S.H.E (Wanita Yang Kubeli)

S.H.E (Wanita Yang Kubeli)
#39


__ADS_3

Saat makan siang Lucy lebih banyak diam dengan wajah tertunduk. Nafsu makannya sedikit berkurang karena memikirkan ucapan sahabatnya tadi. Ia benar-benar tidak tau bagaimana cara menghadapi ayahnya dan Lucy juga merasa kurang enak untuk meminta pertolongan Andre lagi. Ini akan membuat Andre susah, ia harus menyelesaikan masalah keluarganya tanpa campur tangan orang lain.


"Hey, apa kau tidak lapar? Dari tadi hanya melihat makanan itu sambil mengaduknya. Apa kau tidak menyukainya? Ada masalah apa?" tanya Andre bertubi-tubi.


Lucy menghela nafas panjang dan menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi restoran. Ia meletakan sendok dan mengambil minumannya.


"Aku, sedikit ada masalah. Tapi aku pasti bisa mengatasinya." ucap Lucy kembali mengambil sendok dan menyuap makanannya.


"Apa masalah yang serius? Kau mau aku membantu mu?" tanya Andre penasaran.


"Owh, tidak.... Tidak perlu, aku akan mengatasinya sendiri. Aku juga tidak ingin selalu bergantung pada mu." ucap Lucy tersenyum manis.


"Aku suka kau bergantung kepada ku, itu lebih menyenangkan di banding kau bisa mengatasi segala hal. Ingatlah aku adalah pacar mu, dan aku yang akan selalu menjaga mu." ucap Andre serius.


"Baiklah, aku akan meminta bantuan mu nanti jika aku tidak dapat mengatasinya. Aku berjanji." ucap Lucy meyakinkan.


"Baiklah...." ucap Andre tersenyum.


Andre menggenggam tangan kekasihnya itu dengan lembut. Ia yakin kini Lucy sedikit jauh lebih dewasa, walau pun ia ingin menolong kekasihnya itu melewati masalah, tapi ia yakin kekasihnya itu mampu melewati semua.


_____________________


Sepulang kerja, Lucy sengaja tidak langsung pulang. Ia mampir ke beberapa toko untuk membeli roti dan makanan ringan. Setelah selesai, ia pulang menggunakan angkutan umum. Lucy tiba di depan apartemennya dan melangkah masuk dengan sedikit ragu, namun mau bagaimana pun ia harus menyelesaikan masalahnya dengan ayahnya itu.


Benar saja, saat berjalan masuk ke lobi apartemen ada seorang lelaki paruh baya duduk menunggu di sana dengan tatapan bengis. Lucy jalan mendekati lelaki itu yang tak lain adalah ayahnya.


"Kenapa kau lama kali pulang dari kantor? Apa kau sengaja memperlambat langkah mu agar aku tidak dapat menemui mu?" tanya pria tua itu dengan membentak Lucy.

__ADS_1


"Ayah, sedang apa di sini? Kenapa ayah tau aku ada di sini?" tanya Lucy berpura-pura tidak tau.


"Kau kira aku bodoh, pasti teman mu itu sudah memberi tau kalau aku sudah menanyakan keberadaan mu padanya bukan? Cih... Dasar anak tidak tau di untung." bentaknya lagi.


Melihat tempramen ayahnya yang kasar, Lucy berencana membawanya ke dalam apartemennya saja. Selain malu di lihat oleh orang-orang ia tidak ingin membuat kegaduhan di sana.


"Ayah, ayo masuk ke rumah ku saja." ajak Lucy menggandeng tangan ayahnya.


"Kenapa? Apa kau malu untuk mengakui ku sebagai ayah mu?" tanya pria itu.


"Bukan... Aku akan membuatkan ayah makan dan minuman. Lagi pula di sini sedikit dingin." ucap Lucy membujuk.


Merekapun meninggalkan lobi dan menuju tempat Lucy tinggal. Ia berjalan dengan sedikit tergesa-gesa karena takut ayahnya membuat keributan lagi. Lucy membuka pintu dan mempersilahkan ayahnya duduk di sofa, sedangkan dirinya meletakan belanjaan di meja makan.


