
Andre mengantar Lucy pulang ke apartemennya dengan menggandeng tangannya. Lucy hanya tersenyum malu-malu melihat apa yang di perbuat Andre.
"Aku akan berusaha membuat mu melupakan masa lalu mu tuan. Terima kasih sudah mencoba membuka hati untuk ku." batin Lucy.
"Ada apa? Kau tersenyum sepanjang perjalananan pulang." ucap Andre penasaran.
"Tidak ada, aku hanya sedikit merasakan senang. Tuan apa anda yakin dengan ucapan anda tadi?" tanya Lucy serius.
"Apa kau kurang yakin akan ucapan ku? Haruskah aku melakukan sesuatu untuk membuktikannya?" Andre berbalik bertanya.
Lucy terdiam mendengar ucapan Andre. Tiba-tiba mukanya memerah dan terasa panas.
"Benar-benar bodoh, hal apa yang kau harapkan." batin Lucy sambil memukul kepalanya.
Andre tersenyum melihat tingkah laku Lucy. Setiba di apartemen Lucy, Andre membantunya membawakan belanjaan yang sudah mereka beli tadi.
"Aku akan meletakan ini di sini, sisanya kau bisa mengemasnya bukan?" tanya Andre sambil meletakan plastik belanjaan di atas meja.
"Ya, aku akan menyusun itu semua nanti. Apa anda mau di buatkan kopi?" tanya Lucy menawarkan.
"Tidak, aku akan segera kembali ke apartemen. Banyak pekerjaan yang menunggu ku, aku harus mengeceknya segera." ucap Andre serius.
Andre berjalan keluar dan di ikuti oleh Lucy dari belakang, entah mengapa ada rasa sedikit sedih terbesit di hati Lucy karena Andre pulang dengan cepat. Padahal biasanya juga Andre tidak pernah lama untuk mampir ke tempatnya.
"Aku akan menghubungi mu jika sudah sampai di rumah, jangan lupa menyimpan itu di kulkas dan yang lainnya." ucap Andre mengingatkan.
"Baiklah, aku akan mengingat semua yang tuan katakan." ucap Lucy tersenyum manis.
Lucy benar-benar memiliki sepasang mata yang indah, bola mata yang bulat dan bulu matanya yang lentik.
Tiba-tiba Andre mendekati wajah Lucy, dengan perasaan gugup Lucy menundukkan pandangannya sambil memejamkan matanya. Melihat itu, Andre tersenyum lucu melihatnya dan kembali berdiri normal.
"Aku pulang." ucap Andre.
__ADS_1
Lucy terkejut dan langsung membuka matanya, entah perasaan apa yang kini menyelimuti hatinya. Tapi ia benar-benar merasa kesal dengan perlakuan Andre yang mempermainkannya.
"Tuan, hati-hatilah di jalan." ucap Lucy.
"Apa seperti itu cara mu memanggil kekasih? Kau bukan pertama kali ini berpacaran kan?" tanya Andre penasaran.
"Aku... Aku tidak tau untuk memanggil anda dengan sebutan apa. Dan juga aku sudah terbiasa dengan panggilan itu." ucap Lucy beralasan.
"Tapi aku tidak menyukainya. Kau sudah menjadi kekasih ku, bukan pembantu ku atau pengasuh ku." ucap Andre.
"Jadi, apa kita juga harus mengganti panggilan? Aku masih belum memikirkannya." ucap Lucy polos.
"Panggil aku mas, itu sebutan untuk laki-laki di daerah kami." ucap Andre.
"Mas.... Apa tidak ada panggilan lain? Semua akan bingung jika aku memanggil mu dengan sebutan itu." ucap Lucy kurang setuju.
"Ya, aku tau di Paris tidak banyak mengetahui panggilan ini. Tapi setidaknya kau tau, dan hanya kau yang memanggil ku seperti itu di sini." ucap Andre.
"Aku akan memanggil mu dengan sebutan Dik, itu saja." ucap Andre singkat.
Lucy mengerenyitkan keningnya menandakan kalau ia tidak mengerti dengan yang di sebutkan oleh Andre.
"Apa kau tidak menyukainya?" tanya Andre.
"Tidak.... Aku tidak menyukainya. Lebih baik anda memanggil ku Lucy, aku lebih suka itu." ucap Lucy polos.
"Baiklah, jika kau tidak menyukainya. Aku tidak akan memaksa mu." ucap Andre sambil tersenyum dan mengusap kepala Lucy dengan lembut.
