S.H.E (Wanita Yang Kubeli)

S.H.E (Wanita Yang Kubeli)
#121


__ADS_3

Sepulang kerja Carlo segera menghubungi Boris, iya ingin memastikan jika kabar Lucy berangkat bersama Andre itu benar atau tidak. Ia telah tiba di apartemennya dan menekan nomor ponsel Boris, tak lama ia menunggu Boris mengangkat panggilan darinya.


"Hai sayang, apa kau merindukan ku?" tanya Boris sedikit mabuk.


"Kau minum-minum? Bagaimana kau bisa melakukan itu? Apa kau lupa dengan tujuan kita untuk menjadikan lucu sebagai sumber uang?" tanya Carlo panjang lebar.


"Bagaimana aku bisa lupa dengan itu, tenanglah dia saat ini sedang sibuk dengan pacarnya yang kaya-raya itu. Jadi aku minum sedikit untuk melampiaskan rinduku." ucap Boris beralasan.


"Apa kau yakin anak mu dengan Andre sedang sibuk berpacaran? Aku baru saja mendapat kabar dari Luna jika ia dan Andre pergi ke desa untuk menemui neneknya." ucap Carlo kesal.


"Benarkah? Apa yang mereka lakukan di sana?" tanya Boris terperangah.


"Kabarnya mereka meminta restu kepada nenek Lucy, mereka akan melangsungkan pernikahan. Apa kau benar-benar sudah berbaikan dengan Lucy? Bagaimana bisa ia lebih meminta restu kepada nenek nya di bandingkan dengan mu yang seorang ayah kandungnya?" tanya Carlo geram.


"Tenanglah aku akan mencoba menemui Lucy nanti dan mencari informasi tentang dirinya. Kau tidak usah panik." ucap Boris.


"Bagaimana aku tidak panik, jika anak mu itu lebih memihak neneknya di bandingkan dirimu, kau tidak akan mendapatkan apa-apa. Yang ada orang tua di pedesaan itu yang akan hidup enak nantinya." ucap Carlo kesal.


"Ah kau benar, aku harus segera menemui Lucy dan berbicara dengannya." ucap Boris yang mulai sedikit panik.


"Kau harus menyusulnya ke desa, dia meminta cuti khusus dari perusahaan jadi tidak tau kapan akan kembali." ucap Carlo.


"Kenapa aku harus ke desa? Aku takut mereka akan mencurigai aku, nanti mereka berpikir aku selalu mengikuti mereka." ucap Boris.


"Yang kau temui kan adalah neneknya Lucy yang tak lain adalah ibu mu, kau tidak butuh alasan khusus untuk menemuinya." ucap Carlo.


"Kau benar, aku akan berangkat ke sana secepatnya." ucap Boris sambil mematikan ponselnya.


Carlo menggenggam erat ponselnya, ia benar-benar tidak mengerti bagaimana Andre berniat serius kepada wanita dari kalangan rakyat biasa dan terlebih lagi berbeda ajaran dan keyakinan dengannya.


_______________________


"Hei mau sampai kapan kau tidur?" tanya Andre membangunkan Lucy yang masih tertidur pulas.

__ADS_1


Lucy membuka matanya, dengan kesadaran yang belum seutuhnya pulih ia melihat pemandangan di depan matanya. Cukup lama bagi Lucy untuk sadar dan mengingat pemandangan dihadapannya itu.


"Kau bisa melihat itu sampai besok jika kau mau. Aku akan menunggu." ucap Andre.


"Ah tidak, kita sudah sampai di sini sejak kapan?" tanya Lucy penasaran.


"Kita sudah ada di sini sejak tiga jam yang lalu." ucap Andre santai.


"B-benarkah? Kenapa kamu baru membangunkan ku sekarang?" tanya Lucy terperanjat.


"Aku melihat mu tidur cukup pulas, jadi sengaja tidak membangunkan mu." ucap Andre.


"Aku tidak yakin, mana ponsel ku. Jika benar kita sudah sampai di sini tiga jam yang lalu berarti sudah tujuh jam perjalanan di lalui. Dan kita tadi berangkat jam sembilan pagi, jadi seharusnya saat ini jam...." ucap Lucy terputus sambil melihat jam di ponselnya.


Ternyata Andre menggarainya lagi, mereka baru saja tiba di tempat itu dan Andre berbohong jika mereka sudah tiba tiga jam yang lalu.


"Kamu bohongin aku lagi?" teriak Lucy.


"Ampun.... Ampun nyonya, maafkan saya." ucap Andre tertawa terbahak-bahak.


"Tidak, aku tidak akan memaafkan mu." ucap Lucy kesal.


"Aku benar-benar minta maaf, baiklah-baiklah aku tidak akan mengulanginya lagi." ucap Andre memohon.


"Tidak, aku tidak percaya itu." ucap Lucy sambil mencubit pinggang Andre.


Tiba-tiba Andre berteriak kesakitan dan itu membuat Lucy menghentikan pukulan dan cubitannya di tubuh Andre. Kini wajah Lucy berubah menjadi panik melihat Andre meringis kesakitan.


"Aauuu..." teriak Andre.


"Kenapa? Apa kamu baik-baik saja? Aku bahkan tidak memukul dan mencubit mu dengan keras." tanya Lucy panik.


"Aauuu...." ucap Andre memelas.

__ADS_1


"Bagian mana yang sakit, sini aku lihat." ucap Lucy semakin panik.


Andre tidak menjawab pertanyaan Lucy, dia hanya meringis kesakitan sambil memegang perutnya.


"Kamu tunggu di sini, aku akan mencari bantuan." ucap Lucy akan membuka pintu mobil.


"Tidak." ucap Andre menahan Lucy.


"Bagaimana tidak. Kau kesakitan." ucap Lucy panik.


"Karena sebenarnya aku baik-baik saja." ucap Andre sambil tersenyum lebar.


Lucy membelalakkan matanya kepada Andre, bisa-bisanya dia menipu Lucy lagi. Dengan cepat Lucy akan beraksi lagi namun tangannya di hentikan oleh Andre.


"Tunggu-tunggu, aku baik-baik saja kenapa kau marah?" tanya Andre.


"Kamu menipu ku lagi bagaimana aku tidak akan marah?" tanya Lucy balik.


"Aku tidak menipu mu, aku tidak ada maslah dengan pukulan mu. Tapi aku bermasalah dengan lambung ku." ucap Andre serius.


"Ada apa? Kamu tidak pernah bercerita jika punya sakit lambung." ucap Lucy menarik tangannya.


"Aku memang tidak punya kesalahan dalam lambung, hanya saja jika tidak segera di isi mungkin akan terjadi kesalahan besar nantinya." ucap Andre menjelaskan.


"Ah, aku lupa ini sudah siang dan sudah lewat jam makan siang." ucap Lucy.


"Maka dari itu aku membangunkan mu, karena aku tidak tahu kemana jalan selanjutnya." ucap Andre.


"Baiklah, ayo kita berangkat. Ini sudah dekat dengan rumah nenek, aku yakin nenek sudah memasak makan siang." ucap Lucy bersemangat.


"Baiklah, duduk yang benar dan jangan tertidur lagi." ucap Andre.


Lucy hanya menatap tajam kearah Andre, namun Andre berpura-pura tidak melihatnya dan melanjutkan perjalanan sesuai dengan yang di katakan oleh Lucy.

__ADS_1


__ADS_2