S.H.E (Wanita Yang Kubeli)

S.H.E (Wanita Yang Kubeli)
#48


__ADS_3

Lucy kembali sambil membawa beberapa makanan dan minuman di tangannya. Ia membeli beberapa makanan yang di pesan Andre dan juga latte untuk Luna, ia merasa jika tanpa Luna selama ini mungkin Andre akan mengalami kesulitan.


"Luna, ini untuk mu." ucap Lucy memberikan bingkisan kepadanya.


"A-apa ini?" tanya Luna penasaran.


"Sarapan, aku dengar dari Andre kamu semalam terlambat tidur. Jadi Andre menyuruh ku membeli sarapan untuk mu." jelas Lucy sambil meletakan bingkisannya.


"Wah, terima kasih banyak. Aku juga belum sempat sarapan tadi, sampaikan ucapan terima kasih ku kepada pak Andre." ucap Luna senang.


"Ya, makanlah sebelum kau terlalu sibuk." bisik Lucy.


Luna hanya tersenyum mendengar bisikan Lucy, ia tak percaya jika Andre masih sangat perhatian dengannya. Buktinya, Andre masih memikirkan dirinya saat dia juga dalam kondisi sibuk. Wajar saja Andre tidak menyuruhnya membeli sarapan, ternyata sarapan itu untuk dirinya pikir Luna. Luna memakan sandwich yang di beli oleh Lucy dan menatap layar komputer dengan semangat.


Lucy masuk ke ruangan Andre dengan pelan ia membuka dan menutup pintu agar tidak mengganggu pekerjaan Andre. Ia menyiapkan beberapa potong sandwich di piring dan meletakkannya di meja Andre.


"Suapi aku." ucap Andre tiba-tiba.


"Kamu sudah besar, tidak wajar lagi di suapi." ucap Lucy.


"Aku benar-benar sibuk dan tidak bisa makan saat ini. Tapi aku sangat lapar, perut ku sudah terasa sakit." ucap Andre beralasan.


"Tidak bisakah kamu berhenti sebentar dan memakan makanan mu sendiri? Di bandingkan dengan pekerjaan mu itu, kesehatan jauh lebih penting." nasehat Lucy.


"Suapi aku atau aku benar-benar akan kelaparan sampai siang." ancam Andre


Dengan keadaan terpaksa Lucy pun menyuapi Andre yang pandangannya masih fokus ke layar monitor. Benar-benar hal yang sulit untuk menolak sesuatu yang di pinta Andre, selain keras kepala ia juga tak akan segan-segan menyakiti dirinya.


Melihat Lucy yang mengalah dan menyuapinya, Andre pun tersenyum. Ia merasa ancamannya membuat Lucy takut dan lebih memilih mengalah.


"Lain kali aku tidak akan mau menyuapi mu seperti ini." ucap Lucy kesal.


"Tapi aku sangat suka di suapi langsung oleh tangan mu, rasanya jauh lebih enak dan nikmat." ucap Andre tersenyum licik.

__ADS_1


"Berhenti menggoda ku, aku benar-benar akan marah jika kamu selalu mengancam ku." ucap Lucy yang masih kesal.


"Kau benar-benar cantik saat marah, aku suka membuat mu kesal. Semakin kau kesal, semakin kau menggemaskan." gombal Andre.


Lucy tertawa mendengar ucapan pacarnya itu. Mulut Andre benar-benar manis dalam berucap dan menggoda, entah sudah berapa banyak wanita yang sudah ia goda dan termakan akan rayuannya itu. Saat saling menggoda, tiba-tiba pintu ruangan Andre di ketuk dan terbuka. Ternyata Luna yang datang, Lucy yang kini sedang menyuapi Andre merasa benar-benar bingung dan malu. Bisa-bisanya ia bermesraan di jam kerja seperti ini.


"Maaf pak, saya hanya mengantar ini. Saya akan segera keluar." ucap Luna yang langsung tertunduk melihat pemandangan di depannya.


"Owh tidak apa-apa Luna, letakan saja itu di meja. Aku akan melihatnya nanti setelah aku menyelesaikan ini." ucap Andre tanpa melihat ke arah Luna.


Luna mengangguk dan langsung pergi dari ruangan itu. Hatinya terasa nyeri melihat pemandangan barusan. Di mana Andre an Lucy bermesraan di dalam kantor dan Andre menganggap itu hal biasa.


"Owh, tenangkan hati mu Luna. Itu hal wajar bukan? Mereka sepasang ke kasih, hal yang wajar jika mereka bermesraan walaupun ini adalah kantor." ujar Luna pelan.


Luna kembali ke mejanya dan menatap latte yang tadi di beli oleh Lucy. Kini ia sadar jika tak ada lagi ruang di hati Andre untuknya.


Jam makan siang Luna yang masih gelisah dengan hatinya memberanikan diri untuk berbicara dengan Lucy. Entah apa yang di pikirnya saat ini, ia ingin menyampaikan rasa yang mengganggu di dan mengganjal di hatinya saat ini. Luna pun mengajak Lucy untuk makan siang bersama. Dan tanpa pikir panjang Lucy menerima ajakan dari Luna, karena ini pertama kalinya ada teman kantor yang mengajaknya makan siang bersama.


"Di sini makanannya lumayan enak kok, aku akan mencoba makan ke sini lain kali." ucap Lucy bersemangat.


