
Carlo tak sengaja berpapasan dengan Lucy di koridor kantor, ia baru saja mengantar berkas ke ruangan Luna. Carlo memasang wajah senyum dan mencoba untuk menyapa Lucy yang sudah berapa hari ini menghindarinya.
"Hai Lucy, bagaimana kabar mu?" sapa Carlo tersenyum ke arahnya.
"Aku baik, bagaimana dengan kabar mu?" tanya Lucy singkat.
"Aku... Aku baik-baik saja, senang melihat mu hari ini. Bagaimana jika kita pergi akhir pekan ini, aku akan mentraktir mu." ucap Carlo basa-basi.
"Owh aku tidak bisa, karena Andre mengajak ku pergi ke taman hiburan akhir pekan ini. Aku tidak ingin melewati kencan kami, tapi jika kau ingin ikut bergabung dengan kami tidak apa." ucap Lucy berterus terang.
Carlo terdiam mendengar ucapan Lucy, dari nada bicara Lucy nampak betul bahwa dia sedang memamerkan hubungannya dengan Andre ke Carlo. Dan memastikan statusnya sebagai kekasih asli Andre.
"Ahh aku tidak tau, maafkan aku. Kalau begitu semoga kau menikmati akhir pekan mu bersama tuan Andre." ucap Carlo tersenyum kecut.
"Pasti, karena dia sudah memesan tiket jauh-jauh hari untuk mengajak ku ke sana." ucap Lucy sambil berlalu meninggalkan Carlo.
Carlo menahan emosinya mendengar ucapan Lucy yang semakin menyombongkan diri, ia harus bisa bersabar untuk mendapatkan perhatian dari Lucy lagi dan menghancurkan kecurigaannya kepada dirinya.
__________________
Luna dan Andre yang masih duduk membahas perjodohan tiba-tiba di datangi oleh Carlo yang memegang beberapa berkas di tangannya. Carlo merasa heran kenapa Andre bersama dengan Luna, dan sepertinya sedang membahas hal penting. Ia berniat untuk mendengarkan pembicaraan antara Luna dan Andre terlebih dahulu namun niatnya itu terhalang karena Luna yang menyadari kehadirannya.
"Ada apa nona Carlo? Apa ada yang bisa saya bantu?" tanya Luna dengan suara agak keras.
__ADS_1
"Ahh,,, saya ingin memberikan berkas-berkas ini untuk di tandatangani oleh tuan Andre." ucap Carlo gugup.
"Baiklah, kamu bisa meletakkannya di sini dan kembali ke ruang kerja mu." ucap Luna singkat.
Carlo melakukan apa yang Luna ucapkan dan segera pergi, namun ia sempat melirik ke arah Andre. Rasa penasaran membuncah dalam hati Carlo tentang apa yang di bahas oleh Luna dan Andre. Ia pun bersembunyi untuk dapat mendengar pembicaraan antara Luna dan Andre, dan ternyata pembicaraan itu masalah ibu tuan Andre yang sangat selektif dalam memilih calon istri bagi anaknya itu.
Pikiran Carlo pun berjalan dengan cepat, ia ingin memanfaatkan kedatangan ibu dari tuan Andre untuk memisahkan Lucy dan Andre. Secara dia sangat tau bagaimana seluk-beluk dari keluarga Lucy, dan yang jelas dia pasti akan mendapatkan kesulitan untuk mendekati ibu tuan Andre.
"Aku harus segera memberitahukan Boris akan masalah ini, aku harus memintanya untuk lebih sering memperhatikan anaknya itu. Saat Lucy sudah percaya sepenuhnya dengan Boris, dan ibu tuan Andre datang aku akan membuat Lucy kehilangan muka dengan cara menghasut Boris dan membuat dia benar-benar tidak dapat di terima oleh ibu tuan Andre. Ahh kau benar-benar pintar Carlo, walaupun kau tidak bisa mendapatkan Andre, setidaknya kau mempunyai kesempatan dengan tuan muda Leon. Dan aku akan membuktikan siapa aku yang sebenarnya di hadapan Lucy yang sudah di campakaan oleh Andre nantinya." gumam Carlo sambil tersenyum jahat.
Carlo menghubungi Boris sepulang kerja, mereka bertemu di sebuah cafe yang cukup terpencil agar tidak ada di antara Lucy maupun Andre yang dapat melihat mereka berjumpa satu sama lain.
