
Lucy termenung menatap layar laptopnya, semua pikirannya kini bukan berada pada pekerjaan yang ada di hadapannya melainkan kata-kata yang di ucapkan oleh Luna tadi saat makan siang. Dia tidak pernah berfikir jika selama ini hubungannya dengan Andre membuat seseorang patah hati.
Andre memperhatikan Lucy yang hanya melamun tanpa mengerjakan apa-apa di depan laptopnya. Tidak seperti biasanya Lucy bersikap seperti itu, wanita yang selalu ceria itu kini tampak sedikit murung. Andre pun datang mendekati Lucy yang masih di buai dalam lamunannya.
"Hey, apa ada sesuatu yang menganggu pikiran mu?" tanya Andre tiba-tiba.
Lucy mendengar suara Andre yang kini ada di sampingnya tersentak dan tersadar dari lamunannya.
"Owh, sorry aku sedang tidak konsentrasi barusan. Ada apa?" tanya Lucy serius.
"Tidak ada, apa yang membuat mu kehilangan konsentrasi mu?" tanya Andre balik.
"Hmm, kau tau aku sedang memikirkan sesuatu barusan, aku berfikir bagaimana jika ada seseorang wanita lain yang juga menyukai mu? Apa kau akan menerimanya?" tanya Lucy penasaran.
"Kenapa tiba-tiba kamu bertanya seperti itu? Apa ada seseorang yang mengancam mu saat pergi makan siang dengan Luna tadi?" tanya Andre.
"Tidak ada, aku hanya bertanya saja." ungkap Lucy singkat.
Andre diam mendengar ucapan Lucy, tidak mungkin Lucy akan bertanya seperti itu bila tak ada yang mengusiknya terlebih dulu.
"Lucy dengar, aku tidak pernah menjalin hubungan selama ini dengan siapa pun. Wanita yang sangat aku kagumi dan aku harap menjadi masa depan ku ternyata adalah jodoh orang lain. Awalnya aku terpuruk akan hal itu, aku bahkan melakukan kesalahan demi mendapatkannya. Aku membohonginya dan menyiasati pikirannya, namun setelah aku tau ternyata aku membuatnya menderita dan terpuruk aku menyadari itu dan berfikir kalau itu salah. Jadi Lucy, jika pun suatu saat kamu menemukan orang yang tepat dan membuatmu nyaman kau tidak perlu memaksakan diri untuk bertahan dengan ku." jelas Andre.
Lucy terperangah mendengar ucapan Andre, bagaimana mungkin ia akan meninggalkan Andre yang kini bersarang di dalam lubuk hatinya.
__ADS_1
"Aku tidak berniat untuk meninggalkan mu, walaupun kau menyuruh ku untuk pergi." ucap Lucy sambil menggelengkan kepalanya.
"Begitupun dengan ku Lucy, aku sangat bersyukur kamu hadir dan membantu ku bangkit dari keterpurukan ku itu. Jadi, jangan berfikir hal-hal yang bodoh ok." nasehat Andre.
"Aku hanya penasaran, makanya aku bertanya seperti itu. Aku sama sekali tidak ada maksud lain, benar-benar hanya penasaran." ujar Lucy.
"Saat ini aku hanya dapat memandang mu, dan itu kenyataannya. Kau adalah kekasih ku dan aku mencintai mu." ucap Andre memastikan.
Lucy tersenyum mendengar ucapan dari Andre, ia benar-benar yakin jika Andre mencintainya dan tidak mudah untuk berpaling pada yang lain. Lucy merasa lega akan penjelasan dari Andre.
Di sisi lain, Luna yang mengerjakan pekerjaannya sedikit merasa lega karena sudah mengungkapkan isi hatinya kepada Lucy. Kini ia lebih fokus dan menjalani pekerjaan seperti biasa, ia merasa segala yang mengganjal dalam fikiran ya sedikit berkurang. Entah apa yang akan di katakan Lucy kepada Andre, Luna tidak memikirkan akan hal itu. Ia hanya berfikir bagaimana cara mencari perhatian Andre dan membuat Andre mempunyai rasa kepadanya. Karena Lucy juga sudah mempersilahkannya untuk bersaing secara adil memperebutkan hati Andre.