Lucy ikut tersenyum mendapati perlakuan dari Andre, ia benar-benar merasa bahagia saat ini karena telah diizinkan oleh Andre untuk menjadi kekasihnya. Walaupun saat ini Andre belum membalas cintanya, namun akan mungkin terjadi jika mereka selalu bersama.
"Baiklah, aku akan pulang. Kamu masuklah dan jangan tidur terlalu malam." ucap Andre.
"Ya, berhati-hatilah di perjalanan mas." ucap Lucy tersipu malu.
__ADS_1
Andre mendaratkan sebuah kecupan mesra di kening Lucy dan membuat Lucy terkejut. Jantungnya seketika berdebar sangat kencang seakan-akan keluar dari rongga dadanya. Pipinya terasa sangat panas dan membuatnya tidak mau mengangkat kepalanya karena menutupi wajahnya yang memerah.
Andre meninggalkan Lucy yang masih tertunduk malu, ia tak ingin membuat Lucy semakin malu. Melihat Andre yang semakin menjauh, Lucy segera masuk kedalam rumahnya dan menutup pintu apartemen. Ia bersandar di sebalik pintu sambil meletakkan kedua tangannya di dada.
"Oh tuhaaan, apa yang barusan ku lakukan? Aku tidak melihatnya pulang karena tersipu akan kecupan di kening ku. Dia mencium ku?" Gumam Lucy sambil tersenyum lebar.
Ia berlari kecil menuju meja makan dan membuka semua belanjaan yang tadi sudah di belikan oleh Andre untuknya. Sambil tersenyum-senyum malu ia memilah beberapa sayuran, buah dan daging. Ia memasukannya kedalam kulkas dengan tempat yang berbeda yang sebelumnya ia bersihkan terlebih dahulu.
Andre berjalan menuju parkiran mobil dan menghidupkan mobilnya. Ia bersiap untuk pulang ke apartemennya secepat mungkin karena harus menyelesaikan pengecekan pekerjaannya. Tiba-tiba ia teringat tentang apa yang barusan ia lakukan terhadap Lucy. Andre memejamkan matanya dan menyandarkan kepalanya ke sandaran mobil.
"Ahh, aku benar-benar sudah gila. Sejak kapan kau berani melakukan hal seperti itu kepada seorang gadis. Apa kau sudah tidak punya harga diri lagi?" gumam Andre.
Ia menghidupkan mesin mobilnya dan melaju melintasi jalan yang sudah di penuhi oleh bulir-bulir salju yang turun. Suasana natal sudah nampak hampir di sepanjang jalan kota Paris, ia tak menyangka harus melewati perayaan tahun baru tahun ini dengan wanita yang baru saja ia kenal.
"Aku harus terbiasa tanpa Tiara, dia sudah hidup bahagia dengan Zean. Dan tidak seharusnya aku mengusik rumah tangga mereka." gumam Andre menasehati diri sendiri.
Andre melajukan mobilnya dan berharap cepat tiba di rumah. Terlebih lagi, ia juga harus memberi kabar ke Lucy kalau dia sudah tiba di rumah. Tak butuh waktu lama, Andre tiba di gedung apartemennya dan memarkir mobilnya dan ia segera membuka ponselnya.
"Hy.... Apa kau sudah membereskan belanjaannya?" tanya Andre menelepon.
"Ya, aku baru selesai mengemas ini semua. Ini sangat banyak, aku akan memasaknya setiap hari." ucap Lucy di seberang telepon.
"Itu lebih baik dari pada kau mengkonsumsi mie instan. Jika sudah habis kita akan berbelanja lagi." ucap Andre.
"Apa anda sudah sampai di rumah?" tanya Lucy penasaran.
"Ya, aku baru saja sampai. Beristirahatlah, aku akan menyelesaikan pekerjaan ku." ucap Andre sambil membuka pintu apartemennya.
"Baiklah, jangan memaksakan diri untuk bekerja. Anda juga harus menjaga kesehatan." nasehat Lucy.
"Aku akan mengingatnya." ucap Andre tersenyum.
Baru kali ini ia mendapatkan perhatian spesial dari seorang gadis. Selama ini ia hanya memperhatikan cinta pertamanya tanpa memikirkan diri sendiri. Ia berharap Lucy dapat mengubah hidupnya jauh lebih baik lagi.
__ADS_1