
Lucy berjalan dengan riang memasuki kantor, ia langsung menuju ruangan tempat Andre bekerja. Dengan membawa bekal sarapan yang sudah ia siapkan ia merapikan rambutnya dengan jari jemarinya.
"Selamat pagi nona Luna, aku mau memberikan ini untuk tuan Andre. Apa dia sudah datang?" tanya Lucy sopan.
Luna yang menatap layar komputernya langsung mengalihkan pandangannya dan menatap bingkisan yang ada di tangan Lucy.
"Hai nona Lucy selamat pagi, pak Andre ada di dalam ruangannya, anda bisa langsung masuk." ucap Luna sambil tersenyum.
"Ahh aku juga membawakan ini untuk mu." ucap Lucy memberikan secangkir latte dan roti bakar.
Luna meraih bingkisan yang di berikan oleh Lucy, ia menatap Lucy dalam-dalam sambil tersenyum.
"Nona Lucy, sepertinya kau lupa kalau aku adalah rival mi dalam mengejar pak Andre." ucap Luna tersenyum.
"Tidak, aku tidak lupa sama sekali. Aku tau akan hal itu, tapi aku tidak bisa membohongi diri kalau di sisi lain nona Luna adalah wanita yang baik dan sudah termasuk dalam daftar teman ku." ucap Lucy.
"Apa anda tidak takut jika aku mengetahui banyak rahasia mu dan menjadikannya sebagai senjata untuk menjatuhkan saingan ku?" tanya Luna penasaran.
"Aku sudah mempersiapkan semuanya, tenang saja, aku tidak akan semudah itu untuk di jatuhkan dan memberikan Andre kepada orang lain. Dia hanya akan menatap kearah ku." ucap Lucy yakin.
Luna tertawa mendengar ucapan Lucy, ia senang mendengar Lucy yang percaya diri dan optimis dalam hubungannya. Setidaknya kini ia tau jika Lucy juga berusaha memperjuangkan Andre agar selalu di sisinya.
"Baiklah kalau begitu, aku mendukung mu untuk mempertahankan cinta kalian." ucap Luna.
Lucy tersenyum dan meninggalkan Luna di meja kerjanya dan masuk ke dalam ruangan Andre. Ia membuka pintu dan melihat Andre yang sudah duduk di meja kerjanya sambil menatap layar komputernya.
"Pagi-pagi kau sudah sibuk dan tidak sadar aku masuk ke ruangan mu." ucap Lucy.
"Aku tau yang datang itu dirimu jadi aku tidak perlu menatap mu." ucap Andre.
"B-bagaimana kamu tau kalau aku yang datang?" tanya Lucy kini duduk di sebelah Andre.
"Apa kau lupa jika aku yang membelikan parfum untuk mu?" tanya Andre.
__ADS_1
Lucy mencoba mencium bau badannya dan berfikir serius.
"Perasaan aku hanya menyemprotkan sedikit parfum, bagaimana kamu bisa menciumnya. Penciuman mu sangat tajam ternyata." ucap Lucy.
"Bukan hanya itu, aku bahkan bisa merasakan kehadiran mu." ucap Andre.
"Wah sepertinya aku mempunyai seorang kekasih yang mempunyai kekuatan super." ucap Lucy menganggukkan kepalanya.
Andre hanya tertawa mendengar ocehan kekasihnya itu, terlihat jelas Lucy adalah wanita yang sangat mudah di tipu.
"Aku pagi tadi bertemu dengan ayah di lobby apartemen." ucap Lucy.
"Kenapa dia di sana?" tanya Andre sambil memakan sarapannya.
"Tidak ada, dia hanya ingin mengunjungi ku dan melihat ku saja." ucap Lucy.
"Apa dia membuat keributan lagi di sana?" tanya Andre penasaran.
"Tidak, awalnya aku pikir ia akan melakukan kekacauan lagi. Tapi sepertinya sekarang ayah sudah berubah, dia bahkan tidak meminta uang kepada ku." ucap Lucy.
"Tidak mungkin, ku rasa ayah benar-benar sudah berubah menjadi seorang yang lebih baik. Mengingat umurnya yang semakin tua, aku jadi memikirkan keadaanya sekarang jika dia tinggal sendiri." ucap Lucy polos
"Semoga saja dia tidak mengacaukan hidup mu lagi dan benar-benar jera akan kejadian kemarin." ucap Andre.
