S.H.E (Wanita Yang Kubeli)

S.H.E (Wanita Yang Kubeli)
#95


__ADS_3

Andre menunggu Lucy di depan pintu keluar apartemennya dengan wajah sedikit cemberut. Melihat akan hal itu Lucy pun berlari mendekati kekasihnya itu dan berdiri di sampingnya.


"Apa ibu menyusahkan mu lagi? Ku lihat kau berbicara dengan ibu sebelum keluar." tanya Andre.


"Tidak, aku hanya berpamitan dengan ibu mu saja." ucap Lucy.


"Kau tidak perlu memikirkan dan melakukan apa yang ia katakan, tidak perlu berusaha keras untuk membuktikan apapun kepadanya." ucap Andre sambil berjalan pelan.


"Aku harus berusaha keras agar bisa sepadan dengan kekasih ku yang sempurna ini." ucap Lucy.


"Aku tidak pernah meminta mu untuk jadi yang paling sempurna. Cukup aku, dan kau cukup hanya menjadi dirimu sendiri dan kekasih ku. Karena aku mencari sorang kekasih bukan mencari saingan di dalam hidup." ucap Andre.


Lucy hanya diam mendengar ucapan kekasihnya itu, bagaimana ia tidak akan memikirkan setiap ucapan ibu dari Andre tersebut jika kenyataannya Andre dan dia memang memiliki jarak yang cukup jauh untuk di sandingkan. Andre mengantarkan Lucy pulang dengan mobilnya, tak lama mereka tiba di apartemen Lucy.


"Kau harus langsung beristirahat, jangan menunda-nunda waktu istirahat mu ok." ucap Andre.


"Baiklah, kamu juga nanti setiba di rumah harus langsung istirahat ya. Besok kamu kan harus membawa keluarga mu jalan-jalan." ucap Lucy.


"Aku mengerti, besok pagi hari aku akan menjemputmu." ucap Andre.


"Kenapa menjemput ku?" tanya Lucy heran.


"Aku akan membawamu ikut bersamaku besok." ucap Andre.


"Tapi besok aku harus berangkat bekerja, apa kamu lupa aku hanya meminta cuti 1 hari kepada nona Luna." ucap Lucy.


"Aku bisa memberikanmu cuti sebanyak yang kamu mau, dan aku pastikan gajimu akan dibayar penuh bulan ini tanpa ada potongan sedikitpun." ucap Andre.


"Jangan seperti itu itu tidak baik, kamu tidak bisa membawa urusan pribadi ke kantor. Bagaimana jadinya jika semua karyawan tahu? Mereka pasti akan merendahkanmu dan menganggapmu sebagai atasan yang tidak adil kepada karyawannya." cegah Lucy.

__ADS_1


"Aku akan meminta mereka untuk pergi dari perusahaan ku dan mencari pekerjaan lain jika mereka melakukan hal seperti itu." ucap Andre santai.


"Tidak, kamu harus menghargai setiap pekerjaan karyawanmu. Karena jernih payah mereka kamu memiliki perusahaan yang besar saat ini." ucap Lucy.


Andre hanya diam mendengar ucapan kekasihnya itu, tidak hanya cantik Lucy memang memiliki hati yang baik ia bahkan berbaik sangka kepada orang-orang yang yang belum ia kenal bahkan ia lihat sekalipun.


"Tenanglah, aku akan selalu mengirim pesan dan mengabarimu setiap saat."ucap Lucy.


"Baiklah aku akan mendengarkan perkataanmu. Tapi jika kau tidak mengirimiku pesan sama sekali, aku akan mendatangimu di kantor." ucap Andre mengancam.


Lucy hanya mengangkut tersenyum sambil memandang wajah Andre. Ia yakin besok ibunya Andre akan berusaha mendekatkan Andre dengan Ratih, walaupun hal itu membuatnya sedikit kesal namun di sisi lain ia juga tidak ingin dicap sebagai parasit yang selalu mengikuti inangnya.


"Baiklah kalau begitu aku akan turun dan masuk ke dalam. kamu hati-hati pulangnya dan segeralah beristirahat." ucap Lucy.


"Apa kau melupakan sesuatu?" tanya Andre.


"Kau belum menciumku hari ini, bisakah aku minta itu sekarang?" tanya Andre.


"kamu.... Benar-benar ya." ucap Lucy tersipu malu.


Lucy mencium pipi Andre dengan mesra dan tersenyum kearahnya. Ia memaklumi sikap Andre saat ini karena hampir satu harian ini ia selalu berdebat dengan ibunya yang baru datang.


