
Lucy, Andre dan Carlo menikmati makan malam mereka di sebuah restoran mewah tempat Andre dan Lucy biasa makan. Kemesraan mereka berdua terpancar jelas sehingga membuat Carlo yang berada di depan mereka merasa iri dengan apa yang di lihatnya dan mencoba fokus pada makanannya.
"Ahh, aku sudah kenyang." ucap Lucy sambil menyeringai dan menggosok perutnya.
"Bagaimana tidak, kau memakan semua cake di tambah dengan ini semua. Sangat keterlaluan jika kau tidak merasa kenyang." ucap Andre mengejek.
"Aku harus banyak makan, energi ku terkuras habis di kantor tadi. Terlebih lagi aku hanya mengerjakan semuanya sendirian, aku benar-benar frustasi." ucap Lucy.
Carlo hanya diam mendengar cerita yang keluar dri mulut Andre dan Lucy, mau bagaimanapun dia tetaplah orang asing yang berada di antara mereka.
"Aku benar-benar berterimakasih dengan makan malam hari ini." ucap Carlo memandang Andre.
"Aku senang kau ikut makan malam bersama kami, aku yakin kau menyukai makanannya bukan?" tanya Lucy.
"Ya aku benar-benar menyukainya, terimakasih." ucap Carlo.
"Baiklah jika begitu ayo kita pulang, aku masih harus mengecek beberapa dokumen penting." ucap Andre.
"Hah.... Secepat ini?" tanya Lucy.
"Jadi, kau masih ingin bermain-main dengan sahabatmu ini?" tanya Andre balik.
"Kita harus mengantar Carlo pulang dulu kalau begitu." usul Lucy.
Andre diam sambil menatap heran pacarnya itu, ia benar-benar tak habis pikir dengan jalan pikiran kekasihnya itu. Kenapa ada wanita yang terlahir begitu polos dan tulus seperti Lucy.
"Ah tidak usah mengantar ku, aku bisa pulang sendiri." ucap Carlo sambil melirik Andre.
"Tidak apa, kami juga mau sekalian pulang. Apa salahnya jika kita pulang bersama." ucap Lucy
"Jangan memaksa sahabatmu jika dia tidak mau. Mungkin dia ada urusan penting dan belum mau langsung pulang." ucap Andre.
"Tapi...." ucapan Lucy terputus.
__ADS_1
"Ayolah, sudah ku katakan aku harus mengecek pekerjaan ku hari ini." ucap Andre memegang tangan Lucy dan menariknya berdiri.
Carlo terdiam mendengar ucapan Andre, tak di sangka Andre enggan mengantarnya pulang padahal dia hanya basa-basi untuk menolak tawaran dari Lucy tadi.
"Baiklah kalau begitu, Carlo maaf ya kami tidak bisa mengantar mu pulang. Dia benar-benar sangat berambisi dalam pekerjaan jadi hidupnya terasa tidak tentram jika pekerjaannya belum selesai." ucap Lucy sambil memegang kedua tangan Carlo.
Andre berjalan terlebih dahulu meninggalkan Carlo dan Lucy yang masih berbicara di dalam restoran. Andre masuk ke dalam mobil duluan sambil menghidupkan mobilnya, tak lama Lucy dan Carlo keluar dari restoran dan saling melambaikan tangan untuk berpisah. Lucy berjalan menuju mobil dan masuk kedalam sambil menatap Andre kecut.
"Ada apa? Kenapa kau menatap ku seperti itu?" tanya Andre heran.
"Aku yang harusnya bertanya kenapa kamu melakukan seperti itu? Kamu jelas-jelas secara terang-terangan menolak untuk mengantar Carlo pulang." ucap Lucy cemberut.
"Aku benar-benar harus mengurus dokumen-dokumen ku." ucap Andre singkat.
Lucy hanya diam mendengar ucapan Andre dia tidak ingin bertengkar dengan Andre lagi karena mereka baru saja berbaikan. Terlebih lagi dia ingin meminta tolong pada Andre untuk memberikan Carlo pekerjaan di perusahaan milik Andre. Jadi dia harus membuat mood Andre bagus agar tidak membuatnya susah.