"Semoga saja...." ucap Lucy.
Setelah mengantar sarapan untuk Andre, Lucy kembali ke ruangannya dan memulai pekerjaannya. Ia pun tenggelam dalam kesibukan pekerjaannya dan tidak menghiraukan sekitar.
Leon datang kembali ke kantor Andre, untuk membahas pekerjaan yang belum mereka selesaikan kemarin. Leon melewati meja Luna dan menghampirinya terlebih dahulu sebelum menemui Andre.
"Hai, kau sibuk?" sapa Andre.
"Waahhh sepertinya kau senang selalu datang ke sini? Apa ada seseorang yang kau incar?" tanya Luna curiga.
__ADS_1
"Berhenti mencurigai ku. Jadi, apa kau sudah mengosongkan hati mu itu? Aku sudah menunggu cukup lama." ucap Andre menanyakan.
"Aku samasekali tidak meminta mu untuk menunggu ku, kau ingin menemui Andre bukan?" tanya Luna mengalihkan pembicaraan.
"Hei berhentilah berharap pada lelaki yang ada di dalam sana, kau juga harus mencoba hal baru." ucap Leon sambil menunjuk ruangan Andre.
"Aku sedang berusaha, tapi belum tentu juga aku akan bersama mu." ucap Luna sinis.
"Ayolah.... Tidak ada pria yang sangat mengerti dirimu selain aku. Aku yang terbaik." ucap Leon percaya diri.
Luna tertawa mendengar ucapan Leon, mereka sudah berteman sejak lama sebelum mereka berteman dengan Andre. Bahkan orang tua mereka berteman baik, dan Leon selalu mengejar Luna walau Luna selalu saja menolaknya.
Leon masuk ke ruang kerja Andre dan melihat sahabatnya itu yang sudah tenggelam di pekerjaannya. Sosok Andre yang ambisius sangat fokus dalam pekerjaan dan tidak akan ada celah sedikit pun di pekerjaannya. Akan hal ini lah Andre dapat mendirikan perusahaan ini dalam jangka waktu kurang lebih dari tiga tahun.
"Berhentilah bekerja atau kau akan kehilangan informasi penting dari ku." ucap Leon yang kini sudah duduk di sofa.
"Hal penting apa sampai-sampai kau datang ke sini, ini bukan seperti kau yang biasanya." ucap Andre penasaran.
"Kau tau, semalam kau meminta ku untuk mengantar sahabat kekasihmu dan menyelidikinya bukan? Kau sepertinya harus lebih berhati-hati dengan wanita itu, aku melihat Boris keluar dari apartemennya jam 3.00 dinihari. Aku tidak tau apa yang mereka lakukan tapi sepertinya wanita itu mempunyai hubungan dengan Boris." ucap Leon memberitahu.
"Ternyata mereka memang merencanakan sesuatu selama ini, bahkan Boris mencoba mengambil kepercayaan dari Lucy agar rencana mereka berhasil." ucap Andre.
"Sepertinya mereka ingin menggunakan Lucy sebagai mesin uang mereka dan memanfaatkan hubungannya dengan mu yang seorang CEO." ucap Leon.
"Baiklah kalau begitu, bagai mana kalau kita menikmati permainan mereka terlebih dahulu. Lagian sepertinya kau tertarik dengan Carlo." ucap Andre.
"Ya, aku suka bermain-main dengan wanita liar." ucap Leon tersenyum jahat.
Andre hanya menggelengkan kepalanya sambil tertawa, bagaimana Luna akan tertarik dengannya jika ia selalu saja memanfaatkan wanita-wanita yang gila uang seperti Carlo itu. Tapi bukan Leon namanya jika tidak bermain-main dengan hal seperti itu, Andre yang sudah berulang kali menasehatinya berujung sia-sia. Jangankan untuk mendengarkan, Leon bahkan menutup telinganya setiap kali Andre menasehatinya sebagai sahabat.
"Bagaimana dengan pengejaran mu terhadap Luna? Apa dia sudah bersedia di kejar oleh mu?" tanya Andre tiba-tiba.
"Dia masih dingin seperti dulu, tapi setidaknya dia masih mau berbicara dan tersenyum dengan ku. Kenapa? Apa aku seburuk itu?" tanya Leon penasaran.
__ADS_1
"Tidak.... Tidak, kau yang terbaik." ucap Andre terbata-bata.