"Ada urusan apa kamu memanggil ku ke tempat yang lumayan jauh ini? Apa kau merindukan ku setelah bersenang-senang dengan para lelaki kantoran itu?" tanya Boris dengan nada kesal.
Boris mengerutkan dahinya seperti tidak mengerti dengan apa yang di katakan oleh Carlo.
"Kenapa aku harus terburu-buru seperti itu? Mau bagaimanapun aku adalah ayah kandung dari Lucy dan dia harus terima itu." ucap Boris kesal.
"Kau benar-benar tidak mengerti, jika kau tidak bertindak cepat sebagai ayah yang baik di hadapan putri mu itu, bisa jadi dia akan melupakan mu dan sangat mudah bagi Andre untuk mendepak mu jauh dari kehidupan Lucy. Akhirnya, kau sama sekali tidak bisa mendapatkan apa-apa dari Lucy." ucap Carlo menghasut.
Boris mengangguk-anggukkan kepalanya sambil berpikir, apa yang di katakan oleh Carlo itu benar. Terlebih lagi Andre sudah berani mengancamnya dan untuk membuatnya pergi dari sini sangatlah mudah.
_____________________
__ADS_1
Luna merapikan meja kerjanya, ia terpaksa lembur hari ini dan pulang agak larut karena mempersiapkan schedule yang harus di lakukan oleh Andre sebelum ia cuti. Luna mematikan komputernya dan juga lampu di ruang kerjanya, ia melihat arlojinya yang sudah menunjukan pukul 22.35. Para karyawan sudah pada berpulangan hanya tinggal beberapa karyawan yang juga bersiap-siap akan pulang karena lembur.
Luna melangkahkan kakinya keluar gedung kantor, tiba-tiba matanya tertuju pada sesosok lelaki yang menyandar di sebuah mobil sedan berwarna silver tepat berdiri di depan pintu keluar kantor. Luna menyipitkan mata untuk memastikan sosok lelaki itu yang ternyata adalah Leon yang tersenyum lebar mengarah kepadanya.
"Hai, aku sengaja menjemputmu pulang." ucap Leon sambil melambaikan tangannya.
"Bagaimana kau tau jika aku lembur dan pulang jam segini?" tanya Luna.
"Aku hanya bertanya pada scurity kantor, memastikan kau sudah pulang dari tadi atau belum. Saat mereka mengatakan bahwa kau lembur, aku berinisiatif untuk ke sini. Baiklah, ayo ku antar kau pulang." ajak Leon.
Luna tersenyum mendengar ucapan Leon, ia memang selalu berusaha mendekatinya selama ini. Luna duduk pas di sebelah Leon yang sudah memegang kemudi, ia pun memasang seat belt.
"Baiklah, ayo antar aku pulang." ucap Luna setelah memasang sabuk pengamannya.
"Apa kau tidak ingin makan malam terlebih dahulu? Ahh ini sudah lewat jam makan malam, kau pasti menolaknya dengan alasan takut gemuk dan tida sehat untuk makan jam segini." ucap Leon sambil melihat arlojinya.
"Kau bahkan menjawab pertanyaan mu sendiri dan tidak memberi ku kesempatan untuk menjawabnya. Bagaimana kau tau jika jawaban ku itu? Bagaimana jika sebaliknya?" tanya Luna sambil tertawa.
"Nona Luna, kau adalah wanita yang selalu mengandalkan penampilan dan sangat memperhatikan kesehatan tubuh mu. Dan juga ini buka kali pertama aku mengajak mu untuk makan malam, dan kau selalu menolaknya." ucap Leon.
"Baiklah tuan Leon, kau benar akan hal itu. Tapi saat ini aku benar-benar lapar dan ingin makan yang banyak, suasana hatiku benar-benar kacau hari ini." ucap Luna sambil tersenyum manis.
Leon menatap Luna tak percaya, ini pertama kalinya Luna menerima tawarannya untuk makan malam bersama. Selama ini mereka bisa makan bersama jika Andre yang mengajak terlebih dahulu. Dan di mata Luna hanya ada Andre tanpa melihat ke arahnya sedikitpun, Leon langsung menancapkan gasnya menuju sebuah restoran.
__ADS_1