Di sisi lain Carlo merasa kesal karena Andre sepertinya menjauhinya atau menjaga jarak dengannya. Namun ia tidak mau menyerah begitu saja untuk mendapatkan perhatian dari Andre. Di perjalanan Andre dan Lucy masih dalam keheningan masing-masing, seakan-akan mereka baru saja bertengkar hebat. Lucy memberanikan diri untuk berbicara lebih awal dengan Andre.
"Ada apa? Kau masih ingin pergi jalan-jalan?" tanya Andre balik.
"Bukan begitu, aku hanya mau mendiskusikan sesuatu dengan mu. Tapi jika kau sibuk ya nanti-nanti aja setelah kamu ada waktu luang." ucap Lucy menjelaskan.
"Baiklah kalau begitu aku akan mampir sebentar di apartemen mu." ucap Andre.
"Tapi bukannya kamu bilang saat ini sangat sibuk?" tanya Lucy heran.
"Aku tidak sibuk untuk bersama dengan mu, tapi jika bersama orang lain aku benar-benar sibuk." ucap Andre memberikan alasan.
Lucy diam mendengar ucapan kekasihnya itu, dia bingung dengan cara berfikir kekasihnya.
"Mas, kamu gak suka dengan Carlo?" tanya Lucy langsung.
Andre menatap Lucy sesaat dan tersenyum simpul.
__ADS_1
"Aku bukan tidak suka dengannya, hanya saja aku menjaga jarak dengannya." ucap Andre memberitahu.
"Menjaga jarak? Kenapa kamu harus menjaga jarak dengan dia? Carlo itu sahabat terbaik ku." tanya Lucy heran.
"Karena dia sahabat mu lah aku menjaga jarak dengannya, bagaimana bisa aku menyamaratakan kedudukan mu yang sebagai kekasih ku dengan dia yg hanya sebatas sahabat mu." ucap Andre menjelaskan.
"Benar-benar aneh, kamu bahkan tidak membatasi dirimu saat bersama dengan Luna." gumam Lucy cemberut.
Andre mengerem mobil dan berhenti seketika, ia membuka seat belt dan membenarkan posisi duduknya yang kini menghadap ke arah Lucy.
"Apa kau cemburu dengan Luna?" tanya Andre langsung.
"S-siapa yang cemburu, aku hanya heran saja." ucap Lucy gugup.
Ia tak menyangka jika Andre mendengar gumaman nya.
"Lucy, aku dan Luna berteman semenjak kuliah. Itulah sebabnya aku dan dia cukup akrab dan lagi pula dia sering membantu ku mengerjakan pekerjaan di kantor." ucap Andre.
"Aku tau itu, hanya saja aku merasa dia menjadi saingan yang berat bagi ku." ucap Lucy.
Andre tersenyum melihat reaksi wanitanya itu, jelas terlihat di wajahnya jika saat ini ia sedang cemburu dengan Luna yang hanya sebatas teman kantor.
"Ya sudah ayo turun, mau seberapa lama kita di dalam mobil ini?" tanya Andre.
"Kita mau kemana? Bukannya kamu bilang mau mengantar ku pulang?" tanya Lucy.
Andre menunjuk sebuah gedung di hadapannya yang ternyata adalah apartemen Lucy. Lucy yang melihat itu langsung merasa malu, bisa-bisanya dia tidak menyadari jika mereka sudah tiba di apartemen.
Lucy mengikuti Andre yang terlebih dahulu turun dari mobil dan berjalan meninggalkan Lucy di mobil. Lucy mengejar Andre dengan berlari kecil, nampak wajah kesal Lucy kini menguasai seluruh raut mukanya. Lucy berhenti sejenak sambil mengatur nafasnya yang tersengal-engal.
"Dasar lelaki itu, selalu saja meninggalkan ku sendirian. Sepertinya dia menikmati kehidupan ini." ucap Lucy mengomel.
Kini Lucy berjalan di sebelah Andre, dan Andre tertawa kecil melihat Lucy yang sedikit tersengal-engal karena berlari mengejarnya. Andre menggenggam tangan Lucy sambil tersenyum manis kearahnya. Melihat akan hal itu Lucy langsung mengandeng tangan Andre dan bergelayut manja di lengan lelaki itu. Sudah cukup lama mereka tidak berjalan bersama seperti itu.
__ADS_1