
Lucy pulang dari gereja, berjalan pelan menyusuri senja. Pikirannya menerawang jauh, memikirkan apa yang di tanya oleh pendeta tadi kepada dirinya.
"Sudah berapa lama kalian saling mengenal, karena mencintai itu bukan hanya soal pengorbanan diri sendiri, tapi dia juga harus demikian kepada dirimu. Seberapa mantap hatimu memilih ia menjadi pasanganmu, dan begitu juga dirinya seberapa kuat dia memperjuangkanmu. jangan karena kau sangat mencintainya kau bahkan rela menghianati agamamu dan akhirnya meninggalkan ajaran mu. Sangat disayangkan jika suatu saat ternyata dia tidaklah sebaik yang kau kira, sedangkan kau sudah menghianati semuanya."
Ucapan pendeta tadi selalu terngiang-ngiang di benaknya, apakah harus bagi dirinya untuk mempertanyakan status hubungannya dengan Andre. Tapi ia takut jika Andre berpikir bahwa Lucy meragukan perasaannya selama ini.
"Hai, Lucy kau melamun?" sapa seorang wanita.
Lucy menoleh ke sumber suara sambil menyipitkan matanya untuk memfokuskan pandangannya. Ternyata yang memanggilnya adalah Carlo sahabatnya yang berusaha mengambil kekasihnya.
"Kau masih marah kepada ku? Ayolah, sejujurnya aku tidak ada niat untuk menggoda kekasih mu. Aku hanya membantu mu." ucap Carlo beralasan.
__ADS_1
"Membantu ku?" tanya Lucy heran.
"Ya, aku sengaja menggodanya agar aku dan kau dapat melihat bagaimana sosok asli dari Andre. Kau sendiri tau bukan, kalau setiap laki-laki yang ada di golongan atas kebanyakan sangat suka mempermainkan wanita. Aku hanya berusaha mencoba membantu mu." ucap Carlo.
Lucy hanya diam, ia sedikit tidak percaya dengan ucapan Carlo. Karena tidak mungkin Andre adalah sosok lelaki yang suka mempermainkan wanita seenaknya.
"Kau tau, lelaki dikalangan atas selalu memandang rendah wanita. Aku takut kau terlena dengan apa yang sudah di berikan oleh Andre selama ini dan salah langkah. Setelah kau tergila-gila dan bergantung dengannya, dia akan meninggalkan mu dan mencampakkan dirimu seperti sampah. Aku benar-benar tidak bisa menerima jika itu terjadi pada dirimu Lucy. Tolonglah percaya pada ku." ucap Carlo mencoba membujuk.
"Tapi aku yakin Andre tidak mungkin seperti itu, dia sangat menghormati ku dan menjaga ku. Dia seorang lelaki yang terhormat, tidak bisa di sama ratakan dengan pria-pria yang tidak baik." ucap Lucy membela Andre.
"Tapi kenapa kau tidak memberitahu ku terlebih dahulu? Kenapa kau melakukan ini semua tanpa sepengetahuan dan persetujuan ku? Aku bisa saja mengerti jika kau memberitahuku terlebih dahulu."ucap Lucy.
__ADS_1
"Aku tidak bisa mengatakannya kepadamu karena Andre selalu menempel di sisimu. Aku bahkan tidak bisa leluasa untuk berbicara denganmu semenjak kau menjalin hubungan dengan dia. Jadi kuputuskan untuk melakukannya sendiri, kupikir kau akan mengerti namun ternyata kita menjadi salah paham dan bertengkar. Hal itu membuatmu menjauhiku, orang yang berusaha membantumu." ucap Carlo menjelaskan.
Lucy terdiam mendengar ucapan Carlo, ia tidak bisa mempercayai ucapan Carlo sepenuhnya. Namun jika yang dikatakan oleh Carlo adalah kenyataannya, ia termasuk telah berburuk sangka kepada sahabatnya itu.
"Lucy aku benar-benar minta maaf, dan ku akui ku semua kesalahanku." ucap Carlo.
"Aku sudah memaafkanmu, hanya saja untuk saat ini aku masih belum bisa menerima apa yang telah kulakukan. Maafkan aku Carlo." ucap Lucy.
"Ah tidak apa setidaknya kau sudah memaafkanku, begitu saja sudah membuatku senang terima kasih." ucap Carlo.
"Baiklah kalau begitu aku pamit dulu." ucap Lucy berjalan meninggalkan Carlo.
__ADS_1
"Ya hati-hati di jalan." ucap Carlo sambil melambaikan tangan.
Lucy hanya tersenyum kearah Carlo dan membalas lambaian tangan sahabatnya itu, saya pun pergi berlalu meninggalkan Carlo yang masih berdiri di sana.