
Carlo sudah tiba di kantor pagi-pagi sekali, ia menunggu kedatangan Lucy di lobby kantor sambil memainkan ponselnya. Kini pikirannya melayang-layang membayangkan ia akan bekerja di perusahaan ini bersama Andre dan akan selalu melihat pujaan hatinya itu.
"Carlo, kau sudah sampai?" sapa seorang wanita yang tak lain adalah Lucy.
"L-Lucy, kau mengejutkan ku. Aku baru saja tiba dan di suruh menunggu di sini." ucap Carlo gugup.
"Kau gugup, aku pun merasakan hal yang sama awalnya. Tapi semakin kesini kau akan terbiasa, good luck." ucap Lucy menyemangati.
Saat Lucy dan Carlo asik bercerita ada seorang wanita menghampiri mereka.
"Nona Carlo, saya Luna sekretaris pak Andre." ucap Luna memperkenalkan diri.
Carlo dan Lucy berdiri berhadapan dengan Luna yang memegang beberapa berkas.
"Aku akan membawa mu ke departemen data dan memperkenalkan rekan kerja mu." ucap Luna menjelaskan.
"Departemen data? Bukankah itu ada di gedung sebelah?" tanya Lucy penasaran.
"Iya, kita kekurangan orang di sana. Untuk bagian gedung ini semua departemen sudah terisi jadi nona Carlo akan saya letakan di sana." jelas Luna.
"Tapi bukankah yang seharusnya menempatkan ku itu adalah Andre? Kenapa anda yang mengatur semuanya?" tanya Carlo kurang senang.
"Karena pak Andre sangat sibuk dan dalam urusan karyawan baru beliau tidak ikut campur dalam hal penempatan. Jadi saya yang bertanggung jawab sepenuhnya di sini." jelas Luna.
Carlo terdiam mendengar ucapan Luna, dia benar-benar kesal mengetahui ternyata dia tidak satu gedung dengan Andre dan ini akan membuat ya semakin sulit untuk mendekati Andre secara langsung.
__ADS_1
"Tidak apa-apa Carlo, aku akan sering-sering datang ke kantor mu dan menemani mu makan siang ok." bujuk Lucy.
Carlo hanya mengangguk pasrah, dia benar-benar tak bisa mengelak atau beralasan. Lucy akan curiga kepadanya jika ia memaksa ingin bekerja satu gedung dengannya.
"Baiklah kalau begitu, aku akan mengantar mu ke bagian HRD terlebih dahulu. Dan Lucy aku bisa minta tolong untuk meletakan file-file ini di meja pak Andre?" ucap Luna.
"Baiklah, serahkan itu kepada ku. Semangat Carlo." ucap Lucy sambil mengepalkan kedua tangannya.
Luna dan Carlo pergi meninggalkan lobby kantor sedangkan Lucy berjalan menuju ruangan Andre yang tak lain juga ruang kerjanya sambil memeluk file-file yang di titipkan oleh Luna. Ia merasa sangat senang karena akhirnya sahabatnya dapat bekerja di perusahaan yang sama dengannya.
Luna mengantar Carlo menemui HRD dan mengurus berkas-berkas karyawan baru di sana. Tak lama kemudian ia pun menandatangani surat kontrak dan beberapa perjanjian kerja, setelah itu semua selesai Luna mengantar Carlo menuju departemen data.
"Jadi nona Carlo, mulai sekarang kau akan bekerja di sini. Semoga kau betah dengan pekerjaan mu dan saya harap anda dapat dengan mudah beradaptasi." ucap Luna.
"Terimakasih banyak karena telah membantu ku. Hmm nona Luna, apa anda tau di mana ruangan Lucy? Siapa tau nanti aku akan mengajaknya makan siang bersama." tanya Carlo penasaran.
"Cih... Sepertinya kau sangat takut jika aku masuk ke ruangan Andre dan bertemu dengan Lucy. Kau harus tau, Lucy itu adalah sahabat ku dan aku bisa saja memintanya mengajak ku ke ruang kerjanya." ucap Carlo kesal.
"Baiklah, jika tidak ada lagi yang anda butuhkan saya pamit dulu." ucap Luna menghiraukan ucapan dari mulut Carlo.