Mereka yang telah menyelesaikan makan siang di sebuah cafe masih menikmati waktu santai. Dan dengan waktu yang tidak sedikit ini Luna berinisiatif mengungkapkan isi hati nya.


"Lucy, boleh aku bertanya sesuatu kepada mu? Ini masalah pribadi mu sih, tapi jika kau keberatan tidak apa." ucap Luna memulai.


"Boleh, kamu bisa menanyakan apapun kepadaku Luna. Aku sudah menganggap mu sebagai teman." ucap Lucy tersenyum.


"Lucy, apa kau dan pak Andre sudah lama menjalin hubungan?" tanya Luna tanpa basa-basi.


Lucy terdiam mendengar pertanyaan dari Luna, ia bingung mengapa Luna menanyakan hal ini kepadanya. Karena ini seperti bukan Luna yang biasanya, ia sangat tidak suka ikut campur dalam masalah hubungan orang.


"Aku dengan Andre sudah hampir enam bulan ini bersama, dan awal bertemunya juga hanya kebetulan saja. Tumben kamu bertanya masalah ini Luna?" tanya Lucy penasaran.


"Ya, karena yang aku tau Andre sangat susah untuk move on dari cinta pertamanya. Buktinya ia selalu menutup hatinya selama kuliah dan memulai bisnis." ungkap Luna.

__ADS_1


"Kau tau tentang cinta pertama Andre?" tanya Lucy penasaran.


"Ya, aku mengetahuinya saat kami masih kuliah. Andre adalah sosok lelaki top di kampus dan hampir seluruh gadis di kampus yang tertarik padanya." cerita Luna.


Lucy kembali terdiam, ternyata banyak hal yang ia tak ketahui masalah Andre. Ia bahkan baru tau jika Luna dan Andre adalah teman semasa kuliah, wajar Andre sangat pengertian pada Luna.


"Kau tau Lucy, banyak wanita yang ingin berada di samping Andre saat itu. Namun entah karena apa, Andre malah selalu dekat dengan ku." ucap Luna lagi.


Lucy tersentak mendengar itu, apakah Andre dulu pernah suka dengan Luna?


"Tapi aku dan dia tidak pernah menjalin hubungan apapun. Kami benar-benar dalam lingkup pertemanan biasa, dan bagi ku itu sudah cukup." ucap Luna.


"Jadi, apa maksud mu mengatakan ini semua sekarang?" tanya Lucy yang sedikit merasa kesal.


"Dulu aku menganggap jika berada di sampingnya saja sudah cukup, karena Andre tidak pernah mau membuka hati untuk yang lain. Namun setelah aku tau dia mulai membuka hatinya dan itu ternyata untuk mu, jujur Lucy ini benar-benar tidak adil bagi ku." ucap Luna langsung.


Lucy terdiam mendengar ucapan yang keluar dari mulut Luna, ia tak menyangka jika ternyata Luna mempunyai perasaan pada Andre. Bahkan jauh sebelum ia mengenal Andre dan bertemu dengannya.


"Luna, aku tidak mengerti apa maksud mu mengatakan itu semua. Namun aku juga tidak tau masalah Andre yang mulai membuka hatinya, karena saat itu aku juga tidak ingin bergantung padanya. Namun, dia meminta ku tinggal untuk membantunya melupakan cinta pertamanya." jelas Lucy.


"Aku tidak menyalahkan mu akan masalah itu, namun aku hanya ingin mengatakan jika aku mempunyai perasaan kepada Andre dan aku akan merasa bersalah jika tak memberi tau mu ini semua karena saat ini kau aalah pacar dari Andre. Tapi Lucy, aku bukan bermaksud ingin menyingkirkan mu, aku hanya meminta sesuatu kepada mu." ucap Luna dengan penuh hati-hati.


"Meminta sesuatu? Apa itu?" tanya Lucy penasaran.


"Bolehkah kau mengizinkan ku untuk mengejar Andre? Aku tidak akan memaksanya, aku hanya ingin kita bersaing secara sportif. Karena status kalian hanya sebatas pacar, jadi aku masih punya kesempatan bukan?" tanya Luna dengan berani.


Lucy terdiam mendengar ucapan Luna, ia tak menyangka jika Luna benar-benar berani mengucapkan hal itu kepadanya dan mengajaknya bersaing untuk mendapatkan Andre. walaupun apa yang di katakan Luna itu benar namun ia merasa sedikit kesal. Tapi di sisi lain Lucy sangat menghargai kejujuran dari Luna dan meminta izin dengannya terlebih dahulu. Benar-benar menunjukan seorang wanita yang terpelajar.


"Luna, aku tidak pernah melarang wanita manapun mendekati Andre. Jika Andre benar-benar akan menjadi milik ku, dia pasti tidak akan kemana-mana. Namun jika dia bukan milik ku, sekuat apa pun aku berusaha itu akan sia-sia bukan. Terima kasih karena sudah berani jujur pada ku, aku sangat menghargai itu Luna." ucap Lucy tulus.


"Terima kasih banyak Lucy dan aku harap kita masih tetap berteman seperti biasanya." ungkap Luna penuh harap.


Lucy hanya menjawab dengan senyuman, bagaimana ia bisa berteman dengan saingan cintanya. Namun ia yakin Luna adalah wanita terpelajar dan sangat mengerti akan harga dirinya. Oleh karena itulah ia mencoba berbicara pada Lucy terlebih dahulu.

__ADS_1


__ADS_2