
"Baiklah, apa yang akan kita makan untuk siang ini?" tanya Andre memandang Lucy lembut.
"Aku ingin makan-makanan hangat." ucap Lucy.
"Baiklah, ayo kita berangkat dan makan sampai puas." ucap Andre tersenyum.
Mereka pergi meninggalkan parkiran kantor dan menuju sebuah restoran Jepang untuk menyantap semangkuk mie.
Setiba di restoran, Andre dan Lucy bergegas masuk ke dalam restoran dan memesan dua mangkuk mie.
Terlihat jelas di raut wajah Lucy kalau ini pertama kalinya ia mengunjungi restoran jepang dan ia kebingungan melihat dua batang kayu sebagai pengganti sendok makan.
"Apa kau baru pertama kali mengunjungi restoran seperti ini?" tanya Andre.
"Aku ingin makan, kenapa harus di buat susah." rengek Lucy.
"Baiklah, lihat aku akan mengajarimu cara memakai sumpit ini." ucap Andre lembut.
Andre mengajari Lucy menggunakan sumpit, walau awalnya susah namun lama-kelamaan Lucy mulai memahami dan terbiasa. Andre tersenyum melihat Lucy yang dengan cepat mengerti apa yang ia ajarkan.
"Kau anak pintar, makanlah selagi hangat. Kita akan sering-sering makan ke sini agar kau terbiasa mengenakan sumpit." ucap Andre mengusulkan.
"Apa di sini hanya menjual mie, kalau begitu aku akan membuatkan mu spageti setiap hari." ucap Lucy bersemangat.
"Banyak makanan Jepang yang enak, aku akan mengajak mu lain waktu. Sekarang makanlah ini terlebih dahulu, nanti dingin." ucap Andre lembut.
Lucy tersenyum kearah Andre yang menatapnya dengan penuh kasih, tak hanya tampan, Andre juga mampu membuatnya keluar dari kehidupan lama dan belajar hal-hal baru.
Setelah selesai, Andre dan Lucy kembali kekantor. Dengan sedikit hati-hati Lucy keluar dari mobil Andre, takut jika ada karyawan lain yang melihatnya turun dari mobil CEO perusahaan itu.
__ADS_1
"Berhenti memandangi sekeliling parkiran, tidak akan ada orang yang menggunjingkan mu jika kau turun bersama ku." ucap Andre santai.
"Bagaimana kamu tau tidak akan ada yang menggunjingkan kita saat mereka melihat ku keluar bersama pak Presdir perusahaan ini?" tanya Lucy penasaran.
"Jika mereka berani menceritakan ku di belakang, aku akan membuat mereka tidak masuk kerja lagi. Bahkan aku bisa saja memblokir nama mereka di setiap perusahaan lain." ucap Andre yakin.
"Ya, kamu adalah penguasa di sini tuan. Sedangkan aku hanyalah segelintir rakyat jelata yang sangat mudah untuk di jadikan bahan pembicaraan." ucap Lucy merendah.
Andre dengan cepat menarik wajah wanitanya itu mendekati wajahnya. Dengan mata yang terbelalak Lucy menatap Andre, terkejut dengan apa yang barusan terjadi. Mungkinkah ia sudah terlalu banyak bicara sehingga membuat Andre tersinggung dengan kata-katanya?.
"Tidak ada satu orang pun di dunia ini bisa membicarakan kejelekan wanita ku, aku akan membuat perhitungan kepada orang tersebut." ucap Andre dengan tatapan dingin.
Lucy terdiam kaku menatap Andre dengan raut kesalnya, seakan-akan ia bisa saja melahap tubuh Lucy yang mungil itu sekaligus.
"Baiklah-baiklah, kau yang benar akan segalanya tuan. Aku akan menuruti semua perintahmu." ucap Lucy mencoba menurunkan amarah Andre.
Andre tidak dengan mudah melepaskan wajah Lucy yang kini di hadapannya, walaupun Lucy sudah berusaha berbicara manis agar Andre memberikan ampunan namun amarahnya tetap saja tak terkontrol. Ia merasa seakan-akan Lucy sengaja menutupi hubungan mereka, seolah Andre sangat tidak pantas berada di sampingnya.
"Hey apa kau gila? Aku bisa saja kehabisan napas jika tidak mendorong mu barusan." ucap Lucy marah.
