S.H.E (Wanita Yang Kubeli)

S.H.E (Wanita Yang Kubeli)
#52


__ADS_3

"Lucy kenapa kau harus memikirkan hal seperti itu? Biarkan mereka mengatakan hal bodoh seperti itu, kini kau cukup menjalani semuanya dan menikmatinya. Sekaligus kau harus membuktikan kepada mereka bahwa kau layak berada di samping Andre." ucap Carlo meyakinkan.


"Tapi aku benar-benar tidak mempunyai kemampuan untuk melakukan itu semua." ucap Lucy tertunduk lesu.


"Aku tidak tau kenapa saat ini Andre bisa memilih mu sebagai pasangannya untuk saat ini, pasti ada sesuatu yang spesial yang ia lihat dari diri mu dan kau harus percaya diri akan hal itu. Lucy, jika benar Andre tidak mempunyai perasaan apapun terhadap mu mungkin sudah lama dia menyingkirkan mu." jelas Carlo lagi.


Lucy terdiam mendengar ucapan sahabatnya itu, pikirannya sedikit berkurang mendengar itu semua. Ya apa yang di katakan Carlo ada benarnya, setidaknya saat ini Andre masih bertahan dan berada di sisinya itu jauh lebih baik. Sekarang tinggal bagaimana caranya mempertahankan hubungannya dan membuat dirinya layak berada di sisi Andre.


"Terimakasih Carlo, kau benar-benar sahabat ku. Semua yang kau katakan itu ada benarnya juga, aku sangat bersyukur karena ada kau yang mendukung ku dalam situasi seperti ini." ucap Lucy tulus.


"Kau harus percaya padai dirimu sendiri Lucy, jika benar wanita itu mencoba menarik perhatian Andre silahkan saja. Tapi kau harus ingat satu hal, Andre tidak pernah meliriknya selama ini dan itu membuktikan Andre tidak memiliki perasaan apapun terhadapnya." ucap Carlo sambil tersenyum.


Lucy mengangguk setuju dengan ucapan Carlo, ia pun memeluk sahabatnya sebagai tanda ucapan terimakasih karena telah membantunya melewati kesulitan ini. Merekapun menghabiskan malam dengan berbagi cerita dan bercengkrama bersama karena sudah cukup lama mereka tidak menghabiskan waktu bersama.


________________________


Andre menghubungi ponsel Lucy sedari tadi namun belum ada jawaban darinya. Tidak seperti biasanya Lucy tidak mengangkat telepon darinya, dan biasanya Lucy sudah menghubunginya pagi-pagi untuk menanyakan Andre sudah sarapan atau belum. Terlebih lagi semalam Lucy lebih banyak murung tidak seperti biasanya itu membuat Andre menjadi semakin cemas. Andre pun mengambil kunci mobilnya dan bergegas pergi mengunjungi apartemen Lucy.


Tok.... Tok.... Tok....


"Lucy.... Lucy, ini aku." teriak Andre saat tiba di depan apartemen Lucy.


Namun tida ada jawaban dari dalam, Andre pun mencoba berkali-kali dengan ketukan lebih kuat. Ia benar-benar merasa khawatir karena hal seperti ini tidak seperti biasanya.


Andre pun berinisiatif untuk menelepon keamanan apartemen karena kini dia sudah merasa panik. Tak perlu waktu lama, scurity dan tukang kunci apartemen pun tiba setelah mendengar keluhan dari Andre, mereka pun bersiap-siap untuk membuka pintu apartemen Lucy dengan paksa. Namun tiba-tiba pintu apartemen terbuka dari dalam dan Napak seorang wanita di sebalik pintu.

__ADS_1


"Ada apa pagi-pagi kalian berkumpul di depan pintu ku?" tanya Lucy yang msih mengenakan piyamanya.


"Maaf nona, pria ini mengatakan ia sudah mencoba memanggil mu dan menelepon mu berkali-kali namun tidak ada jawaban dari mu. Baguslah jika kau baik-baik saja." ucap scurity itu dan mereka pun meninggalkan Lucy dan Andre yang masih berdiri di sana.


Andre menatap Lucy dengan tatapan sedikit kesal dan itu menyadarkan Lucy. Ia segera merapikan rambutnya dan menyuruh Andre masuk. Andre masuk ke apartemen Lucy tanpa kata yang keluar dari mulutnya, sedangkan Lucy berlari ke dapur untuk membuatkan Andre kopi. Lucy mengecek ponselnya dan ternyata sangat banyak panggilan tak terjawab dan pesan dari Andre.


"Aku tidak tau jika kau menelepon ku sebanyak ini. Dan juga aku lupa kalau ponselku dalam keadaan silent, maaf" ucap Lucy takut-takut.