Lucy meletakan beberapa file yang di berikan oleh Luna tadi di atas meja Andre, ia belum melihat tanda-tanda dari kedatangan Andre. Lucy pun melangkahkan kaki menuju meja kerjanya dan menghidupkan laptopnya sambil memeriksa beberapa berkas yang harus ia kerjakan hari ini.
"Kau sudah sibuk pagi-pagi seperti ini." ucap seorang pria yang tak lain adalah Andre.
"Ya aku sekarang adalah wanita karir, jadi aku akan sangat sibuk setiap harinya." ucap Lucy sambil tersenyum.
__ADS_1
"Baiklah wanita karir, apakah sarapan ku sudah siap?" tanya Andre duduk di sebelah Lucy.
Lucy mengeluarkan kotak bekal khusus yang ia siapkan untuk Andre, dengan senyum ceria ia memberikannya dengan kekasihnya itu dan hal itu tidaklah di sia-siakan oleh Andre. Dengan cepat ia menyambar kotak bekal itu dan membawanya kabur ke meja kerjanya, melihat akan hal itu Lucy hanya menggeleng-gelengkan kepalanya sambil tertawa kecil.
"jangan ganggu aku, aku akan menghabiskan makanan ini sambil bekerja." teriak Andre.
Lucu tidak menanggapi ucapan andre dan kembali menatap layar laptopnya dan pekerjaannya itu. Saat sedang serius bekerja, ponsel Lucy berbunyi dan dengan cepat Lucy melihat ke arah layar ponselnya.
"Hai apa kau sibuk? Aku sekarang sudah berada di meja kerja ku, aku sangat bersemangat." tulis Carlo di sebuah pesannya.
Lucy langsung menekan tombol Call untuk menelepon sahabatnya itu sambil melirik Andre yang kini sedang asik menyantap makanannya sambil menatap layar komputer.
"Bagaimana ruang kerjanya? Apa kau sudah bertemu dengan rekan-rekan kerja mu? Wah aku sangat tak sabar mendengar cerita mu." ucap lucy sambil bertanya banyak hal.
"Luna sudah mengenalkan ku dengan kepala departemen dan karyawan lainnya, mereka terlihat ramah dan sangat senang menyambut ku. Kapan kau main ke ruang kerja ku?" tanya Carlo antusias.
"Aku akan berkunjung ka sana jika ada keperluan, aku senang mendengar kabar mu. Semangat." ucap Lucy senang.
"Iya, tapi aku juga penasaran dengan ruang kerja mu. Apa aku boleh main ke ruang kerja mu nanti?" tanya Carlo penuh harap.
Lucy terdiam mendengar ucapan sahabatnya itu, ia bingung ingin mengatakan apa. Karena sampai saat ini ia samasekali tidak mempunyai ruang kerja sendiri, yang ia tempati saat ini adalah ruang kerja andre dan itupun tidak semua orang bisa sembarangan masuk ke ruangan ini. Sejauh ini hanya orang-orang yang berkepentingan khusus yang di perbolehkan masuk ke ruang kerja Andre, selebihnya hanya menunggu di ruang tunggu yang sudah di sediakan.
"Lucy.... Lucy.... Kau masih di situ? Apa kau sibuk?" tanya Carlo.
"owh, maaf Carlo aku saat ini masih berada di ruangan Andre, entah sampai kapan aku akan bekerja di ruangan ini bersama dengannya. Nanti jika aku mempunyai ruang kerja sendiri aku akan mengundang mu masuk ok, karena ruangan kerja Andre tidak bisa sembarang orang dapat masuk." ucap Lucy mencoba menjelaskan.
__ADS_1
"Jadi maksud mu aku adalah orang lain? Baiklah, aku mengerti posisi mu. Kalau begitu aku akan bekerja, selamat bekerja Lucy." ucap Carlo dengan nada kecewa.
Lucy mematikan ponselnya sambil memandangi layar ponsel tersebut, ia merasa tak enak hati karena telah menolak permintaan dari sahabatnya itu dan membuatnya kini merasa canggung untuk berhadapan dengan Carlo. Ia takut jika Carlo berpikir kini ia sudah lupa daratan dan menjadi sombong akan posisinya yang seorang pacar bos besar.