"Baiklah, aku masuk ya." ucap Lucy.


"Ya, aku juga aku langsung pulang kalau begitu." ucap Andre.


Lucy keluar dari dalam mobil dan pergi meninggalkan Andre yang masih melihatnya untuk memastikan bahwa wanitanya benar-benar masuk ke dalam apartemen dan aman. Setelah memastikan Lucy masuk ke dalam apartemen Andre pergi meninggalkannya dan berjalan pulang.


Tiba di rumah Andre langsung di sambut oleh ibunya di ruang keluarga. Melihat ibunya yang belum amsuk ke dalam kamar dan seperti sengaja menunggunya untuk berbicara, Andre duduk di samping ibunya.

__ADS_1


"Ada yang ingin ibu bahas dengan ku?" tanya Andre.


"Kau pasti sudah tau hal itu bukan? Bagaimana bisa kau memilih gadis yang berbeda keyakinan dengan mu?" tanya ibu Andre.


"Ya, aku sudah mengetahuinya sejak pertama bertemu. Dia membantu ku melupakan Tiara Bu, dan aku tidak mempermasalahkan keyakinan yang dia anut." ucap Andre.


"Andre dengar, menjalin hubungan itu bila awalnya saja sudah ada perbedaan bagaimana bisa kau ketahap yang jauh lebih serius. Apa jangan-jangan kau berniat untuk ikut dengannya menganut keyakinan yang sama dengan gadis itu?" tanya ibu Andre .


"Tidak, aku tidak berniat untuk meninggalkan ajaran kita Bu." ucap Andre.


"Lantas? Apa kau yang akan meminta dia untuk ikut masuk ke ajaran kita? Aku yakin dia tidak akan menyetujuinya, dan jikapun hal itu ia lakukan bagaimana bisa kau dapat mempercayainya? Dia bahkan bisa mengkhianati Tuhannya demi seorang manusia." ucap ibu Andre menjelaskan.


"Jika memang dia mau ikut ke ajaran kita menurutku itu bukanlah suatu pengkhianatan Bu, tapi suatu permulaan yang baik. Berarti dia menemukan hidayahnya." ucap Andre mencoba membela Lucy.


"Tetap saja Andre, bagaimana jika dia mau melakukan itu hanya karena kau seorang lelaki yang kaya raya dan sukses? Bagaimana jika dia melakukan itu semua bukan dari dalam lubuk hatinya?" tanya ibu Andre lagi.


"Jika memang seperti itu, itu adalah urusan dia dengan Tuhan Bu, dan kita sebagai manusia tidak bisa menghakimi seseorang hanya karena dia meninggalkan ajarannya demi ajaran lain. Tugasku hanya membimbingnya dan membantunya menemukan titik terang untuk perjalanan hidupnya." ucap Andre tegas.


"Aku benar-benar tidak habis pikir dengan mu, aku sudah membawakan mu seorang gadis yang baik dari segi penampilan, karir dan juga agama. Tapi apa? Kau lebih memilih gadis asing itu dan berani berdebat dengan ku demi dia." ucap ibu Andre kesal.


"Bu, cobalah untuk melihat dari sisi lainnya. Lucy juga memiliki sikap dan sifat yang baik, setidaknya ibu lihat pengorbanan dia hari ini untuk membantu ku dan ibu di dapur tadi. Lagi pula jika aku menikah dengan Ratih, itu malah akan menjadi pernikahan yang kosong." ucap Andre.


"Bagaimana bisa kau mengatakan hal seperti itu?" tanya ibu Andre.


"Ya tentu saja, ibu bisa bayangkan jika aku menikah dengan Ratih nanti bagaimana akan jadinya. Dia akan sibuk dengan pekerjaannya dan aku juga akan sibuk dengan pekerjaan ku, terlebih lagi dia akan tinggal di Indonesia sedangkan aku berada di Paris. Jika memang seperti itu nantinya, bagaimana kami bisa di sebut suami istri?" tanya Andre balik.


"Ya kamu bisa pindah bekerja di Indonesia, atau kamu bisa meminta Ratih untuk berhenti dari pekerjaannya dan ikut bersamamu di sini." ucap ibu Andre.


"Tidak semudah itu Bu, aku yakin dia tidak akan mau meninggalkan pekerjaan yang sudah susah payah ia bangun. Begitu juga dengan ku, aku tidak bisa meninggalkan perusahaan di sini begitu saja." ucap Andre.

__ADS_1


__ADS_2