"Apa kau marah? Sepertinya aku harus mengulangi ciuman kita tadi dengan sedikit lebih baik." ucap Andre.
Mendengar hal itu Lucy merekahkan tsenyum lebar dengan keterpaksaan kearah Andre, ia tidak ingin jika Andre menciumnya lagi dan akan ada yang melihat mereka seperti itu di dalam mobil mungkin akan lain tanggapan orang nantinya.
"Ah aku baru ingat, pekerjaan ku belum selesai. Aku akan turun terlebih dahulu, aku harus cepat menyelesaikan pekerjaan ku." ucap Lucy memberikan alasan.
Lucy membuka pintu dan turun dari mobil, ia berlari kecil menjauhi mobil tanpa melihat ke Andre lagi.
"Hah.... Sepertinya kucing kecil ku yang jinak kini sudah menjadi sedikit liar. Aku harus bekerja keras agar ia menjadi jinak lagi." gumam Andre sambil tersenyum sinis.
__ADS_1
Lucy berlari memasuki kantor dan lift, jantungnya berdebar kencang akan ciuman yang ia dan Andre lakukan barusan.
"Dasar Andre bodoh, bagaimana jika ada yang melihat kita tadi? Kau benar-benar tidak berperasaan, aku baru saja memulai kehidupan yang baru di kantor. Jika ada yang melihat ku berduaan dengan Presdir dan melakukan hal itu, orang-orang akan berfikir aku adalah wanita murahan." batin Lucy.
Ia mencoba menenangkan diri sebisa mungkin agar tidak di curigai orang-orang. Lucy bergegas duduk di meja kerjanya dan menghidupkan komputernya, rekan kerjanya yang lain sepertinya belum tiba di kantor. Ia berusaha menyibukkan diri agar terlihat lebih natural sebagai anak baru yang tanpa embel-embel orang dalam.
"Lucy, kau tidak pergi makan siang?" tanya seorang wanita dari belakang yang ternyata adalah Rosy.
"Owh aku baru saja selesai makan siang, ku kira aku datang terlambat." ucap Lucy tersenyum manis.
"Kau sangat cepat kembali, bisa-bisa nanti kau akan cepat naik pangkat jika terlalu rajin." canda Rosy.
"Aku akan membiasakan diri mulai sekarang." ucap Lucy bersemangat.
Rosy tertawa mendengar ucapan Lucy, mereka melanjutkan pekerjaan mereka. Tiba-tiba ada seorang karyawan mendekati meja kerja mereka.
"Hey, aku dengar gosip baru hari ini. Kabarnya pak Presdir pergi makan siang dengan seorang wanita." ucap wanita itu.
"Oh Maya, kenapa kau selalu membawa gosip murahan ke kantor. Lagian itu juga bukan urusan mu." ucap Rosy sambil memutar bola matanya.
"Bagaimana ini tidak menjadi gosip yang heboh, selama ini Presdir kita nampak seperti lelaki dingin yang tidak akan bisa di luluhkan dengan wanita kecuali cinta pertamanya itu. Dan tiba-tiba ada yang melihat sosok seperti beliau sedang makan siang bersama gadis lain. Ini benar-benar berita heboh." ucap Maya bersemangat.
"Berhenti bergosip, kau akan memberikan citra buruk kepada teman baru kita." ucap Rosy mengabaikan Maya.
Maya melihat kearah Lucy yang belum ia lihat selama ini, ia melihat Lucy dengan tatapan tajam seolah-olah ingin mengintimidasi Lucy secara langsung.
"Owh, ternyata ini anak baru yang di ceritakan itu. Selamat bergabung di sini, aku harap kita dapat menjadi rekan kerja yang baik ok." ucap Maya sambil pergi meninggalkan mereka.
Lucy hanya tersenyum kecut melihat tingkah Maya yang seperti kurang menyukai dirinya itu.
__ADS_1
"Tidak usah kau pedulikan, dia wanita pembuat onar di sini. Kalau bukan karena kerja dan wawasannya yang bagus, ku rasa dia sudah di tendang dari perusahaan ini sebelum kau masuk." ucap Rosy menjelaskan.
Lucy hanya membalas perkataan Rosy dengan senyuman. Kini hatinya sedikit khawatir karena ada seseorang yang melihat dia dan Andre makan siang di luar tadi. Dan ia tidak dapat menutup rasa cemasnya itu.