Andre hanya diam sambil menatap Lucy dengan pandangan yang menusuk. Ia benar-benar tak percaya akan di permainkan dengan wanita kecil ini.


"Mas aku benar-benar tidak tau, Carlo menginap di sini tadi malam dan kami begadang semalaman. Jika kau tidak percaya dia masih ada di dalam kamar." ucap Lucy mencoba menjelaskan.


"Sepertinya kau sangat suka bermain-main dengan ku, tidak taukah kau betapa khawatirnya aku pagi ini? Aku pergi mendatangi mu hanya menggunakan piyama seperti ini." ucap Andre.


Lucy memandang tubuh Andre yang memang benar hanya menggunakan piyama. Ia mencoba menahan tawa karena melihat Andre seperti itu. Andre benar-benar jauh dari kesan CEO yang biasa ia temui selama ini.


"Kamu... Kamu mau ngapain?" tanya Lucy gugup.


"Sepertinya aku melihat mu tersenyum, apa kau menyukai kondisiku yang seperti ini? Pergi keluar rumah hanya menggunakan piyama?" tanya Andre menggoda.


"S-siapa yang tersenyum, lagian kau manusia yang aneh. Bagaimana bisa kau pergi mengunjungi apartemen seorang gadis hanya menggunakan piyama." ucap Lucy mencoba mengalihkan kesalahan.


Dada Andre yang bidang tersibak di celah piyamanya dikarenakan Andre yang menunduk, pemandangan itu membuat jantung Lucy berdegup kencang. Bagaimana tidak, hanya melihat dada kekasihnya saja sudah sangat maskulin apa lagi dia bisa melihat tubuh Andre. Lucy menggelengkan kepalanya dengan kuat untuk membuyarkan fikiran kotornya.


"Jujur saja, aku benar-benar ingin menyentuh tubuhnya. Tuhaaann aku hanya wanita biasa, bagaimana mungkin aku tidak akan tergoda melihat tubuh lelaki ini. Aku yakin dia mempunyai tubuh yang sempurna." batin Lucy

__ADS_1


Andre semakin mendekati wajahnya ke arah Lucy dan kini sangat dekat sampai-sampai Lucy merasakan hembusan nafas Andre.


"Apa kau sudah puas menatap seluruhnya? Perlu aku buka baju ku agar kau merasa lebih puas lagi?" bisik Andre di telinga Lucy.


Mendengar hal itu Lucy mencoba mendorong Andre namun ia bukanlah tandingan bagi lelaki itu, kini tangannya benar-benar berada di dada bidang Andre.


"Lucy kau sudah bangun? Kenapa kau tidak membangunkan ku?" ucap Carlo yang baru bangun dan belum sadar sepenuhnya.


Mata Carlo secara spontan terbelalak lebar melihat pemandangan di depannya. Ia segera berbalik menghadap ke kamar Lucy, sepertinya ia keluar dalam keadaan yang salah.


"Maaf aku mengganggu kalian. Kalian bisa melanjutkannya, aku akan kembali ke kamar, anggap saja aku tidak ada." ucap Carlo malu.


"Sudahlah, karena teman mu sudah bangun aku akan pulang." ucap Andre.


"Kau belum makan apapun, bagaimana jika aku membuatkan mu sarapan? Setidaknya kita bisa makan dengan sahabat ku bukan?" tanya Lucy.


"Baiklah, mari kita makan sarapan bersama." ucapan Andre.


Carlo terdiam mendengar ucapan Andre, ia tak menyangka jika pacar sahabatnya itu masih masih memiliki hati nurani dan mau bergaul dengannya. Carlo mendekati meja makan dan duduk bergabung dengan Lucy dan Andre. Lucy pun memanggang roti dan meletakan selai, setelah itu ia memberikannya kepada Andre.


"Maafkan aku karena telah membuat keributan pagi-pagi ini." ucap Andre mencoba berbicara pada Carlo.


"Owh tidak apa-apa tuan, aku yang seharusnya minta maaf. Jika aku tidak mengajak Lucy begadang mungkin kami tidak akan kesiangan seperti ini, dan wajar jika kau jadi mengkhawatirkannya dan datang ke sini." ucap Carlo.


"Yah sepertinya dia juga butuh waktu untuk bersama sahabatnya, terimakasih karena telah menjadi sahabatnya. Dan tentunya kau juga harus terbiasa memanggilku Andre." ucap Andre tulus.

__ADS_1


Carlo terdiam mendengar ucapan Andre yang tidak biasanya ia dengar dari mulut bos besar. Andre sangat jauh berbeda dari image bos besar yang angkuh, ia sangat mudah bergaul dengan mereka kalangan bawah. Tak heran jika Lucy jatuh hati dan merasa tidak pantas untuk berada di sisi Andre. Andre benar-benar sosok lelaki yang di idamkan setiap wanita di muka bumi ini.


__ADS_2