"Selamat siang pak Andre, setengah jam lagi meeting dengan perusahaan AK akan di mulai. Saya harap bapak bersiap-siap." ucap Luna menelepon Andre.
"Baiklah, terima kasih Luna." ucap Andre.
"Aku akan pergi meeting sebentar, kau tidak apa-apa kan di sini?" tanya Andre memastikan.
"Apa kamu pikir aku ini adalah anak kecil yang takut di ruangan seperti ini sendirian? Anda terlalu meremehkan ku bung." ejek Lucy sambil menarik tangan Andre dari pipinya.
Andre tertawa mendengar ucapan kekasihnya itu dan berjalan meninggalkan Lucy yang kini matanya kembali menatap layar laptopnya. Namun tiba-tiba Andre kembali mendekati Lucy dengan sedikit berlari, ia pun mendaratkan sebuah kecupan di pipi Lucy membuat wanita itu tersentak kaget.
"Apa yang kau lakukan." teriak Lucy dengan pipi merona.
__ADS_1
"Aku butuh mood booster untuk menghadapi meeting ini." ujar Andre tertawa sambil berlari meninggalkan Lucy yang masih terkejut.
Lucy memegang pipinya shio tertawa melihat tingkah laku kekanakan Andre. Ia benar-benar merasa heran, entah sejak kapan kekasihnya itu mulai bersikap seperti itu.
"Dasar, mentang-mentang ini adalah perusahaannya dia bertindak seenaknya pada karyawan seperti ku." gumam Lucy sambil tersenyum.
Lucy keluar dari ruangan kantor Andre, tiba-tiba perutnya terasa sakit dan menunjukan tanda mengharuskan ia ke toilet. Lucy pun berjalan menuju toilet untuk menyelesaikan panggilan alamnya itu. Tak lama ia di dalam toilet, ada karyawan lain yang masuk ke dalam toilet itu juga. Mungkin sekedar untuk mencuci tangan atau merapikan make up mereka.
"Hei apa kau lihat bagaimana pak Andre memperlakukan Luna saat menuju ruang meeting tadi?" tanya karyawan 1.
"Iya aku melihatnya, jelas semua orang di perusahaan ini tau jika Luna itu tertarik pada pak Andre dan selalu ada di sampingnya. Begitu pula pak Andre, selalu memperhatikan Luna." ujar karyawan 2.
"Iya, tapi aku heran di sisi lain kan sekarang pak Andre sudah mempunyai kekasih namun ia masih tetap dekat dengan Luna." ucap karyawan 1.
"Aku juga heran, secara kekasih pak Andre kabarnya bukanlah wanita yang berpendidikan seperti Luna. Di bandingkan Luna yang seorang anak konglomerat dan keluarga terpandang, kekasih pak Andre kabarnya dari keluarga yang broken home dan dia sempat di jual oleh ayahnya di sebuah klub malam." ucap karyawan 2.
"Iya, aku juga dengar akan gosip itu. Dan kabarnya pak Andre yang menebus kekasihnya itu di klub malam demi membebaskan wanita itu. Aku yakin pak Andre sebenarnya hanya kasihan terhadap wanita itu."
"Mungkin juga begitu, bagaimana mungkin pak Andre yang berpendidikan, tampan dan sangat sopan memilih wanita dari sebuah klub malam. Terlebih laki ayah dari wanita itu berperilaku buruk."
"Aku yakin dia sudah menggunakan trik murahan untuk menjebak pak Andre."
"Mungkin saja."
__ADS_1
Tak lama kemudian suara dua orang karyawan itu pun menghilang dari toilet, mungkin sudah keluar dari sana. Lucy yang mendengar percakapan antar karyawan itu kembali merasakan frustasi. Tiba-tiba bulir-bulir bening mengalir di pipinya, ia sangat tidak menyangka jika citranya sebegitu buruknya di mata karyawan lain.
Memang, jika di bandingkan dengan Luna ia bukanlah siapa-siapa. Terlebih lagi ayahnya yang sudah berperilaku buruk membuatnya semakin di kritik buruk oleh orang lain.