
Tok.... Tok.... Tok....
Andre mengetuk pintu apartemen milik Lucy, dan menunggu beberapa saat untuk di bukakan oleh Lucy.
Tak lama kemudian Lucy muncul di sebalik pintu dengan wajah cerianya.
"Hy... Kamu sudah sampai?" sapa Lucy.
"Iya, aku mampir membeli ini tadi." ucap Andre menunjukan kotak kue yang ada di tangannya.
Lucy mengajak Andre masuk dan mengambil kotak kue yang di bawa Andre tadi. Mereka duduk di meja makan, sedangkan Lucy mencari piring kecil untuk menyantap kue bawaan Andre.
"Apa tadi ada tamu?" tanya Andre tiba-tiba.
"Apa dia mempunyai Indra keenam? Bagaimana dia tau kalau barusan ada orang di sini?" Batin Lucy.
"Ya, aku bertemu teman ku saat membeli dekor untuk mempercantik ruangan itu. Kok kamu bisa tau?" tanya Lucy.
"Aku hanya menebak, karena ada gelas di meja itu." ucap Andre menunjuk ke arah ruang televisi.
"Owh... Aku lupa membereskannya. Aku pikir kamu mempunyai Indra ke enam atau memasang cctv di sini." ucap Lucy tersenyum malu.
"Aku tidak se-over itu, makanlah kuenya. Setelah itu aku akan menemani melewati malam natal." ucap Andre.
"Aku kira kau akan sibuk lagi, kamu tidak mengabari ku dua hari terakhir." ucap Lucy dengan raut kesal.
Andre melihat wajah Lucy yang kesal akan ketiada kabar dari Andre selama dua hari ini. Andre mengetahui kalau Lucy hampir setiap jam mengiriminya pesan, namun satupun tidak ada dia balas.
"Maaf, aku benar-benar sibuk kemarin. Tapi itu juga agar hari ini aku bisa menemani mu sampai akhir tahun. Aku benar-benar minta maaf." ucap Andre mencoba menjelaskan.
"Aku ada rencana akan merayakan natal di tempat Caren tadinya, tapi mendengar mu akan menemani ku malam ini aku akan membatalkannya." ucap Lucy senang.
"Merry Christmas Lucy." ucap Andre memberikan sebuah kotak kecil.
Lucy tersenyum dan menerima kado kecil dari Andre. Ia membukanya dan ternyata berisi sebuah kalung dengan liontin merah muda menghiasinya.
__ADS_1
"Ini pasti sangat mahal, kamu dapat memberi ku kado natal yang biasa saja." ucap Lucy takjub melihat kalung itu.
"Aku akan memakaikannya untuk mu." ucap Andre.
Lucy benar-benar merasa senang dengan yang telah di berikan oleh Andre kepadanya.
"Ahh, aku bahkan belum menyiapkan kado apa-apa untuknya. Aku bersyukur dapat melewati malam natal bersamanya, dan dia menerima semua kekurangan ku." batin Lucy.
Andre memasangkan kalung ke leher Lucy. Ia benar-benar tak menyangka akan menautkan hatinya keseorang gadis yang baru ia kenal.
"Ayo berangkat, aku takut kita terjebak macet nantinya." ucap Andre setelah memasangkan kalung.
"Kita akan pergi kemana memangnya? Kita bisa melewati malam natal di sini." ucap Lucy heran.
"Malam ini pasti sangat menyenangkan jika kita melewatinya di bawah menara Eiffel." ucap Andre.
"Apa kita akan kesana? Aku akan bersiap-siap secepatnya." ucap Lucy berlari menuju kamarnya.
Tak butuh waktu lama bagi Lucy mengganti pakaian dan berdandan. Karena dia memiliki paras yang sudah cantik, dia tidak perlu melakukan banyak polesan di wajah.
Andre tersenyum melihatnya, rasanya ingin sekali memeluk erat Lucy yang mungil dan ceria.
Mereka segera bergegas pergi untuk menghindari macet, karena malam ini pastilah akan sedikit ramai di jalanan. Benar saja, sesampai di sana orang sudah ramai. mereka mencari bangku taman yang masih kosong dan duduk di sana.
