah emosi.


"Sudah mas, biar aku di sini saja. Lagi pula ibu mu tidak mengacuhkan ku sama sekali, kamu hanya salah pengertian saja. Kamu hati-hati berangkat ke kantornya." ucap Lucy mencoba melerai.


Andre mencoba menahan emosinya demi Lucy, ia memegang tangan Lucy dan menggenggam erat tangan kekasihnya itu.


"Baiklah kalau begitu, kalau ada apa-apa kamu tidak usah tunggu aku. Kamu bisa langsung pulang dan tinggalin tempat ini." ucap Andre.

__ADS_1


Andre pergi meninggalkan Lucy dengan perasaan was-was, karena perasaan itu ia pun mempercepat langkah kakinya agar segera tiba di dalam mobil dan sesegera mungkin tiba di kantor untuk menyelesaikan pekerjaannya.


__ADS_2