S.H.E (Wanita Yang Kubeli)

S.H.E (Wanita Yang Kubeli)
#104


__ADS_3

Di sisi lain Carlo yang awalnya tersenyum manis ke arah Lucy kini membalikan badan dan tersenyum licik. Ia tidak sepenuhnya berniat meminta maaf kepada Lucy, ia tidak ingin Lucy terus-terusan memikirkan hal buruk tentangnya dan menghindari dirinya. Ia harus bisa mendapatkan kepercayaan Lucy agar bisa memanfaatkan Lucy sebagai sumber uangnya.


Carlo pulang ke apartemennya, ia membaringkan tubuhnya di atas kasur dengan pikiran masih menerawang jauh. Teringat bagaimana perjuangannya untuk menjalani hidup yang tidak mudah ini. Ia berasal dari desa yang sama dengan Lucy, mereka bekerja di tempat yang sama saat itu. Berbagi makanan dan tempat tidur yang sama saat Lucy harus menginap di kontrakannya karena di usir ayahnya yang sering mabuk. Sampai-sampai ia pun terikat hubungan terlarang dengan ayah Lucy yang juga seorang hidung belang agar dapat memenuhi kebutuhan hidupnya.


"Bagaimana bisa aku yang sudah berjuang habis-habisan seperti ini tidak mendapatkan apa-apa? Sedangkan Lucy yang hanya mengalami kekerasan dari ayahnya seketika mendapatkan door prize dan hidup mewah bak putri raja." gumam Carlo.


_____________________


Lucy masih menikmati jalan sorenya menuju rumah, sudah cukup lama ia tidak berjalan seperti ini di sore hari. Semenjak ia kenal dengan Andre, ia selalu di antar jemput oleh kekasihnya itu. Ia tidak pernah menikmati jalan-jalan sore dengan kebisingan kendaraan orang pulang kerja. Para seniman jalanan pun ikut meriuhkan kebisingan kota ini.


"Lucy.... Lucy...." teriak seseorang.


Lucy menoleh lagi ke arah sumber suara, sepertinya banyak orang yang mengenalinya hari ini. Dan ternyata itu adalah Leon yang tiba-tiba memarkir mobilnya di sisi jalan.


"Ah tuan Leon, ada apa?" tanya Lucy heran.

__ADS_1


"Aku yang seharusnya bertanya, kenapa kamu berjalan sendirian di sini?" tanya Leon.


"Owh aku pulang kerja dan menikmati jalan-jalan sore. Sudah lama aku tidak berjalan-jalan seperti ini." ucap Lucy.


"Masuklah, aku akan mengantarmu pulang." ucap Leon.


"Terimakasih tuan Leon, tapi saya jalan kaki saja." tolak Lucy sopan.


"Apartemen mu masih cukup jauh, aku akan kena masalah jika Andre tau aku membiarkan dirimu berjalan sendirian. Kau sendiri tau bagaimana tabiat kekasihmu itu." ucap Leon.


"Terimakasih tuan Leon. Maaf aku akan merepotkan dirimu." ucap Lucy sungkan.


"Tidak usah sungkan, kau kekasih sahabatku tentu saja kau juga teman ku. Kau bisa memanggilku dengan sebutan Leon saja, aku merasa aneh jika kekasih sahabatku memanggil ku tuan." ucap Leon.


"Ah tidak apa, aku yang tidak enak jika hanya memanggil nama anda saja." ucap Lucy.

__ADS_1


Leon hanya menganggukkan kepalanya mengerti dengan sikap Lucy yang sangat polos.


"Baiklah, buatlah dirimu senyaman mungkin. Aku akan mengantarmu pulang." ucap Leon.


Leon menghidupkan mobilnya dan berjalan menuju apartemen Lucy, sesekali ia melihat kearah Lucy untuk melihat wajah gadis polos itu.


"Lucy, apa kau sengaja membiarkan Andre pergi dengan wanita pilihan ibunya?" tanya Leon tiba-tiba.


Lucy menoleh kearah Leon, wajahnya seperti bingung dan tidak tau harus menjawab apa.


"Ah bukan maksudku untuk penasaran dengan hubungan kalian. Hanya saja tadi Luna bercerita banyak dengan ku, dan aku juga kepikiran dengan hubungan kalian. Jadi aku kira kau akan terluka dalam dengan perjodohan Andre." ucap Leon.


"Tidak apa-apa tuan Leon, saya percaya dengan Andre. Jikapun dia harus menikah dengan wanita itu, aku akan melepaskannya. Karena itu permintaan ibunya, dan juga harus Andre sendiri yang mengatakannya pada ku." ucap Lucy.


"Apa kau tidak merasa terluka jika itu terjadi?" tanya Leon tak percaya dengan ucapan Lucy.

__ADS_1


__ADS_2