"Apa kau merasa kedinginan? Aku akan membelikan minuman hangat." ucap Andre melihat Lucy yang sepertinya kedinginan.
"Tidak perlu, aku tidak mau di tinggal sendirian di sini." ucap Lucy menarik lengan Andre.
"Baiklah, kalau begitu mari kita seperti ini." ucap Andre memeluk Lucy dari belakang.
Pelukan Andre cukup hangat dan membuat perasaan Lucy tenang. Setelah dua hari ia sama sekali tidak mengetahui kabar dari lelaki ini, ia bersyukur bahwa kini Andre bersamanya dan baik-baik saja.
Tepat pukul 0.00 lampu di menara Eiffel hidup menampakkan cahayanya yang indah dan diiringi kelap kelip yang cantik. Semua mata tertuju ke menara pada saat itu, kecuali Andre. Matanya terpana melihat kecantikan sosok yang ada di sampingnya saat ini.
Seorang gadis yang kuat untuk melawan kerasnya hidup dan memiliki senyuman ceria, walaupun tak jarang ia selalu di kecewakan dengan situasi yang sangat membuatnya terpuruk. Namun ia tetap bisa bangkit dan berusaha untuk pulih.
__ADS_1
"Hey, kenapa menatap ku seperti itu?" tanya Lucy heran.
Andre tidak menjawab pertanyaan Lucy, wajahnya mendekati wajah Lucy. Andre mencoba memberanikan diri untuk mencium wanita yang ada di hadapannya.
Lucy yang mengetahui situasi saat itu, merasakan jantungnya berdebar kencang. Namun entah mengapa ia merasa tidak mampu untuk menolak Andre.
Bibir mereka berpaut satu sama lain, Andre memeluk Lucy yang berusaha mengimbangi ciuman dari Andre. Ada sensasi tersendiri seolah-olah seluruh dunia ini milik mereka berdua.
Andre melepaskan ciumannya dan memeluk erat tubuh Lucy seakan-akan tidak akan pernah melepaskannya lagi.
"Hey, kenapa kau tidak bersuara? Apa kau pingsan setelah ku cium?" tanya Andre yang masih memeluk Lucy.
Lucy sama sekali tidak ingin melihat kearah Andre saat ini. Wajahnya terasa sangat panas dan memerah, di tambah jantungnya yang berdetak kencang. Membuatnya masih sedikit malu untuk berhadapan dengan Andre.
"Hey, ayolah. Kau akan mati kehabisan nafas jika terus-terusan melekatkan wajah di dekapan ku." ucap Andre tersenyum.
"Aku benar-benar malu saat ini, itu ciuman pertama ku." ucap Lucy di sebalik dekapan Andre.
"Apa kau marah aku merampasnya dari mu? Ternyata kau memang masih anak-anak." ucap Andre.
"Berhenti meledek ku..." gumam Lucy.
Andre tetap memeluk Lucy dan mencoba menenangkannya agar tidak perlu malu lagi untuk berhadapan dengannya.
"Aku akan selalu bersama mu, hari ini, esok dan seterusnya. Apa kau tidak akan bosan dengan kehadiran ku? Itulah mengapa kemarin aku tidak mengabari mu, aku takut kau bosan untuk bertemu dengan ku setiap saat." ucap Andre yang masih mendekap Lucy.
Lucy keluar dari dekapan Andre dan melihat wajah lelakinya itu. Ternyata Andre takut jika mereka sering bersama, itu akan membuat Lucy bosan dan pergi meninggalkannya.
"Apa cinta pertamanya dulu melakukan hal seperti itu kepadanya? Jadi dia membatasi pertemuan kami agar aku tidak meninggalkannya juga? Ahh.... bodohnya, aku bahkan ingin melihat mu setiap waktu." batin Lucy menatap Andre.
"Ada yang salah di wajah ku?" tanya Andre mengagetkan Lucy.
"Aku.... Aku ingin selalu melihat mu, ingin selalu dekat, bahkan ingin selalu mendengar suara mu jika saat kita jauh." ucap Lucy polos.
Andre tersenyum mendengar ucapan Lucy sekaligus permintaannya itu. Ia yakin Lucy adalah wanita yang berbeda dengan yang lainnya dan dapat membuatnya bahagia.
__ADS_1