"Ayah, aku akan masakan sesuatu untuk ayah. Ayah tunggu lah di sini dulu." ucap Lucy lembut.


"Sepertinya kau menikmati hidup mu sekarang, kau tinggal di tempat yang mewah seperti ini dan makan dengan layak." ucap ayahnya.


"Itu.... Hanya fasilitas kantor saja, jika kontrak ku habis aku harus mengembalikan ini semua ke perusahaan." ucap Lucy hati-hati.


"Apa kau mencoba membohongi ku? Jelas kau sudah berpacaran dengan orang kaya yang menembus mu itu dan bekerja di perusahaannya. Bagaimana mungkin kau akan kehilangan pekerjaan." ucap ayah Lucy.


"Tapi ayah, aku juga mempunyai perjanjian dengan dia. Ini semua tidak di berikan secara cuma-cuma." ucap Lucy mencoba meyakinkan.


Lucy meletakan sup yang iya buat dan minuman hangat di meja makan. ia juga sudah memotong beberapa roti untuk di makan bersama sup hangat.


"Ayah ayo makan supnya, ini akan dingin jika tidak di makan segera." ucap Lucy duduk di hadapan ayahnya itu.

__ADS_1


Mereka menikmati makan dengan keheningan seperti biasa mereka lakukan dulu. Tidak ada keceriaan di meja makan seperti keluarga lainnya.


"Ahh.... Aku sudah kenyang. Berikan aku sedikit uang, aku mau keluar." ucap ayah Lucy mengulurkan tangan.


"Ayah, aku belum menerima gaji ku jadi belum punya uang." ucap Lucy pelan.


"Heh apa aku bodoh, jika kau tidak mempunyai uang, dari mana kau bisa membeli makanan ini? Cepat berikan aku uang, aku sudah tidak betah di sini." ucap ayahnya membentak.


Lucy mengeluarkan beberapa uang di dompetnya dan memberikan kepada ayahnya.


"Hah.... Kau bekerja dan mempunyai pacar seorang CEO tapi kau hanya memberi ku uang 15 euro?" bentaknya sambil memikul meja.


"Ayah, aku benar-benar tidak punya uang." ucap Lucy memelas.


"Aku tidak percaya, mematikan dompet mu." ucap ayahnya menarik paksa dompet Lucy.


"Ayah jangan, aku mengatakan yang sejujurnya." ucap Lucy menahan dompetnya.


Namun kekuatan Lucy tidaklah cukup kuat untuk menahan dompetnya di genggamannya. Ayahnya langsung memeriksa isi dompet anaknya itu dengan buas. Namun ia tidak menemukan apa-apa selain struk belanja dan kartu bus.


"Aaaahhh..... Kau benar-benar wanita bodoh, bagaimana mungkin kau sudah memiliki seorang pendukung di samping mu namun uang pun kau tidak punya. Aku akan kembali besok, aku tidak mau tau kau harus menyiapkan uang untuk ku. Jika tidak aku akan membuat keributan di kediaman mu ini." ancam ayah Lucy sambil berjalan keluar.


Lucy terdiam mendengar ayahnya itu. Ia benar-benar merasa tidak dapat lari dari cengkraman ayahnya itu. Terlebih lagi ayahnya yang sangat menyukai judi, ini akan membuatnya dalam kesulitan. Untunglah ayahnya tidak menemukan kartu kredit yang Andre berikan kepadanya dulu. Jika tidak pasti kartu itu sudah berpindah tangan dan ia akan sulit untuk menjelaskan semuanya ke Andre.


"Ahhh, bagaimana kalau besok ayah datang lagi ke sini dan meminta uang? Aku benar-benar tidak akan bisa keluar dari cengkraman ayah. Apa aku harus memberi tau Andre tentang hal ini?" gumam Lucy ragu.


Lucy mencoba memikirkan masalah yang ada di hadapannya kini. Sepertinya ia harus menceritakan semuanya ke Andre sebelum ayahnya membuat kekacauan dan keributan di apartemen tempat Lucy tinggal.

__ADS_1


__ADS_2